Pidato Dalam Pondok Pesantren
Kegiatan Ceramah Santri Dalam Pondok Pesantren (Foto: Eumpeawee.com)

Pidato Ala Santri, Mukadimah Terkeren, Contoh Ceramah

Diposting pada

BumiPanritaLopi.com, Budaya – Ada beberapa Pidato dengan gaya ala santri.

Menjalankan pendidikan di lingkungan yang tertutup memiliki keunikan. Di Indonesia, pondok pesantren menjadi salah satu pendidikan formal yang populer.

Walaupun memiliki kesan tertutup namun tidak menyurutkan motivasi siswa siswi untuk maju.

Sebutan bagi para siswa maupun siswi di lingkungan pondok pesantren adalah santri. Santriwan bagi laki-laki dan santriwati bagi perempuan.

Kehidupan para santri tidak lepas mengenai pendalaman terhadap agama islam. Mereka akan menonjolkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam komunikasi.

Pidato Ala Santri
Pidato Ala Santriwati (Foto: Santrimilenial)

Santri Dam Pengukuhan Sistem Negara

Santri telah membangun pembentukan karakter di Indonesia dan membantu mengukuhkan sistem Negara.

Oleh sebab itu dalam berpidato para guru mereka menyarankan untuk memasukkan unsur-unsur islami di dalamnya.

Hal itu untuk memperkenalkan islam pada khalayak dan memberikan gambaran positif mengenai kehidupan santri.

Para santri memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata dan mereka hidup dengan solidaritas, kebersamaan, dan tenggang rasa yang cukup tinggi.

Mereka mempelajari kitab-kitab klasik maupun modern dan menerapkan prinsip belajar otodidak.

Mereka terbiasa mendiskusikan banyak hal dan berdebat serta melakukan banyak kegiatan untuk membangun argumentasi dan berpikir kritis.

Dalam hal ego, para santri tidak memiliki hak mengatakan apapun sebagai yang paling benar karena mereka telah mempelajari sikap moderat dan toleran.

Mereka akan menuangkan semua ide-ide tersebut dalam sebuah tulisan yang dapat menjadi isi sebuah pidato yang berkualitas.

Seorang santri harus memiliki pandangan yang jauh ke depan terutama tentang membangun masyarakat agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Mereka harus mampu berproses di tengah masyarakat, membangun perekonomian, mengembangkan kualitas pendidikan, dan memberi keteladanan.

Santri juga harus mampu menjadi kader untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Di jaman milenial ini mereka harus mengedepankan doktrin Islam tanpa kekerasan.

Santri akan membacakan pidato pada hari-hari khusus seperti Hari Santri Nasional, hari perpisahan, dan hari-hari perayaan hari besar Islam lainnya.

Hari santri merupakan hari penting untuk memperingati peran kiayi dan santri di Indonesia dalam perjuangan mereka melawan penjajahan.

Hari itu jatuh setiap tanggal 22 Oktober. Isi dari sebuah pidato ala santri haruslah mengedepankan perjuangan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca juga: Kisah Umar Bin Khattab Masuk Islam: Mendengar Al Haqqah Ayat 40-43

Mukadimah Pidato Terkeren

Dalam sebuah pidato terdapat pembukaan, isi, dan penutup. Kata-kata pengantar sebelum pembukaan disebut Mukadimah. Walaupun hanya sebuah kata pengantar namun Mukadimah memiliki peran penting untuk menarik pendengar. Mukadimah harus menyesuaikan konteks pidato sehingga menjadi tepat sasaran. Beberapa contoh mukadimah pidato terkeren adalah sebagai berikut:

Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Bismillaah

Alhamdulillaah,

Assholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaah

Laa haula walaa quwwata illaa billaah

Wa ba’du.

Mukadimah tersebut cukup ringkas namun memberikan makna yang mendalam. Apalagi jika santri mampu membacakannya dengan intonasi yang tepat.

Tentu hal itu akan membuat pendengar menjadi bersemangat. Adapun arti dari mukadimah tersebut adalah Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah.

Semoga Allaah melimpahkan kasih sayangNya kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Tidak ada kemampuan pada diri manusia  selain atas ijin Allah.

Sumber: Beritaku.id

Contoh lainnya adalah

Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wabihi nasta’iinu ‘alaa umuuriddunya waddiin. Assholaatu wassalamu ‘alaa asyrofil mursaliin, wa’alaa aalihi wa sohbihi ajma’iin. Ammaa ba’du.

Kata-kata mukaddimah sebaiknya tidak terlalu panjang sehingga tidak membuat pendengarnya merasa bosan.

Terlebih apabila tidak semua dari para pendengar memahami arti dari mukaddimah tersebut. Contoh lainnya adalah:

Alhamduulillaahi robbil’aalamiin. Ya Allaahu Yaa Rohmaan Yaa Rohiim. Sholaatullaah salaamullaah ‘alaa tohaa rosuulullaah. Asyhadu allaa ilaa ha illallaah,  wa asyhadu anna muhammadarrosuulullaah. Allaahumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammad. Wa’alaa aali sayyidinaa muhammad.

Dari ketiga mukaddimah terkeren, yang mana menurut Anda yang dapat menarik perhatian pendengar?

Inti dari mukaddimah adalah memuji kebesaran Allaah. Tidak hanya itu, sebaiknya juga memanjatkan sholawat kepada Nabi Muhammad.

Akan lebih baik jika dapat menyelipkan doa di dalamnya seperti tidak ada kekuatan pada diri manusia melainkan karena kehendak Allaah.

Dengan demikian secara tidak langsung pembaca pidato menyadarkan semua yang hadir bahwa manusia adalah makhluk yang lemah.

Mukadimah Pidato Ala Santri

Pidato merupakan penyampaian pendapat di hadapan umum. Menulis pidato sesuai konteks lingkungan menjadi penting terutama di lingkungan pesantren atau dalam acara berbasis keagamaan.

Mukadimah pidato sebenarnya tidak harus dalam bahasa Arab. Namun jika membahas pidato ala santri tentunya akan sulit memisahkannya dengan bahasa tersebut. Sayangnya tidak semua orang mampu memahami bahasa Arab. Berikut adalah contoh mukadimah ala santri berbahasa Indonesia.

Assalaamu’alaikum warohmatullaah wabarokaatuh

Terpujilah wahai Allah. Berkat nikmat dan karuniaNya kita semua dapat berkumpul. Tidak ada kekuatan pada diri seorang hamba melainkan atas kehendak Allah.

Alhamdulillaah sampai saat ini kita masih diberikan nikmat iman dan Islam. Semoga kita semua senantiasa bersyukur atas nikmat tersebut.

Lantunan sholawat mari kita berikan kepada Nabi Muhammad SAW selaku Nabi yang akan memberikan banyak pertolongan bagi kita di hari akhir.

Menyesuaikan mukaddimah pidato dengan konteks dapat membuat pendengar menjadi lebih antusias.

Contohnya adalah pidato menyambut bulan suci Ramadhan ala santri.

Assalaamu’alaikum warohmatullaah wabarokaatuh

Alhamdulillaah

Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita kembali pada bulan suci Ramadhan.

Bulan penghapus dosa sekaligus bulan diturunkannya Al-Qur’an. Shalawat serta salam hendaknya selalu kita lantunkan untuk Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang Islamiyah.

Semoga syafaat beliau tetap kita dapatkan hingga hari kiamat.

Mukadimah juga dapat merupakan salinan ayat-ayat Al Qur’an.

Assalaamu’alaikum warohmatullaah wabarokaatuh

Wahai anak adam,  sungguh merupakan kebaikan ika kamu bertakwa kepada Tuhan mu karena Ia telah menciptakan kamu yang semula dari satu orang, kemudian Allah menciptakan istrinya.

Dan dari kalian Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan sudah sepantasnta kalian beriman kepada Allah dengan menggunakan nama Nya.

Kamu boleh saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Ketahuilah Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Contoh lainnya adalah dengan membacakan Qur’an surat Al Kahfi ayat pertama yang memiliki arti sebagai berikut:

Segala puji bagi Allaah yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada hambaNya dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.

Bagi seorang santri tentu sangat penting memasukkan unsur Islami ke dalam setiap tutur katanya terutama dalam pidato. Untuk itulah mereka harus bijak memilih mukadimah sesuai dengan konteks acara serta menyesuaikan dengan karakteristik pendengar.

Contoh Pidato Santri Tentang Cinta dan Pacaran.

Santri bukanlah malaikat yang tidak merasakan cinta. Mereka sama halnya dengan masyarakat maupun remaja pada umumnya.

Santri dapat merasakan cinta namun mereka memahami batasan-batasan untuk hal tersebut.

Mereka percaya melampaui batasan itu adalah sebuah dosa yang besar. Untuk itu jika santri harus membuat pidato tentang cinta dan pacaran, mereka harus menjelaskan mengenai batasan tersebut agar menjadi pembelajaran bagi para pendengar.

Contoh pidato santri tentang cinta dan pacaran

Assalaamu’alaikum warohmatullaah wabarokaatuh

Alhamdulillaah

Assholaatu wassalaamu ‘alaa asyrofil anbiyaa il mursaliin. Sayyidinaa muhammadin wa’alaa aalihi wasohbihii aj’ma’iin. Ammaa ba’du.

Hadirin yang terhormat rohimakumullaah

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allaah yang masih memberikan kita kesempatan untuk saling bersilaturrahim di tempat ini. Apa yang kita nikmati saat ini tidak lepas dari peran baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menbawa kita menuju peradaban Islam.

Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan beberapa hal mengenai cinta dan pacaran yang sebaiknya kita pahami.

Pacaran menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat namun tidak sedikit dari mereka yang memahami bahwa pacaran jaman sekarang sudah jauh dari akhlak muslim. Media menjadi salah satu pemicu karena kerap menampilkan kisah roman apalagi seolah menegaskan mengenai pacaran ala budaya barat.

Pacaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berzina dan berkencan, pergaulan yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan untuk mencapai kesenangan, dan pertemuan untuk menuju fase pernikahan. Islam menegaskan bahwa kita tidak boleh mendekati zina sebagaimana Al-Qur’an menuliskannya. Pernikahan memang baru akan terjadi setelah beberapa proses. Proses tersebut adalah penjajakan, meminang, dan tunangan. Maka jelas orang tua menjadi pengawas pergaulan anak-anak mereka. Apabila sudah memasuki usia dan tahap menikah, maka sebaiknya orang tua mempercepat proses pernikahan. Hal ini tentu untuk menghindari zina.

Hadirin rohimakumullaah,

Tidak pacaran bukan berarti kurang pergaulan. Justru seharusnya kita bersyukur karena Allaah melindungi dari zina. Tidak hanya itu, tanpa pacaran artinya kita menghindari pemborosan. Lebih baik uang tersebut untuk bersedekah daripada membayar tiket bioskop dan bergelap-gelap ria di dalamnya. Lebih baik lagi menabung untuk menikah.

Sesungguhnya ketika dua insan bukan muhrim berduaan maka pihak ketiga adalah setan. Ingatlah bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki nafsu. Mereka bukanlah malaikat sehingga sangat mudah terjerumus bujuk rayu setan. Itulah sebabnya agama islam menganjurkan umatnya untuk menyegerakan menikah. Setelah menimbang-nimbang mengenai pacaran, apakah ada manfaatnya? Justru besok saat menikah masalah pacaran ini akan menjadi keretakan rumah tangga. Menyinggung mantan pacar dan membanding-bandingkan istri atau suami dengan mantan pacar tentu menjadi tsunami dalam rumah tangga. Itulah sebabnya tidak perlu merasa minder jika tidak pernah pacaran.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa hendaknya kamu tidak berkhalwat dengan seorang wanita kecuali mahram. Sungguh jelas bahwa berduaan mendatangkan musibah dan tentu saja dosa yang besar. Zina merupakan apa yang ingin disampaikan dalam hadis tersebut. Yakinlah Allaah telah menyiapkan jodoh yang baik apabila kita senantiasa memperbaiki diri. Menjadi jomblo bukanlah sebuah dosa. Dengan tidak memiliki pacar artinya kita bisa fokus menata masa depan yang lebih baik.

Hadirin rohimakumullaah

Marilah kita renungkan dan sadari adakah faedah dari pacaran? Selain merupakan ajang senang-senang adakah unsur lain yang memberi dampak positif? Semoga Allaah senantiasa menjaga hati dan perilaku kita dari perbuatan maksiat. Pilihlah tayangan-tayangan yang bermanfaat dan menambah nilai iman kita. Ingat jika negara kita mengusung budaya ketimuran yang menjunjung adab dan sopan santun. Media justru menayangkan kisah roman budaya barat . Maka bijaklah dalam memilih media.

Demikian pidato yang dapat saya sampaikan. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Segala hal yang baik datangnya dari Allaah dan jika ada yang kurang baik datangnya dari diri saya.

Billaahi taufik wal hidaayah

Wassalaamu’alaikum warohmatullaah wabarokaatuh.

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *