Budaya Jabat Tangan Bagi Orang Sulawesi Yang Santun

Budaya Jabat Tangan Suku Makassar
Budaya Berjabat Tangan Juga Berlaku Antara Negara

Cara Jabat tangan merupakan sebuah budaya yang telah ada sejak zaman dahulu kala (zaman kerajaan) hingga saat ini. Termasuk Sulawesi Selatan dengan 3 Kerajaan Tellu Boccoe.

Bumipanritalopi.com, Budaya – Tellu Boccoe, merupakan pertalian 3 kerajaan besar Sulsel, dengan asal muasal yang sama to manurung. Ketiga kerajaan tersebut adalah:

Bacaan Lainnya
  1. Sombayya Ri Gowa,
  2. Pajung Ri Luwu,
  3. Mangkau’ Ri Bone.

Dari ketiga kerajaan tersebut, membawahi beberapa kerajaan (distrik). Dengan kawasan masing-masing:

  1. Gowa menguasai Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba dan Selayar.
  2. Bone menancapkan pengaruh pada kawasan Bugis, Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Pare-pare, Sidrap, Sebagian Maros dan Pangkep.
  3. Luwu, menanamkan kekuasaan pada kawasan Luwu sekarang, dan melebar ke sebagian kawasan Sulawesi Tenggara (Kolaka Utara).

Meski pada akhirnya ketiga kerajaan besar ini terbelah menjadi sebuah kerajaan-kerajaan kecil. Yang bisa kita saksikan menjadi kabupaten seperti sekarang ini.

Secara monarki dengan hierarki kekuasaan maka terdapat beberapa aturan yang menjadi adat istiadat. Dari cara makan, adat membangun rumah, tata cara bertamu dan menerima tamu. Termasuk tata cara menjabat tangan (bersalaman).

Jabat Tangan dan Dan Asal Usul Budaya

Berjabat tangan merupakan sebuah budaya, sebagaimana hal ini merupakan simbolitas keakraban. Jabat tangan memiliki asal usul dengan nama Dexiosis. Jadi dexiosis merupakan penamaan awal dari “jabat tangan”.

Sejak kapan ada budaya saling berjabat tangan, dan dari mana asal usulnya?

Pertanyaan ini terbesik dalam nalar kita, sebab apapun pada bumi ini selalu ada hubungan sebab akibat (baca teori kausalitas).

Dengan teori Sine Qua Non karya dari Von Buri menyebutkan bahwa untuk mencari asal usul bersalaman ini dalam kategori menimbulkan akibat tertentu berupa perdamaian, sesuai dengan tujuan dari perlakukan pertama yakni mau bersatu, kita saling menghargai.

Oleh karena itu maka Conditio Sine Qua Non atau syarat mutlak bagi keadaan saling menghormati.

Ada sebab berupa jabat tangan dan ada efek (akibat) yakni berdamai.

Meski konsep Von Buri lebih banyak kedalam kajian hukum. Namun jika kita menarasikan kedalam hal jabat tangan yang telah membudaya sampai sekarang adalah sebuah pandangan dan kajian yang sangat tepat.

Asal Usul (Histori) Cultural Bersalaman

Catatan sejarah menyebutkan bahwa salim-saliman ini merupakan sebuah kebiasaan yang bermula sejak abak ke IX SM (9 sebelum masehi). Prasasti yang merupakan peninggalan kerajaan Yunani dalam bentuk relief.

Sebagai hasil penelitian menunjukkan Gambar antara Shalmaneser III merupakan Raja Assyria (Asyur atau tanah ashur) berjabat tangan dengan penguasa Babylonia. Dengan posisi pedang masing-masing pada bagian pinggang. Dan tongkat pada tangan kiri mereka berdiri dengan tegak. Pada bagian lain, kedua penguasa memiliki pengawal masing-masing.

Relief Sejarah Jabat Tangan Raja Assyria dengan Babilonia
Jabat Tangan antara Babilonia dengan Raja Assyria

Relief menjadi saksi dan catatan sejarah bahwa dengan simbol mengulurkan tangan kosong (tanpa sejata) dan pertemuan telapak tangan sebagai sebuah perdamaian, persahabatan dan penyambutan.

Selanjutnya kerajaan Romawi, juga mengadopsi jabatan tangan tersebut sebagai sebuah ikrar kesetiaan dan pertemanan antara rakyat kepada penguasa kekaisaran Romawi. Untuk hal tersebut maka imperium ini mencetak uang koin dengan simbol yang demikian.

Dexiosis And Handshake
Dexiosis And Handshake Coin

Belakangan, muncul sebuah penelitian dengan judul Illiad and Odysey, karya dari Epick Hormer, secara tuntas melukiskan bahwa tanda jabat tangan merupakan ikrar dan kepatuhan terhadap kepercayaan. Baik dalam bentuk percaya kepada seseorang maupun percaya (saat dituntun), kepada tuhan (sang pencipta) yang mereka yakini.

Memasukia pada abad ke XVII (17), Robert Quaker menuliskan bahwa saling mengulurkan tangan kosong tersebut sebagai bentuk yang lebih ideal dan pensejajaran lebih baik daripada harus membungkuk atau bersujud sebagai penghormatan.

Pancang Sejarah Singkat Kerajaan Gowa

Namun tahukah anda bahwa Kerajaan Gowa merupakan monarki yang terbentuk dari 9 kerajaan kecil (Bate Salapang). Sumber sejarah kabupaten Gowa.go.id. Bahwa Kabupaten yang berdampingan dengan Kota Makassar tersebut adalah kedaulatan yang sudah lama.

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, maka nusantara ini penuh dengan beberapa imperium besar. Seperti pada kawasan Sulawesi dengan kesultanan yang kuat yakni Gowa – Tallo.

Gowa telah memancangkan kekuasaan pada kawasannya, sejak tahun 1320 Masehi atau pada abad ke XIII. Bersumber dari 9 Kasuwiyang (atau kita kenal dengan Bate Salapang).

  1. Tombolo,
  2. Lakiung,
  3. Samata,
  4. Parang-parang,
  5. Data,
  6. Agang Je’ne’.
  7. Bisei,
  8. Kalling, dan
  9. Sero’.

Dengan ikrar bersama kesembilan Kasuwiyang membentuk satu imperium. Maka kemudian mereka mengangkat Somba atau Raja memimpin pada kerajaan ini. Tentu lebih muda dari Imperium Assyria Baru dari Mesoptamia (berdiri pada 934 SM).

Kemudian Kerajaan Gowa menggunakan beberapa perangkat adat. Termasuk mengatur hubungan antara penduduk. Bagaimana berkomunikasi antara rakyat dengan raja.

Mekanisme pernikahan, tata cara upacara dan sebagainya.

Komunikasi antara penduduk satu dengan yang lainnya. Dalam bentuk menerima tamu atau bertamu tidak luput dari beberapa aturan dan budaya.

Sebagai kesultanan yang memiliki kuasa mengatur hubungan masyarakatnya, maka beberapa aturan sebagai rel semua orang pada kawasan ini harus melaksanakannya.

Meski beberapa adat kini telah hilang tertelan zaman oleh pengaruh budaya global. Terutama teknologi komunikasi yang menjadi “imperium baru dan terkuat” pada saat ini.

Budaya Berjabat Tangan Suku Makassar

Entahlah, mungkin hal berikut kita tidak pernah menemukannya lagi budaya ini. Atau mulai tersamar oleh perubahan dan erosi kekaburan budaya.

Akan tetapi harus kita ketahui, terdapat beberapa tradisi, kebiasaan atau budaya pada kawasan ini. Diantaranya budaya “jabat tangan”.

Sesuai hasil penelusuran dengan beberapa penggiat dan kelompok (komunitas) budaya. Menyebutkan bahwa terdapat 3 cara jabat tangan dari orang Makassar, yakni:

Berjabat Tangan Dengan Memegang Kepala

Jika kamu berjabat tangan dengan orang lain, atau seorang pejabat menjabat tangan orang bijaksana. Maka yang bijaksana pada masa lampau. Membalas jabatan tangan sambil memegang kepala tepat pada dahi.

Jangan menyebut ini aneh, justru ketika kita mengetahui makna dan tujuannya. Ternyata sangat mendalam dari kebiasaan tangan kiri memegang dahi. Sementara tangan kanan berjabat.

Kebiasaan ini adalah untuk beberapa level:

  1. Anak kepada orangtua,
  2. Murid/Siswa kepada guru,
  3. Santri kepada guru,
  4. Masyarakat kepada pejabat.

Jadi semacam penghargaan tertinggi untuk level dari seseorang. Dengan memegang kepala ibarat melapisi dan memberikan batasan bahwa isi kepala saya tidak melampauimu (orangtuaku, guruku, pemimpinku).

Tradisi ini sudah jarang sekali bahkan sudah tidak pernah lagi kita temukan. Seperti yang kami bahas sebelumnya, erosi zaman telah banyak mengikis budaya.

Adapun beberapa contoh sapaan dalam bentuk pangadakkang adalah sebagai berikut:

  1. Ketika seorang santri bertemu kiyai, Assalamu Alaikum, appala popporoa’ rikatte
  2. Seorang siswa bertemu dengan guru, Assalamu Alaikum Bapak/Ibu apa kabar? Tabe kipammopporanga.
  3. Anak bersimpuh kepada kedua orang tua, Kupalaki doangta, kipammopporanga ammakku tettaku.

Semuanya bermakna mohon maaf atas salah dan khilafku. Dan saat berjabat tangan sambil memegang dahi atau kepala.

Berjabat Tangan Dengan Memegang Dada

Tipe selanjutnya adalah berjabat tangan dengan memegang dada (hati). “Pangngadakkang” bagi orang Makassar ini adalah cara jabat tangan sebagai budaya dari adik kepada kakaknya.

Maknanya adalah saya menghadapi kamu sebagai kakak yang saya hormati dan saya banggakan dengan jiwaku.

Juga, jika seseorang bertemu dengan yang sangrapang (seumuran/sebaya) maka keduanya bisa menggunakan cara ini.

Akan tetapi pada zaman dahulu kala, “andi” atau adik, yang paling pantas melakukannya kepada daengna (kakaknya). Meskipun demikian, seorang kakak (daeng) juga tidak melanggar jika melakukan hal yang sama.

Contoh jabat tangan kepada yang lebih tua. Narasi bahasanya:

Daengku, kipammopporanga, punna nia’ kana na gaukku salah rioloangta. (Kakakku, maafkan aku jika ada kata dan perbuatanku yang salah dihadapanmu). Sambil memegang dada dan sedikit membungkuk.

Berjabat Tangan Dengan Menopang Siku

Budaya yang ketiga dalam hal jabat tangan adalah, menopang siku atau lengan kanan dengan telapak tangan kiri. Ini masih biasa kita temukan. Ini berlaku untuk sebaya maupun kepada adik (usia yang lebih muda).

Dalam hal pangngadakkang rupa tau, menghargai atau menghormati martabat orang lain.

Dalam praktiknya, anda kenal dengan adat istiadat orang Suku Makassar, Bugis, Toraja dan Luwu berupa kebiasaan Mappatabe?

Nah dalam keseharian kita bisa menemukan seseorang akan mappatabe dengan menggunakan 2 cara dan adat jabat tangan. Yakni mappatabe sambil memegang dada. Atau dengan menopang tangan kanan dengan tangan kiri.

Kebiasaan (mappatabe) ini masih sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam narasi contoh ketika memohon maaf dalam hal pangadakkang adalah

Oh daeng, tabe kupala popporo mange rikatte, nia’ kanangku appare’ loko ilalang atinta. Artinya, wahai kakakku, maafkan salahku kepadamu, ada kalimat (kata-kataku) yang membuat luka dalam hatimu.

Menyodorkan tangan sambil menopang siku tangan kanan dengan telapak tangan kiri.

Bagaimana Budaya Bersalaman Dengan Mencium Tangan?

Sebenarnya budaya ini bukanlah budaya asli dari Kerajaan Gowa (sebelum membentuk kesultanan). Namun seiring waktu, masuknya Islam dan berubahnya Kerajaan Gowa menjadi kesultanan serta Raja menjadi Sultan.

Maka beberapa budaya juga mengalami asimiliasi.

Yakni adat istiadat berupa jabatan tangan dengan mencium tangan. Ini berlaku dari seseorang kepada guru atau kepada pemuka agama. Memiliki makna memuliakan (menghormati) dan pantas untuk saya ambil ilmunya.

Jadi makna mencium tangan seseorang adalah jika kamu melakukannya. Maka itu dipastikan bahwa yang kamu cium tangannya tersebut merupakan orang yang lebih tua, kamu hormati dan bijaksana serta ilmunya bermanfaat ketika kamu mengambil darinya.

Namun ada yang terbalik, entah darimana budaya itu. Seorang lelaki mencium tangan perempuan yang bukan ibunya, kakaknya maupun gurunya, melainkan yang lebih muda darinya. Entah darimana ini budaya berasal. Yang jelas budaya cium tangan lelaki kepada perempuan lebih muda yang bukan mahramnya. Bukanlah adat dari Gowa dan jelas tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam.

Kebiasaan Jabat Tangan Unik Dunia Di Negara Lain

Sekali lagi, bahwa bersalaman ini merupakan adat dan kebiasaan yang membudaya keseluruh belahan dunia. Namun beberapa perbedaan pada beberapa negara.

Tibet

Provinsi yang merupakan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok, Tibet. Menghuni gunung tertinggi dunia, Himalaya. Nepal, Butan, India dan Xinjian, merupakan negara yang bersentuhan dengan Himalaya Mountain.

Masyarakat Tibet, memiliki budaya yang unik saat menyapa, bukan dengan jabat tangan. Adapun kebiasaan mereka yang memberikan simbol perdamaian kepada yang datang atau tamu mereka. Yakni dengan menjulurkan lidah. Sehingga jika kamu berkunjung ke kawasan yang sebelumnya merupakan kerajaan dari kendali Dalai Lama, kamu jangan kaget ketika mereka menjulurkan lidah menyambutmu.

Di Indonesia prilaku menjulur lidah adalah bermakna ejeken. Namun tidak dengan masyarakat Tibet. Justru sebaliknya.

Suku Maori, New Zealand

Tradisi menyalami (jabat tangan) berikutnya yang unik di dunia adalah Pada Suku Maori, New Zealand (Selandaia Baru). Dalam bahasa Yunani adalah Nova Zeelandia. Menggunakan bahasa Aotearoa yang berarti berawan putih panjang.

Sebagai pulau terjauh, maka pulau tempat berdiam suku Maori merupakan lokasi terakhir yang terhuni oleh manusia. Negara yang makmur pada tahun 1930-an ini. Memiliki budaya unik sebagai tanda bersalaman dengan saling menyentuhkan hidung.

Ethiopia (Eitopia)

Negara unik lainnya saat berjabat tangan adalah Ethiopia. Dulu negara Ethiopia bernama Abisinia. Sebagai sebuah kedaulatan pada sejajaran Afrika. Yang kuat dan tangguh dan tidak pernah di taklukkan. Kecuali pada tahun 1936 sempat dijajah oleh Italia yang menginvasi negara tersebut, namun kembali menemukan kedaulatan pada tahun 1944.

Budaya memegang bahu saat salaman, Eithopia
Contoh salaman dengan memegang bahu atau lengan atas

Adapun kebiasaan bersalaman (jabat tangan) bagi orang Eithopia sebagai budaya adalah dengan memegang bahu orang lain.

Kongo

Kebiasaan bersalaman Republik Demokratik Kongo juga berbeda. Negara yang dulunya bernama Zaire. Negara yang dilanda dengan perang saudara berkepanjangan tersebut. Jatuh bangun dan terpuruk. Sebab antara suku mereka saling menekan.

Dalam hal berjabatan tangan, memiliki keunikan, yakni dengan memegang dahi. Sama dengan budaya bagi Imperium Gowa. Apakah ada keterkaitan keduanya, ini yang belum terjawab.

Republik Demokratik Kongo, terjadi beberapa kali kudeta antara mereka. Namun setelah 6 juta penduduk meregang nyawa. Mereka kemudian kembali ke Negara Demokratik Kongo atas deklarasi oleh Laurent Kabila setelah menumbangkan Mobuntu Sese Seko yang berkuasa ketika itu.

Asia, Arab Dan Eropa

Pada negara Asia terutama Jepang. Menyambut tamu dengan membungkukkan badan merupakan cara paling hormat. Sementara untuk negara Eropa dan Arab adalah dengan menyentuhkan pipi dengan pipi secara normatif. Sebagai simbol berjabat tangan.

Demikian pembahasan mengenai budaya jabat tangan dari berbagai negara dan kerajaan yang ada di Dunia. Khususnya pada Kesultanan Gowa yang ada di Sulawesi.

Panrita lain, membaca ini Kerajaan Kajang Dalam Sejarah 4 Masa Kelahirannya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *