Pasukan Balira Dalam Pasang Ri tiro

Pasang Ri Tiro Pada Acara Pesta Alief & Yuni 5 Juni 2021

Diposting pada

Bumipanritalopi.co, Budaya – Pasang Ri Tiro menghiasi Pesta pernikahan antara Muhammad Alief Fahdal Imran Demar, ST, MSc. dengan Yuni Andiyani Basri, ST yang berlangsung pada 5 Juni 2021, pada ruang Phinisi 2 Hotel Claro Makassar.

Dalam proses penerimaan tamu (resepsi) pernikahan tetap menggunakan batasan dengan protocol covid tersebut.

Pementasa KSATRIA

Pasang Ri Tiro Pada Penjemputan Pengantin

Sekira pukul 12.00 setelah melalui proses pernikahan dan adat mappasikarawa, maka selanjutnya memasuki ruangan untuk melakukan proses resepsi.

Dalam ruangan tersebut duduk undangan, tepat pada pintu masuk, terdapat beberapa wanita dengan pakaian adat Makassar, dengan menggunakan Balira sebagai pengawal pengantin.

Balira adalah sebuah benda dengan panjang sekira 150 cm, terbuat dari batang kelapa atau batang lontar. Fungsi dari alat ini sebagai senjata pasukang Bainea.

Adapun yang menjadi pasukan Balira dari kegiatan ini adalah:

  1. Insani
  2. Mila
  3. Nurul
  4. Reski
  5. Cantika

Mereka merupakan para pemain silat dari KSATRIA binaan dari Yayasan Generasi Mandiri Nusantara Sejahtera (GEMA NUSA Foundation).

Tampil sebagai pemain awal Insani, memainkan beberapa jurus dari pasukan Balira, dengan lihai memainkan alat tersebut, sebagai penjemputan dari kedua mempelai.

Selanjutnya naasi Angngaru, sebagaimana narasi ini merupakan buah karya dari Prof Andi Imran Umar.

Aru Menjemput Tamu

(Kalimat Bijak Prof Andi Imran Umar)

Tabe ki pammopporangnga Aringku, Anakku Russanakku Andi Muhammad Alif Fahdal Imran

Ki padakka bangkenta Aringku, Anakku Russanakku Yuni Andiyani Basri

Ki palisa’ cinnata

Kipa’nassa pangngitte’ ta

Ku labbiriki ri nyaha ma’linona tamma linoku…

Kupala’  alompo i dalle’ ta…

Ku sulengka ri dallekanta

A’pikatu ri pammentengang …

Na tarimaki butta Tiro

Na kala’biri ki ,,,,,,,pattiroang

Ku sareki katallasang (di taburi  beras)

Ku padongko ki labbiri  tamma’tappu….(di kalungkan  sarung)

Artinya:

Mohon maaf Andi Muhammad Alif Fahdal Imran

Langkahkan kakimu Yuni Andiyani Basri

Injakkan hasratmu …..

Perjelas penglihatanmu…..

Kuberikan penghormatan dengan segenap jiwaku yang lapang…

Kudoakan semoga banyak dan berkah rejekinya…..

Kubersimpuh dihadapanmu….

Dan memberitahukan kepadamu….

Butta Tiro telah menerimamu…

Serta dihormati orang Tiro….

Kuberikan kehidupan…..

Kuberikan penghargaan tak berujung…..

Ucapan Selamat Datang

Dengan pengawalan pengantin oleh Pasukan Balira, sebagaimana pasukan ini adalah merupakan pasukan bainea bentukan dari I Fatimah dg Takontu, yang tidak lain merupakan putri dari I Mallombasi Dg Mattawang atau Sultan Hasanuddin.

Heroiknya pasukan ini, tidak kalah dari pasukan bentukan Laksanaman Malahayati, Cuk Nyak Dien dan Cuk Di Tiro. Sebab pasukan ini tidak hanya tangguh dan berani di tanahnya Sulawesi atau Kesultanan Gowa, namun juga melakukan ekspansi perlawanan terhadap Belanda hingga ke Pulau Jawa, menjadi pasukan bantuan pada Kesultanan Banten dan beberapa kerajaan di Jawa.

Yang pada akhirnya pasukan ini berlabuh di Kerajaan Mempawah (Kalimantan Barat). Pun pada kisah berikutnya I Fatimah dg Takontu dengan gelar Garuda Betina dari timur di makamkan didaerah tersebut.

Para penonton yang berbahagia, yang memainkan permainan ini adalah pemain terlatih, dan seluruh Properti mereka dirancang dengan sangat aman, sebagai pemain professional dengan 4 orang Official.

Gerakan para pemain Balira ini merupakan hasil perenungan para pelatih dengan kejernihan jiwa dan nurani dalam mempersembahkan pementasan terbaik.

Tema Balira diambil pada pesta ini, mengingat bahwa dulu di Tanah Konjo termasuk Tiro Kabupaten Bulukumba merupakan area yang banyak bermukim para wanita penenun kain sutera. Hingga kini, Balira ini masih ada dirumah-rumah penduduk.

Balira merupakan senjata yang mampu mematahkan ilmu kebal dan ilmu-ilmu kaburu’neang lainnya.

Yang di kemudian hari, kita memahami bahwa moyang kita para perempuan penenun dulu adalah merupakan pewaris mainan wanita dengan sebutan Pasukan Balira (Bainea).

Ananda, Saudara, Adinda Andi Muhammad Alief Fahdal Imran Demar, ST, MSc. Putra Dari Prof. Dr. Rer Nat. Andi Imran Umar Dan Prof.Dr. Haliah, SE, M.Si, Ak. CA, CRA, CRP, CWM. Bersama Istri atas Nama Yuni Andiyani Basri, ST, anak dari pasangan (Alm) Drs Basri Ali dan Erfina Rabiasa. Selamat memasuki ruangan

Mempelai Berjalan menuju pelaminan

Ketika berjalan menuju ke pelaminan, ada gangguan. Seorang lelaki dengan badik terhunus berdiri di tengah jalan, hendak menghalangi. Namun dengan gerakan melangkah kedepan salah satu pasukan Balira (cantika) menghadapi gangguan ini.

Dengan mengandalkan selendang, maka pengganggu tersebut berhasil dilumpuhkan.

Gangguan Kedua

Tidak lama setelah rombongan pengantin berjalan, kembali 2 orang lelaki menghadang dengan badik terhunus. Proses ini tidak boleh berhenti, sebab momen sakral pernikahan adalah hal yang harus tuntas pada hari itu.

Maka Ayu melangkah kedepan mengambil posisi, dengan senjata kipas, dia berhasil melumpuhkan semua pengganggu tersebut. Akhirnya prosesi selanjutnya pengantin berjalan pada karpet merah.

Angngera Popporo

Selanjutnya kedua mempelai akan melakukan sungkeman atau dalam bahasa Konjo adalah Angngera Popporo Kepada:

  1. Erfina Rabiasa (ibunda dari Yuni Andiyani Basri)
  2. Yang Mewakili Drs Basri Ali (Alm. Ayah dari Yuni Andiyani Basri)
  3. Prof.Dr. Haliah, SE, M.Si, Ak. CA, CRA, CRP, CWM (Ibunda dari Andi Muhammad Alief Fahdal Imaran)
  4. Prof. Dr. Rer Nat. Andi Imran Umar
  5. ……..

Prosesi ini adalah sebuah prosesi haru, tawa tak mampu terbahak, tangis tak mampu berteriak. Hanya detak jantung dengan jiwa terdalam sebagai tempat mengadu. Mereka berbahagia menyaksikan kedua anaknya telah berumah tangga. Namun dalam benak mereka berharap mereka baik-baik saja.

Sementara sang pengantin, ada ruang senyum yang terlintas namun mereka takut jauh dari orang tua. Sehingga biasanya proses Angngera popporo ini hanya berisi airmata. Dan senyum tanpa kata. Mereka benar-benar bersimpuh sebagai permohonan restu yang mereka deklarasikan didepan para hadirin.

Gaya duduk addeppo (bersila) ini bukan hanya simbol pada hari ini, tapi kebiasaan ini akan terus berlangsung sebagai sebuah rangkaian secara filosofi anak merendahkan diri dari kedua orang tua.

Selanjutnya, setelah prosesi Angngera Popporo maka dipersilahkan kepada Pasangan Suami Istri, Andi Alief dan Yuni Andiyani dengan didampingi oleh Kedua Orang tua.

Pesan Orangtua Kepada Kedua Mempelai

Pasang Na I Toa Buru’ne A’tiro Ri Tiro

Pasang Ri Tiro ini merupakan narasi dari leluhur Prof Imran Umar, kira-kira pertengahan abad ke 15.

Abicara ko ri kaleng nu….ang gaukang ko ri lino nu

Sessa ri ati terasa…sannang ri ati lamma

Pinahangngi ati pattantu na tau a

Kale inni alloa na pa’nassai sallo’ kalenna ri pa bojan na

Pi lang ngeri pasang ma’ lino ku….. Punna na rapi hattunna :

Allayang mi pattong ko na ganrang pa’pikatu a

Punna tala am bua’ mi tara uheya ri possi tana,

ta’ timbaji mingka na tongko kalen na mi possi tannaya….

Maknanya:

Tanyakan pada dirimu, berbuatlah untuk duniamu,
Susah pada hati mengeras, senang pada jiwa bijak,
Ada masa pelangi tak tampak lagi di Possi Tanah (pusaran bumi)
Maka pada masanya Possi Tanah akan menutup dirinya.

Fadil Alwi Fadhil

Pa’biritta

La rie sallo pa’biritta pangu’rangi ri tau ma nassa ya tau

La ri e sallo’ hattunna :

Talabija mi taua…….

Tala a’kampong mi patanna kampong…..

Tala angngitte mi ri allona……

Belo na lino ni haju bija, puntana ni haju karaeng,

Kahaji kang a’jari kodi na ka kodiang a’jari haji’…….

Si paka  tau ri kale si kanre ri rara

Maknanya:

Ada masa, seseorang tak lagi dengan keluarganya
Pribumi tak lagi menghuni tanahnya,
Buta pada siang hari
Hiasan dunia menjadi keluarga, tanah menjadi raja,
Hal baik menjadi buruk, yang buruk menjadi baik,
Bersaudara saling memakan darah.

Ikhsan Adit dan Fahri Fajrin

Bahine a’nang kala buru’ne a’pallu

Sannang ri tallasa ru’ru su ri pa’mai

Ana’ a’jari  karaeng  toa a’jari ata

Tangku minasa mingka ku’ pasang :

Larappai kampongnga ri tau tamma tau

Maknanya:

Istri membajak sawah, suami menanak nasi
Anak menjadi raja, orangtua menjadi pembantu
Aku tak berharap, namun saya berpesan:
Akan lebur dunia ini.

Insani – Adit – Ikhsan

Lam bua’ i puang sembo

La puntana i pa’biritta lamung lamung lanri anre’na

Pasang matappa belo-belo ma’nassa.

Tau tamma lino a’gau, tau ma’lino ri lino tamma lino ampinahangngi ri sassang

Puntanna garring tala a’lipa…..ti re re ri buhung pa’pi katu

Katallasang ma nassa na lino tamma lino

Lani lama’ mami puntanaya

Allo na bangngi’ a’kambarami tamma le’leng ri kale’lengang tamma pute ri kaputeang……

Nyaha ma’ nassa kale tala pitau.
Tau ri butta tiro, nyaha ributta kamase masea (Kajang)
A’nyaha i tiro…appi taui kamase-masea
Silabbiri ri pa’ linoang….si panrita ri lino tamma lino

Maknanya:

Siang malam akan kembar tidak hitam pada yang hitam, takkan putih pada yang putih
Fisik berbentuk namun rupa tak seperti manusia
Namun manusia di Tana Tiro, jiwa pada para leluhurnya
Bernafas pada bumi Tiro, dengan hidup sederhana
Disukai oleh lama, dan bijak pada kesederhanaan.

Mila – Fadil

Penyerahan Pusaka

Sebagai suatu bentuk prosesi sakral dalam kegiatan ini berikutnya adalah penyerahan pusaka.

Adapun pusaka yang diserahkan adalah Badik Bontoala Atau Badik jenis Raja.

Badik ini merupakan simbolilasi pada masa lampau, sebagai penyatuan antara Bugis dan Makassar.

Adapun ciri dari Dedde’ Bontoala ini adalah memiliki perut badik yang cenderung ketengah. Jika kita membandingkan antara badik bugis dengan perut cenderung keujung, sementara badik Makassar dengan perut cenderung ke pangkal (gagang). Maka badik Bontoala menarik keduanya, sehingga sedikit ke arah tengah.

Tentu ini sangat tepat, sebab mengingat Prof Imran Umar merupakan keturunan asal Bugis Bone, dengan Bulukumba Konjo Makassar.

Pasang Toa Kepada Anaknya

U’rangi pau-paungku..
Inai ampasi sa’la i Tiro na kamase-masea (Kajang)
Hassung ri lino…..tala jannang ri lino tamma lino
Punna jari pasang ku
Punna rie’ ja tau malino ri lino tamma linoa
Lamminroi pattongkona batu ganrang nga na tajang ngi ri batu ganrang berua….
Hojai ri possi tana ma’bi caraya….
Lamung-lamung ma’ kampong ….pa’biritta lamung-lamung a’tinro…

Artinya:

Ingat perkataanku,
Siapapun yang memisahkan antara Tiro dan Leluhurnya,
Celaka dunia dan akhirat
Jika pesanku ini terwujud
Jika suatu waktu ada manusia hidup sebatang kara,
Lihatlah di pusat bumi yang berbicara,
Berita kebaikan akan sampai kepadamu.

Pernyataan (dibacakan) berikut ini, tepat ketika orangtua melakukan penyerahan badik pusaka kepada mempelai lelaki.

Assalamu Alaikum War. Wab.

Ya Allah, lindungilah Anak kami bersama pasangan dan keluarga. Kami kirimkan salam dan Sholawat kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Wahai anakku Andi Muhammad Alief Fahdal Imran Demar, ST, MSc, dengan ini saya serahkan Badik Pusaka, sebagai simbol budaya leluhurmu, untuk kamu berdiri tegak sebagai seorang lelaki dengan penuh tanggung jawab yang ada dipundakmu.

Pegang budaya siri’mu dalam sikap dan prilakumu, hari ini kamu memasuki masa sebagai rangkaian pendewasaanmu dengan amanah sebagai seorang suami.

Wassalamu Alaikum War. Wab.

Pernyataan Pengantin Setelah Menerima Pusaka

Pernyataan (dibacakan) mempelai lelaki saat menerima pusaka

Assalamu Alaikum War. Wab.

Ya Allah, Mohon ampunanMu, mohon junjunganMu. Juga kami kirimkan salam dan sholawat kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Untuk Ayahanda dan Ibundaku, baik ayah ibu yang melahirkanku, maupun ayah ibu yang melahirkan pasanganku. Juga kepada seluruh hadirin yang ada dalam ruangan ini.

Izinkan saya Andi Muhammad Alief Fahdal Imran Demar, ST, MSc, suami dari Yuni Andiyani Basri, ST. Setelah saya menggenggam badik pusaka pemberian orangtua tercinta. Maka ini menjadi simbol saatnya saya memikul tanggung jawab. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga tanggung jawab terhadap istri saya, beserta keluarga.

Maka dengan ini, kami memohon restu seluruh yang hadir dalam ruangan ini. Doakan perjalan kami, semoga kami bisa mempersembahkan yang terbaik untuk keluarga ini.

Wassalamu Alaikum War. Wab.

Closing

Selamat kepada adinda Andi Muhammad Alief Fahdal Imran Demar, ST, MSc. Suami dari Yuni Andiyani Basri, ST beserta Keluarga Besar Bulukumba, Bone, Pare-pare dan Sidrap. Kami segenap Ksatria binaan dari GEMA NUSA Foundation, mengucapkan terima kasih atas segala atensinya. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Dengan ini acara kami serahkan kepada Master Of Ceremoni kegiatan pada siang hari ini.

Wassalamu Alaikum War. Wab.

Personil yang turun pada acara

Sebagaimana KSATRIA merupakan komunitas kajian seni kreatif, dalam kegiatan tersebut menampilkan para pemain dan Official.

Pemain

Adapun pemain adalah:

  1. Insani
  2. Mila
  3. Nurul
  4. Reski
  5. Cantika
  6. Putra
  7. Muhammad
  8. Adri
  9. Dani
  10. Fahri
  11. Fajrin
  12. Fadil A
  13. Fadil B
  14. Ayu
  15. Alwi
  16. Ikhsan
  17. Adit

Official

Sebagai pelatih dari pementasan tersebut adalah:

  1. Dg Tinri
  2. Dg Nya’la’
  3. DgSiama’
  4. Dg Ngamba

Personil KSATRIA

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *