Penikahan Konjo, Bugis dan Makassar Dengan Istilah

Pernikahan Khairul
Pernikahan antara Khairul (Bulukumba) Dengan Reny Septiani (Kepri)

Dalam hal pernikahan terdapat beberapa istilah penting, meskipun memiliki makna yang sama, namun penyebutan yang berbeda.

Bumipanritalopi.com, Budaya, setelah artikel dengan judul Assuro Bagi Orang Bulukumba, Syarat Dan 3 Trik. Maka dalam tulisan ini kembali akan kita bahas mengenai Istilah dalam hubungan dengan pernikahan di Bulukumba dan Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Beberapa kata yang sinonim berikut ini, dalam sebuah proses dan penyebutannya berbeda antara satu suku dengan suku yang lain.

Selama ini, kadang orang Makassar (konjo) menggunakan bahasa Bugis. Begitupun sebaliknya orang Bugis menggunakan bahasa Makassar (konjo) di Bulukumba untuk sebuah maksud.

Untuk membedakan maka berikut beberapa kata yang penting untuk kamu ketahui, apalagi jika hendak melamar orang dari kawasan kami ini.

Istilah Dalam Pernikahan di Bulukumba

Untuk memudahkan anda, maka kami akan membedakannya menjadi beberapa segmentasi, sebelum pernikahan, menjelang (saat pernikahan) dan setelah menikah.

Oyyah, dalam pembagian Konjo dan Bugis, jika yang kamu lamar orang Bumi Panrita Lopi, maka harus kamu ketahui, kawasannta masing-masing:

  1. Kawasan Konjo Mayoritas: Kajang, Herlang, Bontotiro, Bontobahari,
  2. Kawasan Bugis Mayoritas: Bulukumpa, Rilau Ale.
  3. Area Kawasan Transisi Dengan dua Bahasa: Ujungloe, UjungBulu, Gantarang dan Kindang.

Meskipun demikian, pada daerah manapun anda berada, misalnya pada kawasan Bugis memakai bahasa Konjo, maka orang bugis pada kawasan tersebut memahami artinya. Begitupun sebaliknya.

Menikah Bagi Orang Bulukumba
Wajah Cantik Pengantin Bugis Makassar

Kembali kepada tujuan penulisan ini untuk mengetahui istilah yang berkaitan dengan perkawinan.

Istilah Saat Melamar

Saat melakukan lamaran, maka beberapa hal yang menjadi istilah penting untuk kamu ketahui, agar memahami budaya pada kawasan dengan Adat Ammatoanya yang kental (Khusus di Kajang).

Penelusuran

Penelusuran adalah mencari tahu kejelasan wanita yang akan di lamar. Tentang status dan idenditasnya sebelum lamaran. Terutama apakah dia berstatus dipinang oleh orang lain atau tidak.

Biasanya kegiatan ini, seperti intel. Tidak memperjelas maksud, sekedar bertanya. Adapun istilahnya:

  1. Bugis: Ma’manu’-manu’,
  2. Konjo/Makassar: A’jangang-jangang,

Dalam proses ini tidak membahas, niat melamar. Belum sampai kesitu. Tapi beberapa pertanyaan yang kemungkinan akan dikeluarkan oleh yang ma’manu’-manu (a’jangang-jangang).

Katakanlah nama ceweknya Widya, maka saat penelusuran, pihak penelusur akan bertanya:

  1. Widya umur berapa tahun?
  2. Sekarang Widya kerja dimana?
  3. Widya dulu kuliah dimana?
  4. Apakah Widya telah dipinang oleh orang lain? Atau pernah menikah?

Sebenarnya inti pertanyaan ada pada nomor 4. Sebab pertanyaan 1 hingga 3 adalah pertanyaan normatif.
Setelah jawaban nomor 4, Tidak (ia tidak dipinang lelaki lain) maka akan masuk dalam fase berikutnya.

Mempertegas

Mempertegas status maksudnya adalah membreakdown beberapa pertanyaan yang berhubungan dengannya. Misal tidak dipinang orang lain atau dalam posisi sendiri.

Bisa lanjut dengan pertanyaan, apakah pernah menikah? Statusnya Perawan atau Janda.

Adapun istilah mempertegas dalam penyebutannya adalah:

  1. Konjo/Makassar : Angngulingi, sirekengi
  2. Bugis: Mappasirekeng

Biasanya pada fase ini, mulai menyebutkan siapa (nama) lelaki yang tertarik mempersunting Widya. Dan sebaliknya juga memperjelas identitas lelaki tersebut.

Selanjutnya, biasanya pihak wanita mencaritahu (masa dulu). Asal muasal dan keturunannya. Hal ini untuk mengetahui aliran darah dan kesepadanan dengan pihak wanita. Meskipun budaya ini sudah mulai pudar seiring zaman.

Melamar

Istilah yang berkaitan dengan lamaran adalah:

  1. Konjo: Assuro,
  2. Bugis: Madduta.

Nah, saat melamar merupakan kesepakatan, apakah pihak wanita menerima kehadiran pihak lelaki untuk melamar. Maksudnya, tadi ada prosesi mencaritahu identitas lelaki. Jika pihak wanita (zaman dahulu kala), merasa tidak sesuai dengan kriteria (terutama keturunan). Maka biasanya pembicaraan tidak sampai pada kesepakatan kapan hari H untuk melamar.

Tradisi Pernikahan Dengan Rias Pengantin
Tradisi Pernikahan dan Rias Pengantin Bulukumba

Dengan beberapa alasan. Akan tetapi buat kamu yang berasal dari luar Bulukumba melamar gadis di kawasan ini. Jangan ragu, silahkan lanjut, sebab identitasmu jauh untuk dideteksi. Intinya prilaku dan etikamu bagus, Insya Allah kamu akan mendapat tempat kapan hendak melakukan pelamaran.

Penentuan Hari Pernikahan

Setelah kesepakatan lamaran dan proses Mappasirekeng (angngulingi). Telah tuntas, maka hal yang penting adalah penentuan Hari H Pernikahan dan Resepsi.

Penyebutan penentuan waktunya:

  1. Mappettuada’ (Bugis)
  2. Appa’nassa (konjo).

Penentuan hari tersebut bisa pada saat hari pelamaran, maupun kemudian hari. Yang paling inti pada lamaran adalah berapa Uang Panai (belanja) dan apa Sunrang (Mahar).

Sirih Pinangan

Selanjutnya adalah membawa uang belanja atau sirih pinangan, dengan penyebutan:

  1. Appnai’ Leko’ (konjo),
  2. Mappaenre’ balanca (Bugis).

Biasanya dengan penentuan hari khusus untuk membawa uang belanja kepada calon pengantin wanita. Pada prosesi ini. Bisa dengan menyerahkan semua uang belanja atau hanya sebagian. Tergantung kesepakatan.

Maka jika ada sisi uang belanja, akan dimasukkan kekurangan tersebut dalam pangembangang. Akan tetapi jika telah menyerahkan semua uang belanja dan sebagainya. Maka yang masuk dalam pangembangang adalah kwitansi atau keterangan kedua belah pihak.

Istilah Persiapan Pernikahan

Saat semua prosesi lamaran dan penentuan hari telah selesai, maka selanjutnya kedua keluarga adalah menentukan (membuat) undangan kepada keluarga. Untuk datang dalam pernikahan.

Maka berikut ini beberapa prosesi yang berhubungan dengan pernikahan dalam rangkaian budaya di Kabupaten Bulukumba.

Mandi Uap

Dulu, kebiasaan ini banyak kita temukan, namun sekarang perlahan mulai pudar. Adapun mandi uap ini adalah:

  1. Mappesau (Bugis)
  2. A’barumbung (Makassar),
    Sahatu, Nisaung (Konjo).

Sebuah proses dengan memanaskan air dengan batu yang panas, dan menghasilkan uap. Dengan menggunakan sarung. Posisi bahan ini dibagian bawah, sehingga uap masuk kedalam sarung tersebut.

Apakah prosesi ini bisa kita gantingan dengan mandi uap di tempat-tempat sauna?

Maka jawabannya adalah tidak. Sebab beda prosesnya.

Siraman

Biasanya pada hari yang sama saat mandi uap adalah dengan melanjutkan pada prosesi siraman yang kta kenal dengan istilah:

  1. Maccemme Botting (Bugis)
  2. Appasili Bunting (Makassar)
    Anrio Bunting (Kojo)

Apapun penamannya, jenis kegiatan ini adalah memandikan pengantin. Dengan berbagai ramuan dan campuran dedaunan.

Memandikan pengantin ini ada dua, yakni mandi sebelum menikah (tunggal) dan mandi setelah menikah (berdua) setelah prosesi resepsi pernikahan.

Mencukur (Bulu Halus)

Tidak hanya mencukur rambut bagi calon pengantin pria, tapi juga bagi pengantin wanita adalah mencukur bulu halus pada dirinya.

Prosesi ini kita kenal dengan sebutan:

  1. Bugis: Macceko
  2. Makassar: A’bubu
    Konjo: Accukkuru.

Ini dilakukan secara mandiri (untuk bulu halus). Kan ribet kalau bulu halus harus meminta tolong untuk di cukur bukan?

Khatam Quran

Selanjutnya adalah prosesi Khatam Quran. Sebenarnya kalau mau jujur, ini tidak selamanya khatam satu Al Quran. Akan tetapi memiliki makna yang berbeda.

Secara filosofi, proses ini adalah untuk mengetahui tingkat bacaan Al Quran seseorang. Sebagaimana Bulukumba dengan nilai agamanya yang lebih terkonsentrasi.

Istilah Khatam ini dalam pernikahan, sama dengan:

  1. Mappatemme’ (Bugis)
  2. Appatamma’ (Makassar/Konjo)

Seorang calon pengantin duduk dihadapan guru mengaji. Untuk membacakan Ayat Suci Al Quran (sehari sebelum menikah) dirumah masing-masing.

Malam Pacar

Nah ini yang paling sering kita dengar, dengan sebutan:

  1. Mappacci (Bugis)
  2. Akkorong Tigi (Makassar)
    A’ba’ra’ Bunting/leko’ caddi (Konjo)

Banyak orang Makassar (Konjo) bahkan tidak mengetahui istilah ini. Sebab memang kenyataannya orang hanya mengenal kata Mappacci.

Malam Pacar atau Mappacci Akkorong Tigi
Mappacci/Akkorong Tigi

Adalah sebuah prosesi dengan beberapa bahan dalam satu tempat untuk ditempatkan pada jemari dan wajah calon pengantin.

Ini terjadi pada malam hari dengan kondisi calon pengantin telah memakai baju pengantin. Prosesi ini adalah prosesi keluarga untuk memberikan restu kepada pengantin atas pernikahan yang akan berlangsung (besok hari).

Akad Nikah

Acara utama atau inti adalah akad nikah dalam istilah kita kenal dengan:

  1. Menre Botting (Bugis)
  2. Assimorong (Makassar)
    Angada’ Bunting (Konjo)

Suatu prosesi menuju masa untuk menikah. Sebagaimana ini merupakan proses memeriksa seluruh kelengkapan adat. Bagi orang Bulukumba, saat ini adalah pemangku adat dan pemerintah serta keluarga duduk dalam satu tempat.

Menerima pengantin pria dan utusan, berupa perlengkapan adat (akan kita bahasa pada tulisan lain).

Nikah

Setelah seluruh proses pemeriksaan kelengkapan nikah, maka selanjutnya adalah Ijab Kabul, bagi kawasan ini mengenal dengan istilah dalam pernikahan dengan:

Bugis (Botting)
Makassar/Konjo (Bunting).

Pernikahan Antar Daerah Bulukumba dan Kepri
Pernikahan antar daerah Bulukumba (Sulsel) dengan Kepulauan Riau (Foto: Nursaeha Dok)

Sebagaimana biasanya pernikahan dengan prosesi Islami. Menjadi bagian dari budaya pada daerah tersebut.

Sungkeman

Prosesi ini merupakan masa setelah menikah, dalam sinonim bahasanya adalah:

  1. Makassar/Konjo : Appala’ Popporo’/Angngera Popporo’
  2. Bugis: Mellau Addampeng

Dalam pelaksanaan sungkeman ini, maka secara berurut:

  1. Kedua Orangtua,
  2. Saudara (Kakak atau adik)
  3. Saudara dari Ayah dan Ibu berserta Pasangan,
  4. Sepupu dari Ayah dan ibu.

Oleh karena banyaknya (jumlah) maka biasanya mereka menggunakan perwakilan. Perwakilan saudara ayah dan Ibu. Perwakilan sepupu.

Menjamah

Menjamah maksudnya adalah menyentuhkan antara pengantin pria dan wanita. Dalam proses ini kita kenal dengan penyebutan:

  1. Makassar/Konjo: Appabajikang
  2. Bugis: Mappasikarawa

Dengan bimbingan dari keluarga dan orang yang paham mengenai cara ini, maka pengantin pria masuk kedalam kamar tempat wanita menunggu.

Duduk Pengantin

Setelah prosesi pernikahan, maka selanjutnya adalah menerima tamu atau resepsi dengan menerima tamu yang datang.

  1. Bugis; Tudang Botting
  2. Makassar: Mempo Bunting
    Konjo : Accidong Bunting

Sebagaimana mereka (pengantin) duduk pada pelaminan dengan kdua orang tua pada sisi kiri dan kanan. Menerima dan bersalaman dengan seluruh undangan.

Pelaminan

Pelaminan merupakan tempat untuk duduk penganti setelah perkawinan. Dalam membedakan istilahnya, kita kenal dengan:

  1. Lamming (Bugis dan Makassar)
  2. Passandingang (Konjo)

Ngunduh Mantu

Ngunduh mantu adalah proses mengambil pengantin wanita (tempat menikah) ke rumah pengantin pria, dengan penyebutan:

  1. Mapparola (Bugis)
  2. Allekka Bunting (Makassar)
    Appainro Bunting (Konjo)

Uang Mahar dan Panai

Ini telah terbahas pada tulisan dengan judul Assuro Bagi Orang Bulukumba. Silahkan saja untuk melengkapi pemahaman mengenai pernikahan pada daerah ini.

Daftar Istilah Lain Tentang Perkawinan Di Bulukumba

Selain dari yang telah kita sebutkan sebelumnya, berikut ini beberapa istilah lain dan penting saat perkawinan di Butta Panrita Lopi.

Seserahan Pernikahan

Seserahan adalah benda berupa makanan ataupun akseseoris (pakaian) untuk pengantin wanita maupun pengantin pria.

Istilah kita kenal dengan:

  1. Makassar/Konjo: Erang-Erang
  2. Bugis: Tiwi-tiwi

Dalam budaya Bulukumba yang mereka bawa sebagai erang-erang adalah sarung. Namun seirng perkembangan zaman. Mereka telah melakukan adaptasi mengenai seserahan ini.

Perias Pengantin

Selanjutnya yang bertugas untuk memberikan corak dan keindahan wajah dan pakaian pengantin adalah tugas dari:

  1. Indo Botting (Bugis)
  2. Anrong Bunting (Makassar/Konjo)

Atau kita kenal adalah perias pengantin.

Gapura Anyam

Hal yang tidak bisa kita lupakan saat perkawinan adalah gapura anyam. Yakni gapura dengan anyaman khusus. Yang merupakan bagian penting pernikahan.

  1. Walasuji (Bugis)
  2. Lasugi (Makassar)
  3. Sapana (Konjo).

Terbuat dari anyaman bambu dengan metode kotak (eppa sulapa). Merupakan ciri khas dari kawasan Bugis Makassar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.