Aujh Ibn Unuq Bintu Adam
Ilustrasi: Aujh Ibn Unuq Bintu Adam

Unuq Bintu Adam: Pintu Zina Pertama Melahirkan Raksasa Bernama Uajh

Diposting pada


Bumipanritalopi.com, Unuq Bintu Adam merupakan salah satu dari anak Nabi Adam AS, yang sampai hari ini masih menyimpan banyak misteri. Apakah keberadaaan dan seluruh kisahnya fakta atau bukan.

Nabi adam di Anugerahi keturunan selalu kembar,
dengan 20 kali melahirkan. Jumlah anak Adam 20 perempuan, 20 lelaki
Sebuah riwayat menyebutkan 120 kali melahirkan dan selalu kembar.
Riwayat lain menyebutkan 25 kali melahirkan, 24 kembar dan 1 tunggal dengan jenis kelamin perempuan

Unuq Bintu Adam

Satu-satunya turunan Nabi Adam AS yang lahir tunggal, ia adalah Unuq (Uniq) Bintu Adam.

Memiliki ciri yang Unik yakni dengan 2 kepala, sebagaimana kepalanya terdapat pada masing-masing bahu, yakni kiri dan kanan.

Kemudian ciri berikutnya Memiliki 20 jari tangan, yakni telapak tangan masing-masing 10 jari.

Memiliki kuku yang panjang dan bengkok.

Hawa dengan jiwa ke ibuannya, tetap merawatnya hingga ia dewasa.

Terjadilah peristiwa pembunuhan pertama di bumi, yakni Qabil membunuh Habil.

Atas peristiwa tersebut, Qabil meninggalkan gunung dan menempati Lembah.

Maka terpisahlah, kedua kelompok anak Adam dengan balada yang berbeda. Kelompok yang beriman bersama Adam dan Hawa menempati gunung (puncak). Sementara Qabil dan anaknya yang tersesat menempati lembah.

Baca juga: Ponpes Anwaarul Hidayah, 2 Dasawarsa Tetap Tangguh Dalam Bersaing

Unuq Meninggalkan Puncak

Hawa memperlakukan anaknya sama, merawatnya agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Itu menjadi ciri keturunannya yang mendiami puncak, sementara yang senang melanggar perintah Allah menempati lembah.

Saat berangkat dewasa, Unuq Bintu Adam bergabung dengan Qabil.

Awal kisahnya, ketika Nabi Adam AS meninggal. Seluruh keturunannya menangis selama tujuh hari tujuh malam karena duka. Melihat hal tersebut, maka syaitan memasuki mereka, dan menggoda mereka.

Merayu anak-anak Adam yang ada di lembah, sebab perangai anak Adam di lembah tersebut, mudah tergoda oleh Syaitan. Iblis menawarkan untuk menghibur mereka dengan musik.

Maka dari sinilah bermula musik, berupa seruling. Dan suara suling tersebut terdengar sangat jauh. Hingga ke puncak. Mereka yang sedang berduka tiba-tiba menjadi heran dengan suara yang “aneh” tersebut.

Mendayu-dayu, dan sesekali dengan suara yang menyayat jiwa mereka.
Mereka yang ada di gunung terperanjak, namun mereka tetap bisa mengontrol diri.

Kecuali Unuq Binti Adam, dengan hati bergejolak, ia meninggalkan puncak dan menuju lembah bergabung bersama Qabil dan saudaranya yang lain.

Menikmati musik dan tarian, dari sinilah bermula pertemuan Unuq dengan banyak lelaki yang memiliki perangai buruk seburuk Qabil.

Sifat Unuq yang paling menonjol adalah melakukan persinahan. Sebagaimana setiap bertemu laki-laki dia melakukan hubungan tanpa dasar ajaran Allah SWT. Dari banyak lelaki.
Akhirnya hamil dan tidak ketahuan keturunan siapa.

Disinilah awal perzinahan.

Baca juga: Istana Kerajaan Tertua 6000 Sebelum Masehi Di Dunia Dan Indonesia

Anak Dari Unuq Bintu Adam

Dari hasil perzinahan tersebut, ternyata Unuq hamil namun tidak diketahui siapa ayah dari anak dalam kandungannya. Sebab banyak lelaki yang telah tidur dengannya.

Unuq sebenarnya memiliki rupa yang tidak cantik, sebagaimana saudara perempuannya yang hidup di puncak.

Perlu kita ingat bahwa yang tinggal dipuncak dan lembah memeiliki perbedaan lain, yakni di puncak: anak lelaki tampan, dan anak perempuan tidak cantik (termasuk Unuq). Sementara di lembah, anak lelaki tidak tampan, anak perempuan cantik rupa.

Jika melakukan perbandingan dengan hal ini maka Unuq yang tidak cantik dengan posturnya yang lain dari yang lain.

Seharusnya tidak mampu memikat hati lelaki, akan tetapi Unuq Binti Adam mempelajari Ilmu sihir dari syaitan.

Maka dari sinilah bermula Ilmu Pelet (sihir) untuk memikat lawan jenis.

Peristiwa kehamilan Unuq, akhirnya ia melahirkan anak lelaki bernama Wajh atau Aujh atau Uajh Bintu Unuq (nasabnya ke Ibu karena tidak mereka ketahui siapa ayahnya).

Atas perbuatannya yang melakukan maksiat, maka Hawa berdoa kepada Allah SWT, agar anaknya tersebut segera lenyap dari muka bumi.

Maka Allah utus singa sangat besar, yang melebihi ukuran gajah. Singa menyerang Unuq, merusak seluruh badannya. Inilah kematian pertama oleh binatang.

Wajh/Uajh/Aujh Ibn Unuq Bintu Adam: Sang Raksasa

Wajh Ibn Unuq Putra Unuq.
Adapun Wajh memiliki tinggi 23000 hasta lebar 3333 hasta. Usianya 3600 tahun.
Dan hidup pada 3 masa kenabian. Adam Nuh hingga Musa.

Jika tinggi badannya di konversi kedalam meter maka tingginya mencapai 9660 meter (9,6 km) dengan lebar badan 1399 meter atau (1,3 km).

Dalam berbagai sumber umum menyebutkan bahwa Aujh Ibn Unuq merupakan raksasa yang besar. Ketika ia duduk diatas gunung besar, maka tangannya menjulur ke samudera yang luas.

Dengan tinggi mencapai awan, jika ia hendak makan, maka ia cukup mengambil ikan dilaut lalu memanggangnya ke Matahari. Dan saat hendak minum, maka ia meminum langsung pada awan.

Ia senang melakukan kerusakan. Ketika ia tidak menyukai sekelompok negera, maka ia buang air kecil hingga menenggelamkan negeri tersebut.

Karena banyak penduduk yang ketakutan maka ia dijadikan sebagai pemimpin sebuah negeri Ariha (bagian dari Palestina).

Wajh Bin Unuq Dan Nuh AS

Dalam beberapa kisah menyebutkan, bawah Aujh Binti Unuq membantuk Nabi Nuh AS, dalam membuat bahtera yang besar untuk menampung pengikutnya.

Uajh Ibn Unuq mendapatkan tugas mengangkut kayu-kayu tersebut untuk Nabi Nuh AS yang sedang merakit perahu terbesar sepanjang masa.

Dan ketika terjadi banjir besar, Nabi Nuh AS naik ke bahtera kapal tersebut, seluruh penduduk negeri ikut tenggelam oleh terjangan banjir.

Namun Aujh tidak tenggelam sebab air hanya sampai pada lututnya

Pembebasan Bani Israil Dari Kesesatan

Aujh (Wajh/Uajh) Ibn Unuq Bintu Adam, hidup hingga zaman Nabi Musa AS sebagaimana cerita dari beberapa tulisan.

Saat Nabi Musa membebaskan kesesatan Bani Israil di Negeri Palestina. Negeri Ariha menjadi target Nabi Musa, dan Negeri tersebut dipimpin oleh Wajh.

Maka Nabi Musa AS Mengirimkan pasukan, namun hanya sekali serangan dengan menggunakan batu, seluruh pasukan musa telah tewas. Kecuali tersisa satu orang. Wajh hendak membunuhnya, namun istrinya melarang.

Lepaskan saja pasukan itu wahai suamiku, kelak ia akan bercerita kepada kaumnya dan menceritakan tentang kehebatan kita, hingga ia ketakutan.

Maka pasukan tersisa tersebut menyampaikan kepada Musa AS, dan mendengar cerita tersebut, Nabi Musa memerintahkannya agar tidak menceritakan kepada pasukan lainnya.

Namun karena pasukan tersebut yang juga kaum Israil yang tidak amanah, maka iapun menceritakan kepada yang lainnya. Hingga benar-benar pasukan ketakutan.

Maka ketika mereka diperintahkan untuk kembali berperang, mereka menjawab

“Wahai musa kalau mau perang maka peranglah berdua, kami tidak mau melawan Wajh”

Musa berhadapan Dengan Wajh

Saat Nabi Musa memasuki area Ariyah (Arya), maka Wajh mengambil batu hendak menyerang pasukan Musa bersama pasukannya. Namun Allah mengirim burung yang besar dan melepar menggunakan batu ke leher Wajh.

Pada kisah lain menyebutkan bahwa burung tersebut mematuk leher dan bahu Wajh, hingga ia tersungkur, dan Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya hingga Wajh siburuk rupa tersebut menemui ajalnya.

Kisah Auj, Unuq Apakah Fakta Atau Khurafat?

Banyak sumber yang menjadi bacaan mengenai kisah-kisah ini. Sehingga memberi pemahaman kebenaran kisah tersebut. Sebagai umat Islam maka harus merunutkan kisah tersebut dengan Alquran, Hadist maupun pendapat ulama yang memiliki keabsahan tulisan yang terpercaya.

Ibnu Hajar al-Haitamy

Ibnu Hajar AlHaitamy sebagaimana dalam Buku berjudul AlFatawa Al-Haditsiyah mengatakan :

“Al-Hafizh al-‘Imad ibn al-Katsir mengatakan, Kisah ‘Auj bin Unuq dan semua yang diceritakan tentangnya adalah cerita ngawur yang tidak ada asalnya.

Kisah tersebut diada-adakan kaum zindiq dari ahlul kitab, padahal itu tidak ada sama sekali pada masa Nuh, karena orang kafir tidak ada yang selamat dari banjir zaman Nuh.

Ibnu Katsir

Ibnu Katsir merupaka ulama kenamaan dengan buku Al Bidayah Wannihayah, tidak segan melakukan penentangan terhadap berita tersebut.

Selanjutnya dalam al-Bidayah wal-Nihayah Ibnu Katsir menyebutkan argumentasi kepalsuan kisah Auj bin Unuq ini, sebagai berikut [Sumber: Ibnu Katsir, al-Bidayah wal-Nihayah , Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 266-267] :

Bertentangan dengan akal.

Bagaimana bisa mungkin Allah membiarkan selamat ‘Auj bin Unuq yang kafir, fasiq, keras kepala dan sombong,

Sementara Allah Ta’ala mencelakakan anak Nabi Nuh karena kekafirannya, anak seorang nabi ummat dan pemimpin orang-orang beriman.

Bagaimana bisa mungkin Allah membiarkan selamat ‘Auj bin Unuq dengan sifat-sifatnya yang keji di atas, sementara Allah tidak memberi rahmat kepada seorangpun yang tidak naik kapal bersama Nuh, tidak memberi rahmat kepada ibu bayi dan juga tidak kepada bayinya.

Kisah Allah juga menenggelamkan ibu bayi bersama bayinya dalam banjir zaman Nuh disebut dalam riwayat Abu Ja’far Ibnu Jarir dan Abu Muhammad bin Abi Hatim dalam tafsir keduanya. [ Ibnu Katsir, al-Bidayah wal-Nihayah , Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 265-266]

Bertentangan dengan Nash Syara’

Jika secara logika tidak masuk akal, maka kita mencoba untuk membuka Al Quran maupun hadist, mengenai kisah ini.

Firman Allah SWT

ﺛُﻢَّ ﺃَﻏْﺮَﻗْﻨَﺎ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِﻳﻦَ

“Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain .” (Q.S. AsShafaat : 82)

Pada surah lain Allah SWT juga berfirman :

ﺭَﺏِّ ﻟَﺎ ﺗَﺬَﺭْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﺩَﻳَّﺎﺭًﺍ

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Q.S. Nuh : 26)

Dari kedua ayat itu sangat jelas bahwa saat banjir pada masa kepemimpinan Nabi Nuh AS, tidak ada satupun orang kafir, fasiq dan sombong yang tersisa.

Pada kajian lainnya kita membuka Hadist, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﻠَﻖَ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﻃُﻮﻟُﻪُ ﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺫِﺭَﺍﻋًﺎ، ﺛُﻢَّ ﻟَﻢْ ﻳَﺰَﻝِ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖُ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟْﺂﻥَ

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dimana panjangnya adalah enam puluh hasta, kemudian senantiasa makhluq itu kurang panjangnya sampai dengan sekarang. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun keturunan Adam yang melebihi ukuran panjangnya dari pada Adam sendiri. Sedangkan dalam kisah ‘Auj bin Unuq disebut bahwa panjangnya mencapai 3333 1/3 hasta. Pada kisah lain panjanganya 23000 dan lebar 3333.

Kesimpulan

Dari penjelasan ini, dan juga melihat banyaknya postingan berupa tulisan maupun video mengenai Aujh atau Uajh maupun Wajh Bintu Unuq maupun Unuq Bintu Adam adalah sebuah cerita yang tidak memiliki landasan kokoh.

Dan Pembahasannya tidak bersumber dari ulama ternama yang memiliki kajian Al Quran dan Hadist yang kuat, sehingga keberadaannya adalah Khurafat. Dan wajib sebagai umat Islam menyimpulkan bahwa cerita dan kisah tersebut berasal dari ahli kitab yang menyesatkan.

Maupun dari pembuatan konten (channel) yang hanya sekedar menaikkan rating tanpa memikirkan dampak buruknya bagi umat. WallahU wa’lam.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *