Suku di Bulukumba Bugis Makassar Konjo
Suku di Kabupaten Bulukumba, Yang Mendiami 10 Kecamatan (Foto: Pegipegi.com)

Suku Di Bulukumba, Sebaran, Kehidupan Ekonomi Dan Sosial Politik

Diposting pada

Bumipanritalopi.com, Tana Panrita – Ada beberapa Suku di Bulukumba. Dimana Bulukumba Bumi Panrita Lopi, sebagai kabupaten dengan budaya maritim, mendiami bagian selatan dari Sulawesi Selatan.

Kabupaten penghasil Perahu Pinisi yang mendunia ini, disamping memiliki kekayaan budaya kerajinan tangan berupa Lopi Pinisi. Juga memiliki kekayaan budaya adat Ammatoa.

Jarak Ibu Kota Kabupaten Bulukumba dengan pusat ibukota Provinsi adalah 155 KM dari kota Makassar.

Dengan jumlah penduduk mencapai 400 ribu jiwa. Yang mendiami daratan dan pesisir pada kordinat antara 5°20” s/d 5°40” Lintang Selatan dan 119°50” s/d 120°28” Bujur Timur.

Terdiri dari sebaran kecamatan, dari Bantaeng ke Selayar dan membentang ke Sinjai, sebanyak 10 Kecamatan, 24 Kelurahan dan 123 Desa. Menjadikan Bulukumba dengan kondisi Demographi yang mejemuk.

Suku Di Kabupaten Bulukumba Berdasarkan Kecamatan

Terdiri dari 10 Kecamatan di Bulukumba, Yakni:

  1. Gantarang,
  2. Kindang,
  3. Ujungbulu,
  4. Rilau Ale,
  5. Bulukumpa,
  6. Ujungloe,
  7. Bontobahari,
  8. Bontotiro,
  9. Herlang, dan
  10. Kajang,

Secara garis besar, ada 2 Suku yang mendominasi di Kabupaten dengan tagline Bulukumba Berlayar (bersih lingkungan alam yang ramah). Yaitu, Suku Bugis dan Makassar Konjo.

Sebaran Suku di Butta Panrita Lopi Perkecamatan

  1. Gantarang (Bugis, Makassar Konjo)
  2. Kindang, (Bugis, Makassar Konjo)
  3. Ujungbulu, (Bugis, Makassar Konjo, Jawa, Mandar dan Tionghoa)
  4. Rilau Ale, (Bugis)
  5. Bulukumpa, (Bugis)
  6. Ujungloe, (Bugis, Makassar Konjo)
  7. Bontobahari, (Bugis, Makassar Konjo)
  8. Bontotiro, (Makassar Konjo)
  9. Herlang (Makassar Konjo), dan
  10. Kajang (Makassar Konjo, Bugis)

Ada beberapa kecamatan yang dominan Makassar Konjo ada pula dominan Bugis. Meski pada kenyataannya, tidak berarti 100% dominannya. Melainkan tetap ada campuran dari suku lain dalam jumlah minoritas.

Kecamatan yang dominan bugis adalah yang berbatasan dengan Kabupaten Sinjai. Yakni Kecamatan Rilau Ale, Bulukumpa, dan beririsan dengan Gantarang/Kindang.

Sedangkan kecamatan dengan lebih banyak Makassar Konjo adalah Bontobahari, Bontotiro, Herlang dan Kajang.

Sementara kecamatan Ujungloe, Ujungbulu, Gantarang dan Kindang. Dimana keempat kecamatan tersebut menjadi kecamatan yang terjadi percampuran dan pengaruh dari 2 bahasa dari suku di Bulukumba.

Contoh: Kecamatan Gantarang, yang merupakan kecamatan yang berbasatan dengan Kabupaten Bantaeng bersuku Makassar. Sementara disisi timur dan utara berbatas dengan Ujungbulu yang berbahasa Bugis.

Sama dengan Kecamatan Ujungloe, yang diapit oleh kecamatan Bontobahari/Bontotiro yang berbahasa Konjo. Sementara disisi barat berbatasan dengan kecamatan Ujungbulu dengan bahasa bugis.

Kecamatan Kajang yang disebut sebagai pusat Bahasa Konjo, ternyata memiliki irisan Bugis. Sebab kecamatan tersebut berbatasan dengan Rilau Ale, Bulukumpa dan Kabupaten Sinjai.

Kecamatan Ujungbulu, sebagai Kecamatan Ibukota Bulukumba, sangat heterogen. Selain Bugis dan konjo, juga didiami oleh banyak suku di tanah air. Seperti Suku Jawa, Madura, Tionghoa, Mandar, Bali dan Batak dan sebagainya.

Panrita: Suku Pelaut, Penakluk Ulung Lautan, Perahu Pinisi Melegenda Hingga Ke Manca Negara

Asimilasi Budaya Bahasa Antara 2 Suku

Asimilasi Budaya Di Tana Panrita, ketika orang bugis dan konjo bertemu. Meski orang di Kecamatan Bugis, tidak bisa berbahasa Konjo. Atau sebaliknya orang Konjo tidak dapat berbahasa Bugis.

Tapi keduanya kadang memakai bahasa masing-masing. Ketika bertemu. Orang konjo memakai bahasa konjo dan orang bugis memakai bahasa bugis. Namun diskusi diantara mereka berjalan baik.

Hal itu bermakna bahwa kedua suku tersebut menggunakan bahasa berbeda dan saling toleran satu sama lain. Serta mengerti bahasa satu sama lain.

Kehidupan Ekonomi

Kondisi alam di Bulukumba, dengan pesisir dan Pantai. Terdapat beberapa pekerjaan menyesuaikan dengan adaptasi alam.

Di Gantarang dengan Darat dan Pesisir Pantai, serta Kindang, Rilau Ale dan Bulukumba, yang dingin. Tanaman Cengkeh dan padi sangat subur didaerah ini.

Sementara di Bontobahari, dengan kondisi daratan berbatu, maka pekerjaan dengan memanfaatkan laut lebih dominan. Meski pula ada yang beternak sapi, kambing, diatas lahan dominan bebatuan.

Bontotiro berbatas Bontobahari sebagian berbatu, namun juga memiliki daratan yang subur. Didaerah Bontoriro perkebunan dan laut menjadi pekerjaan penduduk.

Masuk ke Herlang, Kajang dengan kondisi alam “transisi” sebab berada antara Bontobahari (berbatu) dan Rilau Ale (yang dingin). Ditempat ini perkebunan menjadi favorit. Meski dipesisir juga banyak pelaut.

Ujungloe, hamparan padi sangat luas disini, terutama dikawasan ulutedong. Padi menguning menjadi pemandangan paling menarik ditempat tersebut.

Di area perbatasan Ujungloe dan Bontobahari, tepatnya area Bampang, disana kita akan temukan empang yang luas. Ikan Bolu (Ikan Bandeng). Sangat banyak didaerah ini.

Untuk menikmati ikannya, boleh diperhatikan disepanjangan jalan raya, terdapat banyak penjual ikan berjejer dilokasi ini.

Semoga saja sawah-sawah dan empang-empang ini tidak dijadikan pemukiman, untuk mempertahankan keindahan alam.

Kehidupan Sosial Politik

Dengan luas wilayah 1.154,67 km², Dan Penduduk 395.560 jiwa, menjadikan kondisi sosial politik di Bulukumba menjadi sangat fluktuatif. Meski tetap stabil.

Kondisi Politik dengan sistem pemilihan langsung, telah mengubah cara pandang suku. Dan Suku mengalami rekondisi pada pergerakan sosial politik.

Untuk meningkatkan pengaruh dalam sebuah gerakan politik, maka pendekatan suku menjadi pilihan yang sangat klasik dan tradisional.

Akhirnya Bulukumba kadang dibelah menjadi timur barat. Timur berarti Konjo, dan Barat berarti Bugis.

Kanalisasi politik primordial dan pendekatan tradisional, adalah sebuah metode klasik yang patut dihargai, meski metode ini telah ketinggalan zaman.

Di era digital yang pesat. Dengan era gidital yang tidak mengenal suku dan kasta.

Sehingga gerakan demografi, turun memberikan kontribusi saran paket setiap Pilkada. Jika Bupati dari Barat, Maka Wakil Bupati Harus di Timur. Begitupun sebaliknya.

Sekarang muncul peta batu pewilayahan, yakni peta Bulukumba Utara dan Selatan. Utara adalah yang mengarah ke Sinjai, mencakup Rilau Ale dan Bulukumpa. Semantara Selatar adalah Ujungbulu, Ujungloe.

Pendekatan politik tradisional, menjadi ciri khas sistem pranata sosial yang melekat pada penduduk. Sekaligus akan melakukan adaptasi pendidikan dan kemajuan teknologi dimasa datang.

Kehidupan sosial politik, mengkanalisasi pilihan dan keberpihakan, dengan doktrin. Konjo pilih Konjo, Bugis pilih Bugis. Meski demikian, mereka tetap melakukan asimilasi budaya.

Regenerasi Dan Doktrin Kesukuan

Regenerasi kepemimpinan politik, bersinggungan dengan kredibilitas seorang kandidat. Serta cara pandang yang menciptakan Visi secara futuristik sebuah daerah.

Tidak lagi melihat sesuku atau berbeda suku. Namun sevisi dan memiliki cara pandang yang sama terhadap daerah.

Doktrin “harus Bugis yang memimpin” kata orang bugis. Atau “harus orang konjo yang memimpin” kata orang Makassar Konjo. Menjadi sebuah potret pendekatan sosial dan adat.

Meski pada hakikatnya, tidak ada perbedaan adat yang mencolok antara Bugis dan Konjo.

Bahkan tidak ada perbedaan jenis makanan favorit orang konjo dan bugis. Mereka memiliki persamaan dalam segala hal. Yang berbeda adalah “kebetulan” dilahirkan oleh orangtua yang berbahasa Bugis atau Makassar Konjo.

Sementara nilai dan label kesukuan adalah aspek nilai yang melekat hingga akhir hayat.

Penyatuan Dua Suku

Seperti dijelaskan pada paragraf sebelumnya, bahwa keduanya bukanlah perdebatan yang abadi. Perbedaan kedua suku, hanya jika berhubungan dengan pilihan politik.

Meski isu suku ini akan segera digeser oleh kemajuan teknologi di era digital. Dalam urusan politik dimasa datang.

Pada Kenyataannya, diluar urusan politik, mereka menyatu, dan dewasa dalam melihat perbedaan keberpihakan pilihan politik.

Contoh: Pergerakan demografi dan irisan pendidikan, menyebabkan penyatuan mahasiswa Bugis dan Konjo di perantauan. Mereka solida dan tidak memperdebatkan suku.

Atau para perantau di luar Bulukumba, mereka solid satu sama lain dengan nafas Bumi Panrita Lopi, mereka bersatu. Disatukan pula oleh bahasa nasional Bahasa Indonesia.

Adapun perbedaan Bugis dan Konjo, hanya terjadi dimusim pemilihan. Baik Bupati maupun Legislatif. Selebihnya mereka toleran satu sama lain.

Demikian Kajian tentang suku di Bulukumba.

Sumber Tulisan: PemprovSulsel,

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *