Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya (foto: Historia.id)

Kerajaan Sriwijaya, Dengan 6 Peninggalan

Diposting pada

BumiPanritaLopi, Budaya – Kerajaan Sriwijaya Merupakan kerajaan yang memiliki catatan sejarah kejayaan. Membicarakan tentang sejarah memang menarik. Termasuk mencari apa saja yang tertinggal dari sebuah kerajaan untuk terus kita buka cerita asal-usulnya.

Di balik peristiwa yang terjadi pada masa itu. Benda peninggalan menjadi saran untuk lebih mengenal kebudayaan dan gambaran sejarah kala itu.

Termasuk sejarah yang akan di ulas dalam artikel ini yaitu peninggalan kerajaan sriwijaya. Siapa yang masih ingat?

Sriwijaya merupakan kerajaan memiliki ciri khas bercorak buddha di perkirakan telah berdiri sejak abad ke-7 masehi.

Sriwijaya suatu kerajaan di sumatera selatan yang mempunyai pengaruh besar di wilayah nusantara.

Konon pada masa kejayaan kerajaan sriwijaya terkenal mampu menguasai perdagangan di wilayah Sumatera, Jawa, Pesisir Kalimantan, Semenanjung Malaya hingga negara lain seperti Thailand dan Kamboja.

Baca juga: Suku Pelaut, Penakluk Ulung Lautan, Perahu Pinisi Melegenda Hingga Ke Manca Negara

Peninggalam Kerajaan Sriwijaya

Benda- benda peninggalan pada masa kerajaan sriwijaya merupakan saksi bisu, bukti nyata bahwa kerajaan ini pernah berjaya dalam kemaritiman nusantara. Peninggalan kerajaan sriwaya berupa prasasti dan candi-candi, yuk simak di berikut ini:

Prasasti Kota Kapur

Benda peninggalan kerajaan sriwijaya ini di temukan di Pulau Bangka bagian barat yang di tulis memakai bahasa Melayu Kuno dan Aksara Pallawa.

Prasasti kota kapur pertama kali di temukan oleh J.K Van der Meulen pada tahun 1892 dengan isi yang menceritakan sebuah kutukan bagi orang yang melanggar perintah dari Raja Sriwijaya.

Prasasti Ligor

Sebagaimana Prasasti ini di temukan oleh Nakhon Si Thammarat di Wilayah Thailand bagian barat. Uniknya Prasasti Ligor memiliki pahatan di kedua sisinya.

Pada bagian pertama yang dinamakan Prasasti Ligor A atau manuskrip Viang Sa, menceritakan raja sriwijaya paling berkuasa dari semua raja di dunia.

Yang didirikan oleh Trisamaya Caitya untuk kajara.

Sementara untuk di sisi satunya yaitu prasasti ligor B terdapat angka tahun 775 dan memakai aksara Kawi yang menceritakan tentang Visnu.

Dengan memiliki gelar Sri Maharaja dari keluarga Sailendravamsa. Visnu juga terkenal dengan sebutan lainnya Sesavvarimadavimarthana berarti pembunuh musuh yang sombong hingga tak tersisa.

Prasasti Palas Pasemah

Benda ini di temukan di pinggiran rawa Desa Palas Pasemah di Lampung Selatan. Tulisan lampung memakai bahasa Melayu Kuno aksara Pallawa yang terdapat 13 baris tulisan, menceritakan kutukan dari orang yang tidak tunduk dengan perintah Sriwijaya.

Prasasti Palas Pasemah ada pada abad ke-7 Masehi bila di lihat dari tulisan aksara.

Prasasti Hujung Langit

Selanjutnya, Prasasti ini dari Kerajaan Sriwijaya di temukan Desa Haur Kuning yang di tulis dengan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa.

Isi prasasti hujung langit tidak terlalu jelas di sebabkan kerusakan yang cukup banyak dan prasasti ini di perkirakan berasal dari tahun 997 Masehi. Namun isinya tentang pemberian tanah Sima.

Prasasti Telaga Batu

Penemuan prasasti ini di kolam Telaga Biru di Kota Palembang tahun 1935. Isinya tentang sebuah kutukan bagi mereka yang berbuat jahat di kedaulatan Sriwijaya.

Pada bagian prasasti telaga batu terdapat hiasan 7 buah kepala kobra dan di bagian tengah ada sebuah pancuran tempat mengajirnya air pembasuh.

Terdapat sebuah 28 baris tulisan dengan huruf Pallawa yang memakai bahasa Melayu Kuno.

Tulisan secara garis besar menceritakan kutukan untuk mereka berbuat kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak mematuhi perintah dari datu.

Prasasti Kedukan Bukit

Pada tanggal 29 November 1920 oleh M. Batenburg di Kampung Kedukan Bukit Palembang, Sumatera Selatan di temukan prasasti kedukan bukit di tepi sungai tatang yang mengalir ke Sungai Musi.

Tulisan terdapat pada prasasti kedukan bukit memakai bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa. Yang menceritakan seorang utusan dari Kerajaan Sriwijaya yakni Dapunta Hyang pada waktu itu mengadakan Sidhayarta atau perjalanan suci menggunakan perahu.

Selama perjalanan tersebut, beliau di dampingi 2000 pasukan dan berhasil menaklukan beberapa daerah lainnya.

Sumber lain: Studiobelajar

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *