Kesultanan Demak
Peninggalan Kesultanan Demak, banten (Foto:Gurupendidikan)

Kesultanan Demak, Kerajaan Islam Pertama Abad Ke15

Diposting pada

Bumipanritalopi.com, Budaya – Ingatan kita pasti akan langsung tertuju pada Wali Sanga saat mendengar tentang Kesultanan Demak. Kerajaan Demak atau Kesultanan Demak merupakan sumber penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Tidak hanya menyandang sebagai kerajaan Islam pertama di Pantai Utara Jawa, kerajaan tersebut juga merupakan kerajaan Islam terbesar di pulau tersebut.

Dahulu agama Hindu mendominasi hampir semua kerajaan di Nusantara, oleh sebab itu Demak membawa pedoman dan misi yang berbeda. Kerajaan ini juga melakukan penyebaran terhadap agama Islam.

Di dalam sejarah, persekutuan perdagangan Islam di Pantai Utara Jawa dengan pemimpin bernama Raden Fatah atau Raden Patah, mendirikan Kerajaan Demak.  

Sebelumnya Demak adalah kadipaten dari Kerajaan Majapahit. Kemunculan kesultanan tersebut kemudian menjadi kekuatan baru yang mewarisi legitimasi dari kerajaan yang sangat terkenal itu.

Sayangnya umur Kerajaan Demak memang tidak panjang namun kita tetap bisa menikmati, bahkan menggunakan peninggalannya.

Layarkan Pinisi Ke: Sejarah HUT Jakarta 22 Juni; Benarkah Fatahillah Membantai Rakyat Betawi?

Inilah masa awal Kesultanan Demak

Kemunduran bagi Majapahit pada akhir abad ke-15 membuat wilayah kekuasaannya mulai goyah dan tak terkendali.

Wilayah yang tersebar menjadi beberapa kadipaten akhirnya saling menyerang dan berlomba untuk menguasai takhta pewaris kerajaan tersebut.

Lokasi Kerajaan demak
Lokasi Kerajaan Demak (Foto: Kompasiana)

Kala itu Demak merupakan salah satu kadipaten yang berada di kekuasaan Kerajaan Mataram. Meskipun demikian, Demak muncul sebagai kawasan mandiri di Pantai Utara Jawa.

Konon katanya, tradisi Jawa sudah memberi gambaran bahwa Demak merupakan pengganti langsung dari Kerajaan Majapahit.

Tidak hanya itu saja, raja dari Kerajaan Demak, yaitu Raden Patah juga sebagai putra Majapahit yang terakhir.

Dengan nama Kerajaan Demak atau Kerajaan Demak, masyarakat percaya bahwa munculnya kerajaan ini adalah usaha dari seorang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko-Po.

Kepercayaan tersebut berlanjut dengan adanya kemungkinan bahwa putra Cek Ko-Po adalah orang Tomé Pires atau Pate Rodim dalam Suma Oriental.

Beliau disebut-sebut sebagai Bahruddin atau Kamaruddin yang meninggal sekitar tahun 1504.

Baharuddin memiliki putra bernama Trenggana yang juga menjadi raja di Kerajaan Demak.  

Kesultanan Demak berdiri pada tahun 1481. Tak hanya berperan penting sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa saja.

Kerajaan Demak juga menyebarkan agama Islam karena wilayah kekuasaannya yang cukup luas. Sepanjang Pantai Utara di Pulau Jawa merupakan wilayah dari Kesultanan Demak.

Layarkan Pinisi Ke: Istana Kerajaan Tertua 6000 Sebelum Masehi Di Dunia Dan Indonesia

Permulaan Abad ke-16, Kesultanan Demak mengalami masa kejayaannya

Tidak ada kerajaan lain yang mampu menandingi Kerajaan Demak dalam memerluas wilayah kekuasaannya.

Mulai dari pelabuhan hingga pedalaman Nusantara, kerajaan tersebut mampu mendudukkannya.

Keberhasilan Kerajaan Demak dalam menundukkan wilayah lain tentu saja dipengaruhi oleh pimpinannya.

Semasa Pati Unus dan Trenggana, kerajaan tersebut mengemban misi yang sangat penting dan mampu mewujudkannya melalui usaha-usaha tanpa henti.

Pada masa pemerintahan Pati Unus, putra Raden Fatah, beliau melancarkan invasi terhadap Malaka.

Kala itu, Portugal berhasil menduduki Malaka pada tahun 1511 sehingga Sultan Malaka mengungsi ke Pulau Bintan dan meminta bantuan kepada Dinasti Ming yang berada di Cina dan kesultanan Muslim di Nusantara.

Dengan cara menghidupkan kembali kekuatan armada milik Majapahit yang tidur setelah Perang Paregreg.

Pati Unus menggunakan kapal buatan orang-orang Muslim Tionghoa lokal. Dan diproduksi Semarang dan Jepara sebagai armada yang akan digunakannya.

Di bawah pimpinan Pati Unus, Kerajaan Demak; Kesultanan Palembang dan armada Melayu melaksanakan serangan pertama pada tahun 1513.

Setidaknya beliau membawa armada Kesultanan Demak dari Jepara sebanyak 100 kapal dan 12.000 orang prajurit.

Kapal yang dia bawamerupakan jenis kapal jong,  lancaran, penjajab dan kelulus. Serangan pertama inikita sebut dengan Ekspedisi Jihad I.

Ekspedisi Jihad I yang ia lakukan berhasil mengusir Portugis dari Malaka. Pertempuran yang terjadi di Selat Malaka ini melibatkan armada gabungan Nusantara dan menghancurkan sekitar 70 kapal dan menewaskan 800 orang prajurit dari Kerajaan Demak.

Keberanian Pati Unus dalam mengusir Portugis dari wilayah tersebut membuatnya di beri  julukan Pangeran Sabrang Lor yang berarti Pangeran dari seberang utara.

Selesai Ekspedisi Jihad I, Pati Unus melangsungkan serangan kedua ke Malaka untuk membantu Sultan Mahmud Syah, sahabatnya.

Saat itu kota Malaka berhasil diduduki Portugis. Sehingga Sultan Mahmud Syah meminta bantuan Pati Unus, untuk merebut kembali kota tersebut.

Ekspedisi Jihad Jilid II

Pada awal tahun 1521, setelah selesai membuat 375 kapal, beliau melakukan Ekspedisi Jihad II. Tidak hanya terjadi di laut, pertempuran juga meletus di darat.

Selama tiga hari dan tiga malam, pertempuran tersebut berlangsung.

Sayangnya Pati Unus terbunuh di sana dan pertempuran juga belum berhasil menggulingkan kedudukan Portugis di Malaka.

Setelahnya pada tahun 1550 dan 1574 terjadi Ekspedisi Susulan yang di pimpin oleh Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggana.

Serangan yang terjadi tahun 1574 membuat Portugis terkepung di kepulauan Maluku sehingga Sultan Baabulah dari Ternate berhasil mengusirnya pada tahun 1575.

Sepeninggal Pati Unus, Trenggana menjadi raja pengganti Kesultanan Mataram.

Selama masa pemerintahannya, Trenggana berhasil menguasai wilayah Sunda Kelapa dari Pajajaran dan memukul mundur pasukan Portugis yang hendak mendarat di sana tahun 1527.

Hampir seluruh wilayah Pasundan dan wilayah bekas kekuasaan Majapahit di Jawa Timur berhasil dalam kendali Kerajaan Demak. Trenggana wafat pada pertempuran di Pasuruan. Saat itu beliau sedang berperang untuk merebut wilayah tersebut pada tahun 1546.

Tenggelamnya Kejayaan dan Runtuhnya Kerajaan Demak

Persaingan sengit terjadi dalam suksesi raja Demak yang akan menggantikan mendiang Pati Unus yang terbunuh dalam perang membantu perebutan Kota Malaka.

Pangeran Surowiyoto atau Pangeran Sekar yang saat itu berseteru dengan Trenggana berakhir dengan terbunuhnya Pangeran Sekar oleh putra Trenggana, yaitu Sunan Prawoto.

Tragisnya pembunuhan di tepi sungai selepas sholat Jumat yang di lakukan oleh Sunan Prawoto membuatnya menjadi pewaris takhta Kerajaan Demak setelah wafatnya Trenggana.

Tidak lama menjabat sebagai raja, Sunan Prawoto dan istrinya di bunuh oleh pengikut Pangeran Arya Penangsang.

Pangeran Arya Penangsang adalah putra dari Pangeran Sekar yang di bunuh Sunan Prawoto.

Akhiranya Arya Penangsang di nobatkan sebagai raja kelima dari Kesultanan Demak.

Sayang rekam jejak pengikutnya yang juga membunuh Pangeran Hadiri sebagai penguasa Kalinyamat membuat Arya Penangsang di benci oleh para adipati di bawah kekuasaan Demak.

Salah satu adipati yang memusuhi Arya Penangsang adalah Adipati Pajang, Jaka Tingkir atau Adipati Hadiwijaya.

Kebenciannya berakhir dengan sebuah pemberontakan yang terjadi pada tahun 1554.

Untuk merebut kekuasaan Demak, Sutawijaya, anak angkat Adipati Hadiwijaya membunuh Arya Penangsang.

Peristiwa terbunuhnya Arya Penangsang sebagai raja kelima Demak membawa akhir dari era kerajaan tersebut.

Daftar Raja Kerajaan Demak

Lebih detail, inilah raja-raja yang pernah memimpin KerajaanDemak

Raden Fatah

Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Fatah atau Praba merupakan pendiri Kesultanan atau Kerajaan Demak.

Punya nama lain Raden Bagus Kasan atau Hasan dan bergelar Jin Bun dalam Tiongkok.

Senapati Jin Bun atau Panembahan Jinbun dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Al-Fatah, Raden Fatah atau Raden Patah memimpin Kerajaan Demak pada tahun 1500 sampai 1518.

Orangtua Raden Fatah adalah Raja Wilwatikta dan seorang selir bernama Siu Ban Ci.

Keberadaannya sebagai raja pertama Demak memberikan kemajuan yang sangat cepat.

Wali Sanga memberikan kontribusi yang besar atas tersebarnya agama Islam di Tanah Jawa sehingga wilayah kekuasaan kerajaan tersebut meluas hingga wilayah Rembang, Jepara, Pati, Semarang.

Selat Karimata dan beberapa daerah di wilayah Kalimantan. Beberapa pelabuhan juga berhasil dikuasai semasa Raden Fatah menjadi raja. Adapun pelabuhan-pelabuhan tersebut, yaitu Jepara, Sedayu, Gresik, Tuban dan Jaratan.

Pati Unus

Raja kedua di Demak adalah Pati Unus. Dengan wawasan nusantara yang kuat, Pati Unus memiliki visi untuk menjadikan kesultanannya sebagai kerajaan maritim besar.

Pati Unus merupakan putra dari Raden Fatah yang wafat pada tahun 1518.

Mendiang Raden Fatah memberinya tugas untuk mengusir Portugis yang menduduki wilayah Malaka saat itu.

Bukan tanpa alasan, kedatangan Portugis juga sudah mengancam Kerajaan Demak.

Menuruti perintah sang ayah membuat Pati Unus terlibat dalam beberapa pertempuran dengan Portugis.

Rekam jejaknya sebagai pemimpin perang membuatnya terkenal sebagai panglima yang gagah dan berani.

Aksinya pada pertempuran pertama dengan Portugis di Malaka membuat Pati Unus memiliki julukan unik, yaitu Pangeran Sabrang Lor.

Sayangnya pada pertempuran kedua melawan Portugis, Pati Unus harus wafat pada tahun 1521.

Beliau menjabat sebagai raja Kerajaan Demak selama tiga tahun, yaitu mulai pada tahun 1518 hingga 1521 dan wafat pada usia 41 tahun.

Trenggana

Kekosongan sultan di Kerajaan Demak membuat Trenggana, adik Pati Unus mengisi jabatan tersebut.

Sebelum wafat, Pati Unus tidak memiliki anak sehingga sang adik meneruskan takhta kakaknya yang meninggal dalam pertempuran di Malaka.

Tidak hanya Pati Unus, Trenggana juga membawa Kerajaan Demak mencapai puncak keemasannya.

Terkenal sebagai raja yang pemberani dan bijaksana, Trenggana berhasil memerluas wilayah kekuasaan Kerajaan Kesultanan Demak, mulai dari Pasundan sampai kerajaan Hindu paling timur di Jawa.

Beliau memang memiliki keinginan untuk menyatukan semua wilayah Pulau Jawa di bawah kekuasaan Kerajaan Demak.

Sayangnya perjuangan Trenggana harus berakhir sebelum pertempurannya untuk merebut Pasuruan berhasil.

Raja ketiga ini meninggal pada tahun 1546 dan di gantikan oleh Sunan Prawoto.

Sunan Prawoto

Setelah wafatnya sang ayahanda, Sunan Prawoto menggantikan takhta yang di tinggalkannya.

Kemunduran eksistensi Kerajaan Demak sangat terasa selama masa pemerintahannya.

Hal ini tak bisa di lepaskan dari keterlibatan beliau dengan sebuah konflik antara Pangeran Suryowiyoto dan Trenggana.

Pangeran Suryowiyoto dan Trenggana merupakan saudara kandung namun kematian Pangeran Sekar karena suksesi raja Kesultanan Ketiga yang cukup sengit tak terelakkan.

Insiden kematian Pengeran Suryowiyoto membuat beliau sendiri di juluki sebagai Pangeran Sekar Seda ing Lapen yang berarti bunga yang gugur di sungai.

Sunan Prawoto merupakan putra dari Trenggana, raja ketiga di Demak.

Ironisnya, Sunan Prawoto bersama istrinya di bunuh oleh seorang pengikut Pangeran Arya Penangsang pada tahun 1547.

Peristiwa inilah yang membuat tampuk kekuasaannya beralik ke putra Pangeran Sekar, yaitu Pangeran Arya Penangsang.

Arya Penangsang

Keberhasilan seorang pengikutnya membawa Pangeran Arya Penangsang menjadi raja kelima di Demak.

Tidak berlangsung lama, pengikut yang sama juga membunuh Pangeran Hadiri, seorang penguasa Kalinyamat atau Jepara yang merupakan suami dari Ratu Kalinyamat.

Keadaan itu membuat Arya Penangsang di musuhi oleh para adipati yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak, salah satunya adalah Adipati Pajang Jaka Tingkir.

Familiar dengan nama Jaka Tingkir atau Adipati Hadiwijaya berhasil melakukan pemberontakan pada tahun 1554 dan merebut kekuasaan Demak. Nyawa Arya Penangsang berakhir di tangan anak angkat Jaka Tingkir, Sutawijaya.

Kekalahan Arya Penangsang dengan Adipati Hadiwijaya membuat era kekuasan Kesultanan Demak berakhir.

Akhirnya Jaka Tingkir memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang dan mendirikan Kerajaan Pajang di sana.

Kehidupan Sosial dan Politik Demak

Kesultanan Demak merupakan kerajaan yang menggunakan Islam sebagai pedoman dan falsafahnya.

Sehingga pemerintahan yang berlangsung saat itu diatur menggunakan hukum Islam.

Keteraturan dan ketertiban yang tercipta di Demak juga tak bisa lepas dari pengunaan beragam norma dan tradisi lama semasa Kerajaan Majapahit masih berkuasa.

Hanya saja penerapan norma dan tradisi tersebut disesuaikan dengan ajaran dan hukum Islam yang berlaku.

Sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara saat itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Demak.

Para wali yang lahir di sana membuat penyebaran agama Islam menjadi lebih cepat dan sampai ke seluruh lapisan masyarakat.

Bahkan para wali tak segan untuk mendatangi wilayah pelosok Nusantara untuk mengajarkan agama Islam pada mereka.

Pada masa kejayaan Kesultanan Demak, setidaknya empat sunan, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus dan sunan Bonar berperan sangat penting dalam perkembangan kerajaan tersebut.

Para sunan tersebut berperan sebagai penasihat raja Demak, sehingga terjalin hubungan baik antara raja dan bangsawan serta para wali atau ulama dengan rakyat.

Kedekatan tersebut tidak bisa di lepaskan dari pembinaan masyarakat yang terselenggara di masjid dan pondok pesantren.

Di Kesultanan Demak, pesantren dan masjid merupakan sarana dan lambang untuk mencapai misinya dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara.

Pesantren yang berdiri atas keinginan Sunan Giri menjadi sarana efektif bagi penyebaran agama Islam. B

ahkan sekelompok orang dari Ternate rela datang untuk belajar di pesantren ini dan pulang untuk mengajarkan agama Islam di tempat asalnya.

Masjid Kerajaan Demak

Sementara itu, masjid di Demak bukanlah sekadar bangunan untuk beribadah saja.

Masjid merupakan lambang kebesaran dari Demak sebagai kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa.

Pendiri masjid Agung Demak adalah Raden Fatah, raja pertama Demak.

Masjid Agung Demak termasuk ke dalam salah satu masjid paling tua yang ada di Tanah Air.

Terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Demak, bangunan ini merupakan tempat Wali Sanga untuk berkumpulnya para ulama  yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa.

Bersama dengan Wali Sanga, Raden Fatah mendirikan masjid megah dan berkharisma.

Terdapat gambar serupa bulus yang merupakan surya sengkala memet yang berarti Sarira Sunyi Kiblating Gusti dengan makna tahun 1401 Saka.

UNESCO pernah mencalonkan Masjid Agung Demak sebagai salah satu Situs Warisan Dunia pada tahun 1995.

Bangunan tersebut berdiri pada tanggal 1 Shofar dan dilengkapi dengan induk dan serambi.

Terdapat empat tiang utama atau saka guru pada bangunan induk. Konon salah satu tiang tersebut dibuat dari serpihan kayu sehingga bernama saka tatal.

Sementara serambinya merupakan bangunan terbuka. Masjid Agung Demak menggunakan bentuk limas sebagai atapnya. Ketiga bangian atapnya menggambarkan iman, Islam dan ihsan.

Salah satu sunan juga menggunakan dasar perayaan Sekaten untuk menarik minat masyarakat masuk Islam.

Adalah Sunan Kalijaga atau Raden Mas Syahid yang menjadikan perayaan tersebut sebagai tradisi yang membudaya dari masa Kesultanan Demak dan terus terpelihara sampai saat ini.

Sunan Kalijaga juga menyebarkan ajaran Islam melalui cerita yang tersampaikan menggunakan media wayang.

Beliau berhasil menciptakan lagu berbahasa Jawa yang berjudul Lir Ilir dan Gundul Pacul.

Cara yang ditempuh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam sangat menarik hati masyrakat dan cenderung efektif.

Layarkan Pinisi ke: Kerajaan Sriwijaya, Dengan 6 Peninggalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *