Puasa dan Kebiasaan Orang Bulukumba Sejak Dulu

Ap puasa Bulang Rumalla
Berpuasa Bagi Orang Bulukumba

Melaksanakan Puasa merupakan kewajiban bagi setiap muslim, termasuk di kawasan Bulukumba yang merupakan tempat syiar Islam Dato Di Tiro bermula pada kawasan selatan selatan.

Bumipanritalopi.com, Tana Panrita – Bulan puasa atau Ramadhan merupakan bulan penuh dengan berkah dan menjadi waktu umat Islam memohon ampun dan ridha dari Allah SWT. Termasuk Butta Panrita Lopi.

Tentang Puasa Bagi Orang Bulukumba

Berikut ini beberapa istilah dan kebiasaan orang dari kawasan dengan 10 kecamatan tersebut.

Berpuasa merupakan keharusan dan bagi yang tidak melakukannya sementara telah memenuhi syarat, akan disebut sebagai orang yang “appaka siri-siri”.

Istilah Dan Kebiasaan Yang Berhubungan Dengan Puasa

Beriku Istilah yang berhubungan kewajiban Ibadah ini berbagai macam.

Rumalla

Rumalla adalah Ramadhan. Bisa juga mereka sebut Rumallang. Bagi orang dari kawasan ini, khususnya petani. Akan mempersiapkan buah terbaik mereka dalam menyambut Ramadhan.

Misalnya ketika kekebun, akan menunjuk pohon pisang untuk persiapan Rumalla. Yang bermakna pisang (loka/Utti) tersebut tidak boleh dijual melainkan untuk kebutuhan buka puasa. Begitu juga kelapa (kaluku/aluku) untuk menu berbuka maupun pembuatan minyak goreng.

Ngangre Dannari

Istilah lainnya yang berhubungan dengan kegiatan berpuasa adalah Nganre Dannari atau nganre danniari. Nganre dannari adalah makan sahur.

Ada yang berbeda pada kawasan ini saat makan sahur. Dulu tidak ada saling membangunkan. Tidak ada ribut teriak sahur-sahur. Mereka bangun secara mandiri. Bahkan tidak ada satupun yang memanfaatkan masjid untuk membangunkan.

Bagi mereka, makan sahur dan berpuasa merupakan kewajiban dan tidak perlu untuk mengingatkan mereka. Sebab mereka dewasa dan mandiri masing-masing untuk melakukannya.

Adapun menu makan sahur mereka adalah seperti biasa, dengan makanan berat dan sayur segar serta ikan. Jika tidak ada ikan maka dengan telur (bajao, intannoro, tello’).

Abbuka

Penyebutan abbuka adalah berbuka. Yang bermakna buka puasa. Untuk yang berpuasa. Dengan menu yang paling menjadi andalan adalah kue berikut ini sebagai pabbuka:

  1. Kopi langi’ (kope langi’),
  2. Roko-roko cangkudi (cangkuning),
  3. Salonde,
  4. Peta Loka,
  5. Taripang,
  6. Palopo’
  7. Lebo-lebo

Selain dari menu makanan ringan yang manis tersebut juga terdapat beberapa jenis minuman yang khas:

  1. Teh,
  2. Kopi,
  3. Sirup dan
  4. Air Kaluku lolo (kelapa muda).

Dan untuk makanan berat adalah pahallung (nasi beras), songkolo (nasi beras ketan), sayur kelor (utang keloro) dan berbagai jenis ikan termasuk juku tapa (karra) dan jajja’.

Pembahasan mengenai buka puasa ini akan kita bahas pada bahasan yang lain.

Suro Maca (Abbaca Doang)

Dengan ayam (jangang/manu’) terbaik mereka memilihnya untuk menjadi menu saat berdoa bersama. Suro Maca atau abbaca (ambaca) doang (paddoangang). Merupakan prosesi memohon doa oleh guru yang mengetahui cara-caranya.

Banyak yang menyebut ini merupakan perbuatan syirik dan sebagainya. Namun kajian budayanya berbeda. Pun juga kegiatan ini bukanlah sebuah pelanggaran.

Ada beberapa filosofi dari kegiatan assuro abbaca ini. Dengan menempatkan posisi dulang dalam beberapa posisi.

  1. Di Tangga, untuk anak-anak sehingga tidak bercampur dengan orangtua. Sebagaimana ini bermakna menghargai tamu. Dan orang Bulukumba mengajari anak-anaknya tidak mencampuri aktifitas orangtua saat makan.
  2. Di Tengah (ruang tamu). Yakni posisi guru dan tuan rumah melangsungkan prosesi berdoa kepada Allah SWT. Sekaligus tempat makan guru dan undangan yang hadir.
  3. Di Tiang Tengah Rumah. Ini untuk tuan rumah, maksudnya sebagai cadangan makanan. Biasanya juga untuk persiapan makan sahur.

Pada kegiatan appala doang (berdoa) ini lengkap dengan paddupang dan dupa. Paddupang adalah tempat bara api, dan dupa adalah kemenyan. Untuk pengharum ruangan.

Adapun menu ayam biasanya dengan beberapa bentuk:

  1. Lawara (lahara), dengan mencampurkannya kelapa dan ayam tersebut, tambahan cuka dan garam. Sementara kelapa parutnya mendapatkan pengasapan alami. Sehingga baunya sangat khas. Dan aroma yang sangat dekat dengan lidah.
  2. Gami’. Yakni dengan kelapa di sangrai. Lalu tercampur dengan ayam yang dimasak. Sehingga rasanya berbeda dari masakan lainnya. Kalau sedang merantau dan membaca tulisan ini, percaya deh, mereka akan rindu masakan ibu berupa gami’ ini.

Sulo Raksasa

Ini mulai punah, namun pernah ada. Dan banyak yang merindukan suasana ini. Hanya sehari sebelum pelaksanaan bulan puasa. Yakni Sulo Raksana.

Tradisi obor Lampu Rassasa Suku Konjo
Obor Ramadhan untuk setiap tiang rumah

Sulo Raksasa adalah dengan menggunakan kemiri (sapiri) ditumbuk bersama kapuk (kahu-kahu), dan dengan menggunakan bambu. Lalu pada bagian ujung dari bambu tersebut menempel adonan kemiri dan kapuk tersebut.

Jumlahnya adalah sama dengan berapa jumlah tiang rumah. Jika rumah tersebut memiliki tiang 15 maka jumlahnya juga 15. Ditambah dengan di bagian depan tempat cuci kaki (pabbissa bangkengang). Dan juga pada bagian depan rumah.

Sulo rassasa ini dibakar pada saat pukul 17.30 atau sesaat sebelum magrib. Sehingga dulu rumah orang-orang dari kawasan ini bercahaya dengan lampu rassasa ini.

Dan juga jalan2 memiliki banyak penerangan dengan lampu rassasa tersebut.

Dulu tidak ada penerangan listrik. Lampu inilah menjadi salah satu hiburan ketika sore hari menjelang puasa. Dan itu pertanda sebentar malam sudah bangun sahur dan akan menjalankan aktifitas berpuasa.

Idul Fitri Dan Silaturrahim

Selama sebulan menjalankan ibadah puasa, maka selanjutnya adalah perayaan idul fitri. Dengan menyelenggarakan kegiatan sholat bersama pada lapangan terbuka.

Kebersamaan akan tampak pada berbagai keluarga saling mengunjungi.

Untuk budaya mengungjungi ini terdapat beberapa kebiasaan orang bumi panritalopi, yakni yang lebih muda mendatangi yang tua untuk memohon maaf.

Budaya dan Makanan Idul Fitri

Terdapat beberapa budaya dan makanan saal idul fitri bagi kawasan ini.

Angngera Popporo

Angngera (appala’) popporo atau memohon maaf kepada keluarga. Biasanya dari yang muda kepada yang tua. Maupun yang merasa bersalah.

Tradisi Memohon Maaf Saat Idul Fitri Di Bulukumba
Tradisi Appala Popporo Bagi orang Konjo/Bugis Bulukumba

Dalam tradisi dikawasan ini, biasanya yang tertua menunggu kedatangan semua adik-adiknya untuk mengunjunginya. Dan setelah itu mereka saling mengunjungi.

Bagaimana jika yang tertua ada dirantau?

Tentu kajiannya berbeda. Sebab mengunjungi yang tertua setelah Ramadan ini, adalah pada kawasan Bulukumba tersebut. Adapun yang ada di pulau lain, tentu dengan menggunakan teknologi komunikasi.

Dumpi Sibatu

Merupakan budaya yang tidak hilang hingga saat ini adalah dumpi sibatu. Dengan adonan khusus bercampur telur. Merupakan ciri khas kue dari kawasan Bulukumba khususnya kawasan konjo.

Dumpi sibatu ini sudah jarang untuk kita temui. Namun harus kita ingat bahwa kue ini merupakan persediaan tuan rumah untuk menunggu para tamu yang datang.

Daging Jarang

Untuk anda yang hobbi makan kuda (jarang). Maka jalanlah ke kawasan ini saat hari idul fitri sebab mereka merayakan idul fitri dengan makanan penting yang menjadi salah satu sajian adalah jarang.

Menu Masakan Daging Kuda
Masakan Daging Kuda

Setiap tahun ini akan tersaji dalam meja makan dan mengiringi makanan-makanan lainnya seperti ketupat, kampalo maupun burasa.

Pandangan Orang Tidak Puasa

Bagaimana pandangan orang Bulukumba pada orang yang tidak berpuasa?

Bagi mereka, yang tidak menjalankan kewajiban tersebut dipandang sebagai orang yang lemah. Meski tidak memaksakan kewajiban tersebut, namun jangan pernah kamu makan siang hari pada saat waktu berpuasa.

Terutama merokok, jangan memperlihatkannya. Sebab mereka tidak segan untuk menegur anda kalau ketahuan tidak berpuasa.

Tradisi Minum Tuak
Tradisi Minum Tuak Yang Ada Pada Masa Lampau, Kini Telah Punah.

Ada beberapa kejadian, orang tidak berpuasa lewat pada kawasan ini, kemudian ditegur langsung oleh masyarakat. Bahkan jika kamu melawan mereka tidak segan untuk bertindak tegas kepadamu.

Sebab mereka merasa tidak nyaman dengan orang yang sengaja memperlihatkan ketidak patuhan kepada agama.

Baca juga: Assuro Bagi Orang Bulukumba, Syarat Dan 3 Trik

Demikian artikel mengenai kebiasaan berpuasa dan budaya orang Bulukumba.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.