Kerajaan Kajang Dalam Sejarah 4 Masa Kelahirannya

  • Whatsapp
Sejarah berdirinya Kerajaan Kajang
Sejarah berdirinya Imperium Kajang (Foto: Kaishar)

Kajang secara teritorial sebagai sebuah kerajaan, dengan kawasan dan kekuasaannya yang masih ada hingga saat ini.

Bumipanritalopi.com, Budaya – Bulukumba dengan dengan sebutan tana panrita lopi, memiliki sebuah sejarah yang menarik. Lengkap peradaban yang masih ada hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Ketika orang mendengar penyebutan kata kajang dalam pikiran mereka adalah salah satu nama kecamatan di Kabupaten Bulukumba.

Penduduknya memiliki pakaian khas sebagai hitam pada laki-laki dewasa memakai passapu atau orang Makassar menyebutnya patonro sama dengan pakaian digunakan oleh Sultan Hasanuddin raja Gowa ke-16. Pakaian hitam tersebut berupa sarung yang biasa mereka sebut sebagai tope le’leng. (Tope adalah sarung, le’leng adalah hitam)

Hal lain yang sering menjadi identitas bagi komunitas Kajang adalah penggunaan bahasa konjo yang identik dengan bahasa Makassar.

Bahasa dan “atau” suku konjo ini mendiami sekitar pegunungan Bawakaraeng Malino dan sekitarnya.

Mengikuti daerah pegunungan mengarah barat laut dengan panorama alam yang indah gugusan perbukitan yang saling sambung menyambung antara satu dengan yang lain. Seperti Bone, Maros, Pangkep, Barru, Enrekang dan Polmas (Mattulada 1964).

Asal Usul Kerajaan Kajang

Menurut sejarah asal-usul berasal dari tau Manurung yang keluar dari ruas bambu petung (Pattong) yang bernama Bhatara daeng ri langi’. Yang menikah dengan Pu (atau puang) Tamparang daeng Malowang.

Hasil perkawinan tersebut melahirkan 4 orang anak yakni:

  1. Tu’ Tentayya Matanna di na’nasayya sebagai cikal bakal terbentuknya Kerajaan Laikang.
  2. Tau Kale Bojo’a di Lembanglohe sebagai cikal bakal terbentuknya Kerajaan Lembang
  3. Tu sappayya lilana di Kajang sebagai cikal bakal terbentuknya Kerajaan Kajang
  4. Tau Kaditilia Simbolenna yang sayang dengan ibunya tinggal di Raowa.

(Sumber, Buku Sejarah Kajang, Karya Abdul Haris Sambu).

Penyebutan kata Tu’ sama dengan kata tau. Yakni kata ganti “orang”

Bekas pijakan terakhir Bhatara dan Rilangi bersama anak keempatnya tau Kaditiliya Simbolenna. Masih dapat kita saksikan bahkan saat ini menjadi monumen untuk mengenang manusia legendaris tersebut.

Orang Kajang selain berasal dari tomanurung juga banyak bercampur darah Bugis dan Makassar melalui perkawinan pada kedua suku.

Gadis Kajang
Gadis Asal Kajang (Foto: Ist)

Sehingga orang Kajang menjadi genitas Bugis dan Makassar dapat terihat pada panggilan sehari-hari.

Apabila seseorang menyebut atau memanggil seseorang garis pertalian darahnya sebagai paman atau dalam bahasa konjo purina maka yang bersangkutan mendapat panggilan puang. Dan itu identitas panggilan orang Bugis.

Dan jika seseorang ingin dengan segaris pertalian darahnya sebagai sepupu dan seterusnya atau bahasa konjonya simbarrisi (segaris horisontal/satu generasi).

Maka yang bersangkutan mendapat panggilan Daeng. Itu berlaku untuk panggilan kepada yang lebih tua. Daeng identik dengan Makassar. Sebaliknya jika yang lebih tua memanggil kepada adiknya, maka dengan sebutan “andi” (ari). Identik dengan panggilan adik bagi Suku Makassar.

Gelar Raja di Kajang

Selanjutnya jika orang Kajang yang berdarah Bugis dan Makassar menjadi Karaeng pada tana Kajang atau Camat Kajang. Ammatoa menyebutnya labbiriyah atau orang yang kita muliakan.

Maka yang bersangkutan akan dipanggil dengan sebutan Puang karaeng dengan makna panggilan puang mewakili daerah Bugis dan karaeng mewakili daerah Makassar.

Hal ini terjadi pada Karang Kajang yang kedua dengan panggilan Puang Karaeng yakni Mattu Daeng Pahakkang.

Yang sebelum terlantik sebagai karaeng Kajang. Beliau hanya dipanggil Puang di Papanjayya. Yaitu suatu gelar atau sebutan seseorang sebagai kepala kaum atau kepala suku.

Sebagaimana yang telah kita utarakan pada kata pengantar dari buku yang berjudul sejarah Kajang karya Abdul Haris Sambu dalam buku tersebut mengupas sejarah Kajang dari masa ke masa.
Sebagai bahan rujukan bagi generasi muda pada masa mendatang.

Selanjutnya struktur pemerintahan juga akan menjadi salah satu topik pembahasan. Agar pembaca buku dapat mengerti dan memahami struktur pemerintahan di Kajang.

Pada masa sebelum penggabungan maupun pada masa setelah penggabungan tiga kerajaan menjadi 1 yaitu Kerajaan Kajang hingga memasuki masa kemerdekaan.

Struktur Pemerintahan Kajang dari Masa Ke Masa

Tidak secara langsung membentuk secara utuh sebuah kerajaan, namun mengalami beberapa kali perubahan. Untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara naturalistik.

Masa dan struktur pemerintahan autokrasi di Kajang telah beberapa kali mengalami perubahan. Yang secara garis besar dapat terbagi menjadi empat masa yaitu:

  1. Tau Manurung
  2. Gallarrang
  3. Masa Karaeng
  4. Masa Camat

Sedangkan struktur pemerintahan juga telah mengalami beberapa kali perubahan Sesuai dengan perkembangan zaman.

Maka Perubahan 4 masa, selain sebagai adaptasi sosial juga sebagai bentuk kepatuhan kepada undang-undang atas kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun proses penggabungan faksi pemerintahan terdiri dari beberapa bagian. Yang bernama Gallarrang. Mirip dengan pemerintahan Gowa dengan penyebutan Bate Salapang.

Kunjungan Kejari Ke Kajang
Kunjungan Kejari Bulukumba ke Kawasan Adat Ammatoa (Foto: Ist)

Struktur pemerintahan pada awal penggabungan kedaulatan pada imperium Kajang terdiri 9 gallarrang atau kepala kaum tersebut, yakni:

  1. Pantama
  2. Lembang
  3. Tambangan
  4. Lombok
  5. Malleleng
  6. Jalaya
  7. Anjuru,
  8. Tanete,
  9. Anrong Guru Lolisang.

Untuk lebih jelasnya struktur pemerintahan (gallarrang) mencakup penggabungan 3 kerajaan yaitu:

  1. Kajang
  2. Lembang dan
  3. Laikang.

Menjadi satu itu dengan nama besar “Kajang”

Masa Tumanurung, Lebih Dulu Dari Gowa, Bone dan Luwu

Kehadiran Tau Manurung dan Ammatoa di kecamatan Kajang merupakan sebuah episode yang tidak dapat kita ketahui secara pasti karena tidak ada bukti rujukan secara tertulis.

Jadi sampai pada pembahasan ini, kita mengalihkan pandangan bahwa di Kajang ada 2 alur sejarah pemerintahan, yakni Tau Manurung dan Ammatoa. Keduanya berbeda, namun tidak terjadi rivalitas.

Untuk hadirnya Tomanurung (Tau Manurung) di Kecamatan Kajang.

Terjadi sebuah peristiwa bahwa kehadirannya mendahului kehadiran tomanurung di daerah lain seperti Luwu, gowa, bone, soppeng dan Wajo.

Kehadiran tumanurung di Tamalate Gowa. Diperkirakan pada tahun 1320 Masehi (Limpo, 1995).

Jika kehadiran tau manurung di Kajang mendahului kehadiran tumanurung di Tamalate Gowa. Maka kehadiran tomanurung di Kajang dapat kita perkirakan sekitar tahun 1300 Masehi.

Sementara itu keberadaan ammatoa di kecamatan Kajang. Dianggap sebagai Centrum atau tokoh Sentral, juga masih misterius dan penuh tanda tanya.

Apakah kehadirannya sebelum datangnya tomanurun di Kajang.

Seperti yang telah terungkap pada pasanga ri Kajang (hukum adat imperium Kajang). Bahwa ammatoa sebagai tau Mariolo atau manusia terdahulu yang turun pada sebuah bukit yang bernama tombolo.

Tombolo adalah sebuah bukit yang menyerupai tempurung kelapa. Dari latar belakang sejarah tersebut sehingga Kampung ini bernama tanah toa. Atau tanah permulaan dan atau tanah tertua.

Yang akhirnya Tombolo menjadi salah satu wilayah Gallarrang. Dalam struktur adat limayya yaitu gallarang Lombok. Dan sejak istilah karaeng berubah menjadi camat maka gelar Lombok berubah menjadi sebuah Desa. Dengan nama Desa Tana toa.

Dengan demikian jika keberadaan Ammatoa mendahului kehadiran tomanurung di Kajang maka masa tomanurung berkisar antara tahun 1300 masehi hingga 1400 Masehi.

Pada masa itu belum ada struktur pemerintahan pada tiga kawasan di Kajang, lembang maupun laikang. Atau masih status zaman Tumanurung.

Masa Gallarrang

Untuk teritorial kedaulatan Kajang yang merupakan komunitas. Ammatoa hanya pemangku adat yang kita sebut adat buttayya dengan pimpinan ammatoa.

Dan istilah adat lainnya adalah limayya di Tanahlohea. Sedang kerajaan Lembang dan laikang hanya dikepalai oleh Kepala kaum. Atau kepala suku dengan gelar Puang akan tetapi tidak berstruktur.

Kemudian beralih ke masa gallarrang

Masa gallarang kita perkirakan pada awal abad ke-XV. Yang hampir secara bersamaan pada tiga pemerintahan tradisional di Kajang terbentuk struktur pemerintahan.

Yang bernama gallarang yang berjumlah 9 orang gallarang. Sudah kita coba gores pada bahasan paragraf sebelumnya.

Peta Gallarrang di Kerajaan Kajang

Terdapat beberapa kelompok gallarrang yang mendiami kawasan tersebut

Di teritori Kajang terbentuk struktur pemerintahan yang terdiri 5 gallarang yakni:

  1. Pantama
  2. Kajang
  3. Puto
  4. Lombok dan
  5. Malleleng.

Di Lembang terbentuk struktur pemerintahan yang terdiri dari 2 bagian yaitu:

  1. Lembang dan
  2. Jalaya.

Sedangkan laikang membentuk juga struktur pemerintahan yaitu Gallarang Malakuna. Yang kemudian hari berubah nama menjadi Laikang

Tidak hanya sampai di situ tapi juga ada lagi gallarrang lainnya yang terbentuk pada kawasan Na’nasayya, merupakan teritori tunggal dengan menjalankan struktur birokrasi pemerintahan sendiri.

Meski berdiri sendiri maka ia melakukan sebuah koordinasi secara horizontal dengan pemangku adat di Malakuna, Jalaya, dan Lembang sebagai bagai hubungan kerjasama bilateral. Adapun secara vertikal melakukan koordinasi dengan Sombaya di Gowa.

Akan tetapi status Gallarrang Na’nasaya sebagai galaran tunggal tidak bertahan lama. Ketika terjadi penggabungan 3 kelompok adat menjadi satu dengan nama besar Kajang.

Maka teritorial ini menggabungkan diri dengan masuk dalam teritorial Jalaya.

Bahkan setelah Gallarang Jalaya berubah menjadi Kelurahan Tanah Jaya. Maka wilayah gallarrang Na’nasaya tetap menjadi bagian dari wilayah Kelurahan Tanah Jaya hingga saat ini.

Na’nasayya merupakan area terluar dari Kajang, yang berbatasan dengan teritorial Karaeng Hero Lange-lange, (sekarang bernama Kecamatan Herlang). Posisinya mengarah ke timur dari kawasan Adat Ammatoa.

Penaklukan Kerajaan Gowa

Jika kita telusuri masa gallarang sebagai struktur pemerintahan yang bersifat otonomi berlangsung di Kajang sekira 150 tahun lamanya.

Yaitu bermula dari awal abad ke-XIV sampai pertengahan abad ke-XV.

Akhirnya terjadi peningkatan suhu dan tekanan antar tiga kerajaan Tellu Boccoe di Sulawesi Selatan. Dengan ekspansi kekuasaan kepada kerajaan-kerajaan kecil termasuk negeri-negeri hutan juga menjadi target Kerajaan Gowa.

Bahkan sudah beberapa daerah yang sudah berstatus kerajaan sudah takluk oleh Kerajaan Gowa menjadi daerah bawahannya seperti:

  1. Hero lange-lange
  2. Ujung loe
  3. Gantarang
  4. Tondong (Sinjai)
  5. Bulo Bulo (Sinjai)
  6. Manimpahoi (Sinjai)
  7. Lamatti (Sinjai) dan
  8. Kajuara (Bone)
  9. Salomekko (Bone) dan beberapa yang lainnya.

Namun kawasan Kajang tidak termasuk sebagai area kekuasaan Sombayya ri Gowa dan Mangkauk e di Bone.

Otonomi Kerajaan Kajang

Hambatan Gowa untuk menaklukkan tiga kampung adat imperium Kajang masing-masing: Kajang, Lembang dan laikang.

Setidaknya ada dua faktor penyebabnya yaitu

  1. Status tiga kerajaan masih berstatus gallarang. Tidak bersyarat untuk menjadi daerah bawahan langsung oleh sebuah kerajaan besar seperti Kerajaan Gowa kerajaan Luwu dan kerajaan Bone.
    Kecuali daerah tersebut sudah berstatus menjadi sebuah kerajaan kecil yang layak membayar upeti atau pajak kepada kerajaan induk.
  2. Hambatan berikutnya Gowa untuk menaklukkan kekuasaan Kajang. Karena ammatoa selaku pemangku adat mewakili komunitas Kajang.
    Telah datang menghadap ke Raja Gowa ke 4 dan 5. Meminta kalabbirang agar Kajang tidak terikat. Adat dan tata cara kerajaan yang berlaku pada Kerajaan Gowa.
    Dan Raja Gowa menyetujui permohonan untuk tidak menjadikan Kajang sebagai daerah bawahannya.

Pasang di Kajang dan dan lontara di Gowa yaitu “tu rimangkau tuna pasanga ri Kajang nasituruki lontaraka ri Gowa. Kajang Tanapeppe lima gowa, na Gowa tanna peppe lima Kajang”.

Artinya Kajang tidak mendapat intervensi Gowa begitu pula sebaliknya Gowa tidak terintervensi oleh Kajang.

Kesepakatan inilah antara ammatoa Kajang dan sombayya di Gowa menjadi bukti bahwa Kajang adalah sebuah daerah yang berdaulat dan tidak terikat kepada tiga Imperium besar di Sulawesi Selatan.

Dengan demikian, Imperium Kajang dengan Ammatoa, bebas menentukan kedaulatan sendiri dengan pimpinan berupa Ammatoa. Dengan fatwa “pasanga ri Kajang” sebagai hukum yang mengikat pada seluruh gallarrang dan pemerintahannya.

Kelanjutan Tulisan akan membahas sejarah Kerajaan Kajang pada masa karaeng.

Jika anda berkunjung kekawasan ini, jangan lupa ke tempat pariwisata menarik dan terbaik Bulukumba.

Seakan kita haus membaca sejarah perjalanan Kajang ini, yang membuat kita seakan ingin menjelma menggunakan sarung Kajang. Untuk menikmati sensasinya. Bagaimana rasanya menggunakan Tope Le’leng asal Kajang tersebut?

Sumber Bacaan:

  1. Sejarah Kajang, Sambu, Abdul Haris (2016), Penerbit Lentera Kreasindo dan Yayasan Pemerhati Sejarah sulawesi Selatan
  2. Mengenal Suku Konjo, Beritaku.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *