Pengorbanan Seorang Ayah
Ilustrasi: Pengorbanan Seorang Ayah Untuk Anaknya (Foto: Zero Promosi)

Pengorbanan Yang Tak Terbalaskan, Kisah Pilu Kepergian Sang Ayah

Diposting pada

Bumipanritalopi.com, Budaya – Dalam hidup kadang melakukan pengorbanan atau pengabdian untuk melakukan yang terbaik, baik ia sebagai ayah maupun sebagai ibu untuk anak dan keluarganya.

Malam yang cerah dengan iringan angin sepoi-sepoi menambah semarak pada pertemuan itu.

Seorang yang sedang bingung karena rasa sakit yang tak tahu asal muasalnya, menambah haru yang terpancar di raut mukanya.

Suara rintih pertanda gundah gulana akan sebuah kabar penyakit yang deritanya tersingkap sudah.

Penyakit jantung yang selama ini membuat sesak dan sakit di dada  sebelah kirinya.

Maksud hati membuat iba sang buah hati terhapus sudah, tatkala rasa curiga akan kebenaran penyakit yang dia deritanya terlontar jua.

Apa daya suratan takdir yang menyertainya tak kunjung menjadikan bakti dari sang buah hati bertambah.

Pengorbanan atau Pengbadian

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tanda-tanda akan penyakit yang dia deritanya nampaklah sudah.

Kaki bengkak, badan membesar, mata mulai tertutup oleh luka lecet akan bengkak pipinya, menambah pilu di hati. Sebuah pengorbanan atas sakitnya.

Bagi siapapun  tak kuasa melihatnya. Pengorbanan ayah yang berat melawan sakit dalam tubuhnya.

Tak ada hajat besar yang ia harapkan, hanya ingin dia kasihi, bukti bakti dari sang buah hati.

Ketika tak ada sandaran dan harapan semenjak sang pujaan hati berbaring lemah karena sakit yang dia deritanya.

Akhirnya, kesepakatanpun terlontar sudah, di rawat di rumah sakit adalah jalan keluar atas penyakit yang dia deritanya.

Namun apa di kata, tak nampak itikad untuk mengurusi persiapan menuju rumah sakit, karena keterbatasan biaya.

Asuransi kesehatan  kala itu menjadi solusi, namun rasa acuh dari sang buah hati memperlambat kepergiannya ke rumah sakit.

Ayah Berkorban Untuk anak
Ilustrasi Pengorbanan Ayah Untuk Memberikan Yang Terbaik Buat Anaknya (Foto: Tulisanku)

Karena kartu asuransinya tak kunjung selesai. 

Saling menyalahkan satu sama lain menjadi penghiasi di atas rasa sakit yang tak tertahankan.

Sampai akhirnya, kartu asuransi kesehatan yang dia nanti-nanti pun selesai di buat melalui biro jasa. Pengorbanan waktu untuk menunggu.

Rasa senang tersirat di raut muka pria paruh baya berumurkan 71 tahun kala itu, akan sebuah harapan untuk kembali sehat seperti sediakala menambah semangat.

Menuju Pengharapan sebuah Kesembuhan

Hari itu, adalah hari di mana penantian akan sebuah pengaharapan telah tiba.

Badan lemah dan sakit sekujur tubuh tak menghambat untuk menggapai sebuah kesembuhan.

Sebuah topi hitam yang usam, kemeja yang lusuh serta celana olah raga ia kenakan.

Sebuah tongkat ia pegang di tangan sebelah kanan, mulailah ia berjalan menuju sebuah kendaraan yang siap menghantarkan ke rumah sakit yang di tuju. 

Rasa kaku karena cairan yang menyelimuti sekujur tubuhnya sudah semakin banyak menghambat langkahnya, hingga akhirnya ia mendapatkan bantuan.

Tak ada yang istimewa dan tak seperti biasa layaknya melepas seorang yang dia cintai dan dia muliakan.

Namun hari itu merupakan awal dari sebuah kisah pilu yang tidak akan pernah terbayangkan oleh siapapun.

Menunggu Kamar Kosong Di lobi UGD

Tibalah di rumah sakit, para petugas medis yang telah menunggu di lobi ruang UGD  menyambutnya, perlengkapan medis siap untuk dipasang.

Dengan mengandalkan kartu jaminan kesehatan, rasa cemas semakin menjadi melihat kondisi sang ayah terkulai lemah dengan mata terpejam tanda nyaman mengitari yang tak pernah ia dapatkan selama di rumah. Pengorbanan perasaan kembali ia harus lalui.

Suara telpon berbunyi, panggilan pulang dari sang istri kala itu menandai episode perjalanan baru sang ayah.

Pesan singkat dari sang istri bahwa nanti akan ada yang menggantikan untuk menunggu membersamainya.

Tepat pukul 10.00 wib pun tiba waktunya, yang menggantikan sudah tiba di UGD.

Saya berkemas untuk pulang ke rumah.

Beberapa jam menunggu akan kepastian ketersedian kamar kosong rawat inap pun terjawab sudah.

Jam menunjukan pukul 23.00 WIB ayah di bawa ke lantai 2 No 15 bersama dengan beberapa pasien yang sudah mendahuluinya.

Rasa senang dan haru akan kesembuhan ayah pun mengeruak di dalam jiwa.

Namun rasa tenang dan nyaman yang di rasakan ayah berbanding terbalik dengan kondisi di rumah. 

Tidak nampak sediktpun rasa syukur dari sang buah hati, mereka mempertaruhkan keambisiusan dan rasa ego ketimbang rasa hormat dan bakti kepada orang tuanya.

Siapa Yang Menjaganya?

Pengorbanan anak untuk ayah, sudah seharusnya. Namun Mereka di sibukkan dengan hal sepele yang yang tak biasa di alami oleh seorang anak kepada ayahnya yaitu SIAPA YANG AKAN MENUNGGUNYA DI RUMAH SAKIT

Namun, Tidak sedikitpun rasa rela untuk menjaga ayah di rumah sakit, argumentasi silih berganti, mereka berpibikir bahwa pengorbanan waktu untuk ayah hampir tak mereka miliki. Mereka utarakan alasan hanya sebatas untuk melampiaskan rasa kesal yang selama ini mereka pendam. Karena sikap keras ayah yang sesekali dia lontarkanya waktu dulu.

Derai air matapun bercucuran dari seorang ibu yang menunggu kepastian kesembuhan sang suami yang terkulai lemah di rumah sakit

Anak Yang Angkuh

Menyaksikan keangkuhan dari anak-anaknya yang bukan hanya tak peduli tapi sudah menyayat hati. Baginya sebagai ayah, inilah waktu pengorbanan seeorang ayah.

Hingga akhirnya di buatlah jadwal giliran untuk menjaga sang ayah di rumah sakit.

Hanya handphone yang menjadi pusat perhatian menjadi teman terbaik untuk menghilangkan penat selama di rumah sakit. Ayah dia biarkan sendiri merasakan sesak di dada karena selang oksigen yang terpasang di hidungnya sesekali melorot ke bawah.

Hari berganti hari kisah pilu yang terlontar di rumah semakin menambah luka menyayat hati, setelah silih berganti menceritakan pengalaman selama menunggu di rumah sakit.

Ayah di gambarkan sosok orang yang tidak bisa di atur, tidak mau makan, keras kepala, hanya membuat malu anak-anak, dan tidak mau pulang ingin terus di rawat padahal biayanya mahal.

Semakin kita perhatikan tidak ada citra positif dari ayah bagi anak-anaknya.

Hingga suatu malam, ayah di biarkan sendiri tak ada yang menunggunya padahal tak cukup alasan untuk memperlakukannya seperti ini. 

Sang buah hati tidur pulas di rumah masing-masing menaruh beban atas penderitaan ayah yang sekarang terkulai lemah menunggu kepastian akan kesembuhan.

Tak sedikit keluarga dari pasien lain menaruh iba melihat kondisi ayah yang di perlakukan tak ayal seperti “sampah” oleh sang buah hati.

Ketika pasien lain mendapatkan kasih sayang dari anak-anaknya yang menunggu dan mendampingi atas kesembuhannya.

Sosok Laki-laki Pekerja Keras

Sedangkan ayah menyimpan haru di dada, rasa sakit menyayat hati melebihi rasa sakit jantung yang di deritanya. Pengrobanan pikiran untuk anaknya adalah sebuah pengabdian.

Cukuplah Allah yang menyaksikan akan peristiwa yang tidak akan pernah dia harapkan oleh seorang ayah dari sang buah hatinya.

Ayah adalah sosok lelaki yang sempurna dari tanggung jawab dan perannya sebagai kepala keluarga.

Rasa capek yang mengitarinya tak cukup alasan untuk tidak bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarganya.

Prinsif hidup memegang harta yang halal bagi kelurganya sudah mendarah daging.

Hampir seluruh sisa hidupnya, ia gunakan untuk bekerja dan mengurus ibu yang sejak 15 tahun lamanya sakit.

Tak sedikitpun ia berharap akan balasan dari siapapun, cukuplah Allah tempat segala tujuan.

Tak ada yang salah dari sikap ayah kepada anak-anaknya,  sikap kerasnya masih dalam kewajaran layaknya orang tua kepada anaknya.

Namun Menjadi Sebab Bagi Anak-anaknya

Ketika penyakit ibu kambuh tak ada seorang anakpun yang tidak mengambil peran kecuali semua terlibat tanpa rasa berat. Tidak memikirkan seberapa besar biaya yang dia keluarkan pasti akan dia penuhi untuk kesembuhannya. Pengorbanan ibu pada masa lalu adalah tinggal kenangan.

Sorak sorai dari anak-anaknya terdengar sudah, sebagai penawaran akan sakitnya ibu.

Namun berbeda dengan ayah, ketika sakit dia biarkan membisu di salah satu bagian rumah yang keberadaannya sudah tidak dia gunakan lagi.

Ayah dia biarkan sendiri menahan rasa pedih akan penyakit dan perlakukan sang buah hati.

Tak ada satupun anak yang menghampirinya mengajak untuk bercengkrama melepas rindu. 

Suara rintihan kesakitan sesekali ia lontarkan tak sedikitpun membuat belas kasihan sang buah hati muncul.

Panas di dada terpicu oleh asam lambung yang naik.

Bukan karena tidak ada makanan, melainkan makanan yang di berikan  tak layak untuk dimakan oleh seseorang yang menderita penyakit jantung.

Pulang Ke Rumah

Seminggu lamanya di rawat di rumah sakit, kondisinya semakin membaik.

Cairan yang berada pada sekujur tubuhnya sudah semakin sedikit, keluar melalui kateter yang terpasang di alat vitalnya.

Dokterpun membolehkan untuk pulang ke rumah, untuk mendapatkan perawatan secara mandiri.

Rekap medis, obatan-obatan dan jadwal cek up sudah di kemas untuk di bawa pulang.

Pengalamannya selama di rumah sakit, ia sampaikan kepada siapapun yang melayadnyadnya.

Kian hari kian membaik kondisinya, namun rasa sakit dan sesak di dada sesekali masih terasa.

Keraturan dan kedisiplinan memakan obat dan menjaga asupan makanan adalah kunci dari kesembuhan penyakit jantung yang ia derita.

Melihat ayah sudah pulih tak sedikitpun rasa ingin menjaga muncul dari sang buah hati.

Ayah dia biarkan sendiri untuk melakukan recovery.

Jadwal Cek-up

Tibalah l cek-up yang sudah terjadwalkan.

Jam menunjukan pukul 4.30 WIB selepas adzan dan shalat subuh ia bergegas sendiri menuju rumah sakit tempat ia di rawat.

Melalui antrian panjang, menunggu giliran ia lalui, dengan harapan kesembuhan bisa ia raih.

Tak ada yang menemani, dan tak ada yang memperhatikan akan keselamatan dirinya. Walaupun dalam kondisi yang masih sakit.

Nomor antrian pemeriksaan akhirnya ia dapatkan.

Kondisi lemah dan lemas pasca antrian membuat dirinya tak kunjung untuk bergegas pulang. Dan kembali lagi nanti sore untuk pemeriksaan.

Jam menunjukan pukul 19.00 WIB. Tanda-tanda akan kepulangan dirinya ke rumah tak kunjung tiba.

Tak ada sikap serius yang dia tunjukan oleh sang buah hati, untuk mencari tahu kenapa belum pulang, atau inisiatif menjemputnya dari rumah sakit.

Silang pendapat mewarnai kepedihan sang ayah yang sedang menanti sendiri di rumah sakit, di barengi oleh gerimisnya hujan menambah haru malam itu.

Sang buah hati tak kunjung menghampirinya, malam sudah semakin larut.

Jarak 5 KM dari rumah tak sedikitpun mejadi penghalangnya untuk pulang kerumah.

Uang yang ia bawa hanya cukup untuk sekali pergi saja, karena terlontar sebuah janji akan ada yang menjemputnya.

Tubuh renta ia paksakan untuk menelusuri jalan setapak, rekap medis dan dokumen persyaratan cek-up gratis ia selipkan di sebalah kanan ketiaknya.

Silang pendapat diantara buah hatinya tak kunjung berakhir, bahkan semakin memanas diantara mereka.

Sampai terlontarlah kata-kata kasar dari salah satu dari mereka mengakhiri kisah pilu seorang ayah yang berharap kesembuhan.

Sakit Untuk Kedua kalinya

Tak ada perhatian dan kedisiplinan di masa-masa recovery terutama di dalam menjaga makanan dan meminum obat, membuat ayah kembali sakit.

Jadwal cek-up yang sudah di tetapkan oleh dokter terabaikan sudah, karena rasa trauma menyelimutinya.

Tak ada yang peduli dan berharap akan kesembuhannya.

Hidup terasa sebatang kara menahan pedih yang tak tertahankan.

Rasa pasrah dan putus asa akan kondisi yang menimpanya, sesekali meyeruak di dalam jiwa.

Tubuh kering berbalut kulit dan tulang menambah pilu laki-laki paruh baya ini.

Kapankah suratan takdir akan menghampirinya  untuk mengakhiri episode kehidupan ini?

Ayah sudah tidak cek-up lagi kedokter semenjak peristiwa pengabaian terjadi.

Kini hanya berpangku asupan obat dari dokter umum yang tidak jauh dari rumah.

Sakit kepala yang ia hadapi sesekali diobati oleh obat warung yang ia belinya.

Kondisinya semakin parah bahkan lebih parah dari sebelumnya.

Hidup Sebatang Kara dari Pengasingan

Rasa putuh asa semakin menjadi di dalam jiwanya.

Pengabaian ia dapatkan bertubi-tubi, hingga akhirnya ia harus mengasingkan diri di kamar kosong yang tak jauh dari rumah.

Segenggam nasi dan lauk yang ala kadarnya menjadi nutrisi yang ia dapatkan tiap hari.

Gelas dan piring kotor, bungkus obat, serta rasa bau akan keringat yang bercucuran dari sekujur tubuhnya mewarnai pengasingannya.

Bengkak menjalar menutupi raut mukanya, nyaris tak akan ada orang yang mengenalnya.

Sungguh tak akan tegak dan tak kuasa melihatnya.

Kasih Sayang Allah Menghampiri dan Mengakhiri Kisah Hidup Manusia Mulia

Di dalam jiwanya ia panjatkan doa akan sebuah penantian dan awal dari kehidupan yang abadi nanjauh di sana.

Penghujung sekaligus awal kehidupan sebenarnya.

Ilham yang dia dapatkan menggerakkan kehendak yang mampu mengalahkan rasa sakit yang ia alami.

Menyusuri gang kecil, bermodalkan tongkat ia hampiri buah hatinya satu persatu.

Ucapan maaf ia lontarkan, sebagai akhir dari episode penderitaannya.

Hajat terakhir dari Sang Ayah

Keesokan harinya, ayah meminta semua anak untuk berkumpul.

Permohonan terakhir ia panjatkan kepada buah hatinya, bahwa ia ingin dimadikan.

Wangi semerbak melingkupi sekujur tubuhnya, paras yang bersih menambah kesan bahwa ia siap di jemput oleh makhluk yang paling taat.

Pirasat seorang istri menentu segalanya.

Di hari itu tak ada siapapun, ayah kembali ke rumah setelah beberapa minggu dari pengasingannya.

Ayah terkulai lemah, pertanda ruh akan lepas dari jasadnya.

Ibu membimbing ayah dengan kalimat tayyibah, di iringi tiga surat yang ia lantunkan YASIN, ARRAHMAN, AL-WAQIAH mengiringi pelepasan makhluk yang mulia.

Di akhir surat yang ibu bacakan, ayah sudah tiada untuk selamanya.

Ayahpun di jemput oleh dzat yang maha segalanya, kasih dan sayangnya tak terbataskan oleh apapun.

Dihari jumat yang mulia menjadi bukti akan kasih sayangNya.

Muka yang bercahaya menghiasi jasadnya, tak sedikit membuat orang terperangah akan peristiwa kepergianya.

Ibu menangis meratap kepergian sang suami yang sudah menjadi pendamping hidupnya.

Semua orang menangis, penyesalan tinggal penyesala, tak ada gunanya.

Salah satu pintu syurga telah tertutup.

Ayah akan dan pasti memafkan segala kesalahan yang dilakukan oleh buah hatinya.

Namun tak demikian dengan Allah….

Hikmah di Balik Kisah

Kisah ini tak akan pernah di alami oleh siapapun yang mengaggap orang tuanya berharga melebihi apapun.

Di dalam firmanNya Allah SWT sampaikan kewajiban berbuat baik kepada orang tua.

Jangankan mengabaikan, berkata “Ah” saja adalah di larang.

Allah maha adil, banyak kisah mewarnai kedurhakaan seorang anak akan di alami oleh seseorang, karena di dahului kedurhakaannya kepada orang tuanya.

Semoga kita terlindung dari barahaya yang akan menerpa, karena kedurhakaan kepada orang tua. Hargai pengorbanan orangtua.

Penulis: Agustina

Baca juga: Tana Panrita Lopi, Butta Subur Yang Menyanyikan Lagu Rindu

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *