Slogan Budaya Bulukumba
Ikon dan Budaya Bulukumba, Pinisi

Slogan Budaya Pada Butta Panrita Lopi, Dari 2 Bahasa

Diposting pada

Apa Slogan Budaya pada bumi panrita lopi Bulukumba?

Bumipanritalopi.com, Tana Panrita – Butta atau tana maupun dalam penyebutan lain bumi panrita Lopi yang merupakan identifikasi daerah secara sinonim sama dengan Bulukumba.

Bulukumba yang terkenal dengan pantai Bira, pantai Basoken maupun pantai Lemo-lemo, dengan tradisi Kajang sebagai adat yang melekat.

Juga budaya pembuatan perahu Pinisi. Memiliki beberapa slogan budaya yang perlu untuk kita ketahui.

Slogan Bumi Panrita Lopi, Budaya Siapa?

Penyebutan slogan bisa kita sebutkan sebagai tagline. Yang ketika kita mendengar atau membacanya, maka secara meyakinkan itu membuat kita mengingat memori untuk melihat sebuah objek.

Dari dulu hingga kini, orang Bulukumba mengenal kalimat tagline “Mali’ Siparappe Tallang Sipahua“.

Slogan daerah dengan penyebutan Mali siparappe tallang sipahua, memiliki beberapa hal yang melekat di dalamnya.

Sebagaimana kita ketahui dan memang demikian adanya, bahwa pada Kabupaten Bulukumba dengan 2 bahasa yang melekat, yakni Bugis dan konjo.

Hanya perbedaan bahasa, sebab secara umum keduanya memiliki budaya yang sama. Terlebih kecantikan orang Bugis dan Konjo Bulukumba pada hakikatnya sama. Keduanya penghasil gadis tercantik dari area Selatan-selatan Makassar.

Penyebutan kalimat mali siparappe tallang sipahua, adalah representasi dari 2 bahasa tersebut.

Jika Mali siparappe adalah representasi Bugis, sementara talang sipahua merupakan representasi konjo.

Dari kedua hal tersebut, bahwa penggunaan slogan Bumi Panrita Lopi tersebut yang tercetus dari ammatoa Kajang. Adalah sebuah ikatan tidak hanya dalam segi sastra tapi sebuah realitas keterikatan satu sama lain yakni konjo dan Bugis.

Mereka satu bagian yang tak terpisahkan. Dan sangat rukun. Meski dalam perjalanannya kadang ada perbedaan pendapat. Ya taulah mereka bersaudara. Kadang berdebat.

Baca juga: Arti angnganre

Pantai Bisa, Mali Siparappe Tallang Sipahua
Pantai Bira Bontobahari

Makna Budaya dan Slogan Daerah Bulukumba

Mali siparappe, adalah penggalan dari 2 kata, yaitu Mali dan siparappe.

Mali artinya hanyut sementara siparappe menyelamatkan ketepian. Tagline Mali siparappe bermakna jika ada yang terhanyut maka yang lainnya harus munceburkan diri untuk menyelamatkan yang terhanyut dan membawanya ke tepian. Tentunya agar tidak terbawa arus.

Sementara itu tallang sipahua adalah bahasa konjo yang bersumber dari 2 kata yaitu Tallang dan sipahua.
Tallang artinya tenggelam sementara sipahua artinya saling mengangkat ke permukaan.

Maka tallang sipahua jika ada yang tenggelam maka yang lainnya menyelam dan mengambil yang tenggelam tersebut lalu menyelamatkannya dengan mengangkat pernikahan.

Kenapa Bugis dan Konjo?

Penggunaan bahasa Bugis untuk kata Mali siparappe, bukannya menggunakan manyu’ siparampe (Konjo), punya kajian sosiografi yang menarik.

Dari penggalan slogan tersebut penggunaan bahasa Bugis untuk kalimat hanyut, oleh karena pada area Bugis yang mencakup Ujungbulu, Rilau Ale, Bulukumpa sebagian Gantarang dan Kindang, Ujung loe.

Kecamatan tersebut merupakan tempat lewat (mengalirnya) daripada sungai-sungai besar seperti Sungai Balantieng, Bialo dan sebagainya.

Sungai tersebut merupakan sungai terkenal dan mengalir pada kecamatan area bugis.

Hingga penggunaan slogan mali siparappe sudah tepat dengan menggunakan bahasa Bugis.

Selanjutnya tallang sipahua, menggunakan bahasa konjo. Karena kata Talang adalah dalam yang sebenarnya tidak hanya bermakna tenggelam pada dasar air. Namun lebih daripada itu tenggelam oleh zaman dan sebagainya.

Keuletan orang bagian timur seperti Kajang Bontotiro Herlang Bontobahari dan sebagiang Rilau Ale, Bulukumpa dan Ujungloe (kawasan konjo), dalam menuntut ilmu. Juga kehadiran datuk Ditiro, untuk melakukan pencerahan agama Islam.

Selain itu pada daerah Timur juga terkenal dengan pelaut ulungnya dengan menggunakan perahu Pinisi sebagai icon tidak hanya menjadi ikon daerah tapi juga telah menjadi provinsi bahkan menjadi kebanggaan secara nasional.

Maka penggunaan kata tallang sipahua dalam slogan Kabupaten Bulukumba adalah bermakna kedalaman Nalar untuk membangun daerah sehingga menjadi kebanggaan secara nasional.

Asimilasi Kultur

Meskipun Bulukumba menggunakan dua bahasa konjo dan Bugis, akan tetapi Ketika anda orang konjo menggunakan bahasa konjo di depan orang Bugis.

Ataupun sebaliknya Anda orang Bugis menggunakan bahasa Bugis di depan orang konjo, itu bukanlah sebuah masalah.

Sebab secara pasif, orang Bugis asli secara mayoritas mampu memahami bahasa konjo, begitupun juga dengan orang konjo, secara pasif mampu memahami bahasa Bugis. Terjadi asimilasi budaya (kultur).

Dalam pengertian lanjut, dan menjadi pemandangan umum bahwa sebenarnya orang konjo dan Bugis bisa menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Dan bisa mengerti satu sama lain di saat mereka berdialog menggunakan kan bahasa khas dari keduanya.

Pemetaan konjo dan Bugis akan terasa ketika Pilkada, tidak bisa kita menutup mata ta bahwa efek pilkada setelah mengakuisisi sehingga terjadi akulturasi budaya.

Maksud kalimat ini, tidak bisa ditutupi bahwa setiap perhelatan pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan kepala daerah bupati maupun wakil bupati.

Maka slogan kampanye masih menggunakan pendekatan tradisional, orang Bugis pilih orang Bugis orang konjo pilih orang konjo. Yang secara tidak langsung telah memetakan kedua daerah tersebut, hingga sampai kepada perdebatan siapa yang pertama mendiami Kabupaten Bulukumba.

Baca juga: bijaknya ammatoa

Siapa Yang Pertama Di Bulukumba?

Selalu menjadi sebuah misteri yang tidak terpecahkan, suku apa (siapa) yang pertama di Kabupaten Bulukumba?

Tentu jika ini menjadi sebuah perdebatan, maka akan berakhir dengan debat Kusir tanpa Ujung.

Sebab orang Bugis akan mengaku sebagai orang yang pertama di Kabupaten Bulukumba mengingat, banyak orang Bugis yang tinggal di Kota Bulukumba.

Begitupun juga dengan argumen bahwa orang konjo yang pertama di Kabupaten Bulukumba karena Secara geografis menarik Bantaeng Bulukumba hingga Selayar adalah menggunakan bahasa Makassar dialek konjo.

Sekali lagi perdebatan asal-usul adalah sesuatu yang Newborn setiap Pilkada. Untuk membangun sekat pada ruang-ruang konstituen tentu ini sebuah efek negatif.

Terlepas dari perbedaan prinsip

Meski terjadi perbedaan prinsip bagi orang bulukumba berbahasa Bugis dan berbahasa konjo untuk urusan Pilkada. Maka perbedaan tersebut mencair setelah Pilkada Telah Usai.

Mereka akan duduk bersama berdiskusi bersama dalam sebuah pendewasaan politik. Sehingga tidak heran penggunaan tag line mali siparappe tallang sipahua adalah kalimat utuh yang digunakan oleh orang Bugis begitu juga utuhnya bagi orang konjo.

Pada penggunaan lanjut dari kalimat tersebut tidak ada pemotongan misalnya orang Bugis hanya mengambil kata Mali siparappe dan orang konjo hanya mengambil kata tallang sipahua. Sebagai slogan kultur (budaya) keduanya.

Sumber:

  1. Kajian mali siparappe
  2. Mengenal suku konjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *