Parring, 7 Jenis Dan Kegunaan Bambu Di Bulukumba

Kegunaan Parring Atau Bambu Bagi Orang Bulukumba
Aktifitas Masyarakat Bulukumba Pada Area Pohon Bambu (Foto, Dhilah)

Parring merupakan bahasa konjo yang dalam kata Indonesia adalah Bambu, Makassar mengenalnya dengan nama Bulo.

Bumipanritalopi.com, Konjo – Bambu memiliki klasifikasi 10 genus dari ribuan spesies. Bambu memiliki kegunaan untuk melembabkan tanah yang kering. Kabupaten Bulukumba juga memiliki jenis bambu yang disebut dengan Parring.

Jika anda bukan orang Bulukumba, dan punya sahabat orang dari tanah ini, maka cukup anda menyapanya dengan sebutan “Apa karebanta siana’“. Itu bermakna “apa kabarmu saudaraku”.

Tanyakan kepadanya, “maing jaki angnganre utang rabbung?” artinya pernahkah anda memakan sayur rebung? Setelah anda bertanya begitu. Kira-kira dia akan tertawa. Sebab jenis utang rabbung (sayur rebung) merupakan menu favorit daerah ini.

Maklum saja, banyak bambu yang tumbuh subuh pada kawasan yang terkenal dengan slogan budaya “mali siparappe, tallang sipahua tersebut”.

10 Kecamatan yang ada di Butta Panrita Lopi, kesemuanya merupakan lahan subur tumbuhnya bambu. Apalagi itu area yang memiliki aliran sungai.

Adapun bambu adalah merupakan tumbuhan dan yang memiliki ruas dan terdapat rongga di dalamnya. Bambu identik dengan daerah pedesaan atau ndeso.

Sebab dahulu kala sebelum dikenal adanya rumah batu maupun rumah kayu.

Orang-orang membuat rumah dengan menggunakan bambu, cara mengambilnya begitu simpel. Memiliki kontur yang kuat, dan juga bahannya tersedia dari alam yang melimpah.

Sebelum terlupakan oleh zaman, sebab beberapa produk yang kami jelaskan berikut hampir produknya sudah tidak kita temukan. Oleh karena kemajuan zaman. Dan membuat penduduk mengganti produk dengan produk teknologi yang modern atau baru.

Berbagai Jenis Bambu

Berikut ini akan kita bahas beberapa jenis bambu yang berasal dari Kabupaten Bulukumba.

Parring

Yang paling umum, serta sangat mudah untuk kita jumpai. Jenis bambu ini memiliki bahasa Indonesia yakni Bambu Apus dengan nama latin Gigantochloa apus.

Bambu merupakan bahan yang paling sering kita jumpai pada pembuatan rumah-rumah (puso) di kebun. Dan juga jenis bambu ini biasanya menjadi salah satu dari bahan untuk membuat anyaman dari bambu.

Jenis Bambu
Jenis Bambu (Parring)

Sebutlah tas, atau kursi sebab teksturnya yang tahan dan kuat.

Selain itu jenis bambu ini juga biasanya dipergunakan sebagai tali. Dengan kemampuan seni yang mereka miliki sehingga menghasilkan tali pengikat dari jenis bambu ini.

Biasanya pengikat tersebut dipergunakan dahulu kala untuk mengikat atap rumbia yang dipasang pada rumah-rumah.

Selain itu jenis bambu ini juga biasanya dipergunakan untuk menjadi pagar. Baik pagar pada rumah maupun pagar pada kebun sebagai pembatas dengan kebun yang lain.

Kegunaan Bambu Jenis Ini Di Bulukumba

Pada perkembangannya, meski sudah mulai jarang dipergunakan, namun berikut beberapa benda, hasil produk dari bahan dasar bambu.

  1. Dasere, adalah semacam belahan kecil bambu sebesar jari, untuk tujuan menjadi lantai rumah. Atau bahan untuk membuat balai-balai. Jika kita membuatnya menjadi belahan kecil bisa untuk membuat rabbang jangang (sangkar ayam yang seperti sangkar burung).
  2. Lihasa, proses mengubah bambu menjadi tali dengan ukuran yang kecil sekira 1 cm, berguna sebagai tali. Dan yang diambil adalah bagian yang berwarna hijau. Dengan proses pembuatan menggunakan bambu basah (baru ditebang).
  3. Hulusu, landasan untuk memasang lantai dari bambu. Atau Kaso, landasan untuk memasang atap rumah. Yakni dengan menggunakan bambu kecil atau ujung bambu.
  4. Boda’ Lammang, yakni membuat wadah membuat lemang dengan bahan bambu. Sebelum lemang masuk dalam pembakaran untuk membuatnya matang.
  5. Rinring Te’re, membelah bambu lalu mengurutnya hingga menyerupai papan (melebar). Disusun menjadi dinding (rinring). Sementara te’re adalah bambunya yang menyerupai papan tersebut.
  6. Balli’, sejenis anyaman untuk keperluan budaya. Yakni susunan bambu untuk menghiasi rumah dengan bentuk sulapa appa’ (segi empat).
  7. Poke (tombak), merubah ujung bambu menjadi tajam untuk tujuan menjadi tombak. Biasanya untuk keperluan berburu pada masa lampau. Kenal bambu runcing kan? Nah itulah poke parring (tombak dari bambu).
  8. Talise (sembilu), bambu biasanya dibuat runcing pada sisinya untuk keperluan “angnganyi” (menguliti) sapi ayau kambing di potong. Bahkan talise dari bambu bulukumba bisa berguna untuk memotong (leher) ayam.
  9. Boda’ Tende, (wadah udang kecil), dengan memasukkan udang kecil plus cukka balanda (cuka dari tuak pohon enau). Di diamkan selama 7 hari.
  10. Okong, sejenis anyaman ketika ada bayi yang baru lahir. Dan juga sebagai “masker” untuk sapi saat membajak.
  11. Ambujo, tempat menyimpan ikan atau sayur yang tergantung agar tidak terserang semut.
  12. Pattapi, alat tampi beras.
  13. Coro, alat untuk menyaring beras kasar dan halus.
  14. Cedung (caping).

Dan masih banyak kegunaan dari Gigantochloa apus oleh orang dari Bulukumba memanfaatkannya.

Pattong

Jenis bambu ini memiliki ukuran yang lebih besar. Dengan nama Bambu Betung nama latin Dendrocalamus asper tumbuh pada daerah yang yang tropis atau basah serta lembab. Bahasa Indonesianya adalah Petung.

Jenis bambu ini ini yang paling sering dipergunakan untuk membuat berbagai jenis mebel, sehingga sebagai bahan kertas dan juga tusuk gigi. Warna bambu jenis ini hijau tua.

Bambu Petung Jadi Tiang rumah
Bambu Petung Sebagai Penyangga Rumah (tiang)

Ruas yang satu dan yang lain lebih panjang, biasanya di Kabupaten Bulukumba jenis ini dipergunakan untuk wadah membuat tembakau. Hingga menjadi bahan untuk membuat jenis lemang (lammang).

Dagingnya yang tebal, sehingga menjadi alternatif favorite bagi pengrajin mebel. Terutama berguna sebagai tiang. Karena memiliki rongga yang besar. Panjang ruas daripada jenis bambu ini adalah 25 hingga 60 cm dengan diameter 7 sampai 11 cm.

Kegunaan Pattong

Petung memiliki kegunaan yang sangat banyak bagi orang Bulukumba, yakni:

  1. Anrong Tuka’ Sapana, (induk tangga adat Sapana). Sapana adalah tangga sebagai kelengkapan adat. Tadi kita bahas masalah Balli’ maka balli berpasangan dengan Sapana.
  2. Galiggiri, tempah memasang atap. Tadi kita bahas Kaso, nah bagian atas dari kaso adalah galiggiri. Untuk memasang atap rumbia.
  3. Benteng Balla’-balla’ (Benteng adalah tiang, balla’balla’ adalah rumah rumah). Pattong berguna untuk menjadi tiang rumah-rumah biasanya ketika membuat rumah di kebun atau sawah.
  4. Anrong Bangkeng Kadera (anrong – Induk, bangkeng – kaki, kadera – kursi). Petung hampir sama kegunaannya dengan pembuatan tiang rumah, pada hal lain juga berfungsi sebagai kaki kursi antik atau tempat duduk.

Meski memiliki anakan yang banyak berupa rebung, namun jenis rebung dari bambu ini tidak bisa dikonsumsi. Oleh karena rasanya yang pahit.

Bambu (Parring) Jenis Lain

Tiga jenis bambu yang kita bahas sebelumnya merupakan jenis yang paling familiar. Adapun jenis bambu yang lain, yakni:

Parring, Oro

Bahasa Indonesianya adalah Pering Ori, dengan nama latin Bambusa arundinacea wild. Jenis bambu ini sangat familiar di kabupaten Bulukumba. Memiliki manfaat yang tidak sedikit. Dan tahan terhadap air.

Sehingga kegunaan utama dari jenis ini adalah sebagai bahan dasar pembuatan Rumpon. Pada kebutuhan lain, juga bisa menjadi Anrong tuka sapana.

Bambu untuk kebutuhan Rumpon
Pering Oro, sebagai bahan membuat rumpon

Tekstur yang tebal, dan ruas yang pendek. Memiliki ruas yang hampir sama dengan bambu yang biasa. Namun penduduk jarang menanam Pering Ori. Kecuali pada area tertentu untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu.

Bambu ini hidup pada pinggiran sungai, atau area yang cukup air. Dengan tingkat pertumbuhan yang sangat selektif. pada penyataannya, membutuhkan teknik khusus dalam menanamnya.

Parring Parring

Nama lain dari Bambu jenis ini adalah Cendani Phyllostachyus aurea. Bentuknya yang kecil (bukan kerdil). Banyak menggunakan jenis bambu ini sebagai stik pancing.

Parring-parring (bambu untuk hiasan)

Kegunaan lain dari jenis bambu ini adalah menjadi batas kebun. Atau menjadi pagar hiasan pada bagian depan rumah.

Bulo

Bulo dalam bahasa Makassar adalah Bambu itu sendiri. Sementara untuk bahasa Konjo Bulo itu merupakan Bambu yang kecil, namun tipis.

Biasa kita sebut sebagai Bambu Jepang dengan nama lain Arandinaria japonica. Kegunaan utama dari jenis ini merupakan bahan untuk membuat seruling.

Sejenis Parring Caddi Atau Kecil
Bulo

Bentuk lasa (ruas) yang berjarakn antara 40 hingga 60 cm. Sehingga memungkinkan seseorang untuk mengatur panjang dari seruling. Jenis bambu ini sangat selektif dalam hal tempat hidup. Karena sangat suka dengan area yang tidak terlalu berair namun juga tidak terlalu kering.

Gading

Merupakan jenis bambu yang kecil dan berwarna kuning atau orange. Bagi orang dari Tana Panrita menyebutnya warna gading. Sehingga mereka menyebut spesies ini sebagai gading.

Sejenis Bambu Untuk Membuat Seruling
Bambu Jenis Gading

Nama lainnya adalag Bambu Bali dengan nama latin Schizostachyum brachycladum. Kini menjadi tanaman untuk menghiasi area taman. Biasanya pada taman dengan relief yang menarik. Menawarkan bentuk tambahan jenis daripada tanaman Gading ini.

Hampir sama dengan bulo, jenis ini juga sangat selektif untuk tempat tumbuhnya.

Timallang

Spesienya mirip dengan pattong, hanya saja timallang bentuknya lebih tipis lagi, sehingga warga dari daerah ini menjadikannya sebagai wadah untuk membuat tembakau.

Dan juga pada masyarakat tertentu berguna sebagai bahan (wadah) membuat lemang, karena bentuknya yang tipis, sehingga mempercepat (mudah) matang daripada lemang.

Parring Timallang
Bambu Timallang untuk membuat lemang bakar.

Berbagai anyaman bambu biasa kita temui pada tempat wisata Kabupaten Bulukumba. Jika anda tertarik untuk melakukan perjalanan ke kawasan ini, silahkan anda kunjungi tempat wisata terbaik Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Demikian artikel yang membahas mengenai berbagai jenis bambu dan kegunaannya pada kabupaten yang berada pada bagian selatan-selatan dari arah Kota Makassar (Pusat Sulawesi Selatan).

Bambu Dan Ritual Serta Adat

Ada hal yang harus kita ketahui mengenai kegunaan bambu, dalam hubungannya dengan kebutuhan ritual, yakni:

  1. Pa’umatangngang, sejenis rumah-rumah untuk menyimpan sesajen. Dulu sebelum penyebaran agama Islam, jenis Pa’umatangngang banyak terdapat pada rumah-rumah penduduk. Namun setelah mereka mengetahui bahwa perbuatan tersebut merupakan hal berbau syirik. Maka mereka meninggalkan budaya tersebut.
  2. Pallabiangngang Kanre Ana’, (tempat menyimpan makanan adat untuk anak). Bentuknya hampir sama dengan Pa’umatangngang. Hanya saja kegunaannya yang berbeda. Jika Pa’umatangngang berisi sesajen. Maka Kanre Ana’ berisi kelapa, pisang, ayam. Menjadi syarat adat pernikahan dari pihak mempelai pria.
  3. Balli’ Dan Sapana. Syarat adat ini harus ada, meski sekarang sudah ada penyewaan tenda yang praktis. Namun mereka “keturunan asli” Bulukumba. Harus menyiapkan Balli’ maupun Sapana. Yang orang Makassar menyebutnya Halasugi atau Halasuji.
  4. Mitos lain mengenai bambu, menanam bambu berarti penangkal “parakang”. Semacam sundel bolong. Menjadi kepercayaan orang sini, bahwa parakang akan tersangkut pada bambu jika hendak mengganggu pemilik rumah.
  5. Larangan menanam bambu pada kuburan, sebab ada sebuah kepercayaan, jika akar bambu menyentuh tubuh mayat, akan menyebabkan “lingangngang”. Yakni sakit kepada keluarga yang berpulang.
Parring Untuk Halasuji
Halasuji atau Wala Suji Terbuat Dari Bambu

Dan masih banyak mitos lainnya, yang sebagian telah terkikis oleh zaman, namun pada masyarakat tertentu masih memegang adat dengan teguh.

Demikian artikel ini, jika ada saran silahkan isi kolom komentar, maekie (kami pamit)!

Menyediakan Produk Asli Bulukumba

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.