Mengenal Suku Kajang
Mengenal Ammatoa, Pemimpin Bijak Dari Suku Kajang

Mengenal Suku Kajang, Dipimpin Oleh Ammatoa Yang Bijak

Diposting pada

Mengenal Suku Kajang yang mendiami Tana Panrita Lopi, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Dengan seragam serba hitam sebagai kearifan.

Bumipanritalopi.com, Budaya – Tanpa alas kaki, menapak jalan selebar 2 meter, dengan bebatuan yang telanjang. Ciri khas pakaian serba hitam. Tanpa listrik. Aspal itu pelanggaran budaya. Deskripsi ini menggambarkan tentang Kajang.

Mengenal mereka yang merupakan suku Kajang, kita mulai menghitung jarak lokasi dari pusat Kota Butta Panrita Lopi Bulukumba.

Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke perbatasan Kecamatan Ujungloe dan Kecataman Kajang. Jika mengakses kearah timur kota Bulukumba.

Namun jika memilih mengakses kearah utara, dengan melewati kecamatan Bulukumpa Rilau Ale maka dibutuhkan waktu sekirat 60 menit.

Mengenal Kawasan Suku Kajang

Dalam penyebutan artikel ini, berbeda kawasan suku kajang dengan kawasan adat Ammatoa. Kawasan lebih bermakna kepada daerah yang lebih luas (kecamatan). sementara kawasan adat lebih kepada daerah pelestarian budaya.

Suku Kajang yang kita ketahui, mendiami Kecamatan Kajang, yang berbatasan dengan Kecamatan Rilau Ale, Bulukumpa, dan Herlang, serta Kabupaten Sinjai.

Satu Kecamatan tersebut, berdiam secara mayoritas suku tersebut. Namun mereka tidak menutup diri dengan suku lain.

Orang Kajang sifatnya terbuka, tidak mengelitkan diri dengan mengabaikan suku lain. Kajang tidak mengunci diri mereka secara kesukuan. Sebab kenyataanya di Kajang terdapat banyak suku lain yang berdiam.

Ada suku bugis, Makassar, Mandar, Jawa dan sebagainya. Mereka bersikap lebih terbuka dengan suku lainnya.

Kawasan Adat Ammatoa

Ammatoa sejatinya bukan nama daerah. Dari detak nadi sejarahnya, Ammatoa merupakan bahasa Konjo yang terdiri dari 2 kata, yakni Amma dan Toa.

Amma berarti Ayah/Bapak/Pemimpin, Toa artinya yang tua/arif/bijaksana. Ammatoa berarti pemimpin yang didengar.

Sekarang telah menjadi sebuah daerah khusus, pelestarian budaya yang diberi nama kawasan Adat Ammatoa.

Dikawasan tersebut dipimpin oleh Amma atau sinonimnya raja atau pemimpin. Melanjutkan dan melestarikan nilai pesan leluhur.

Jangan merusak hutan, sebab bagi mereka hutan adalah sumber kehidupan yang harus dilindungi. Dalam perjalanannya, di Kajang terdapat hutan lindung. Yang menjadi kawasan teritorial perkebunan bagi Ammatoa.

Memasuki kawasan adat Ammatoa, tidak memakai ritual khusus, tapi menggunakan pakaian serba hitam. Sarung hitam (tope le’leng).

Alas kaki dilepas dipintu masuk, bertelanjang kaki menuju rumah panggung jika hendak bertemu dengan Amma Toa.

Memasuki kawasan ini, tujuan utama adalah bertemu Amma Toa. Sebab didalamnya mereka akan menerima para tamu sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral kepada para pengunjung.

Semua menjadi Penting Di Mata Ammatoa

Bertemu dengan pemimpin suku, semua tamu dimatanya adalah penting, sehingga setia pesan yang dikeluarkan adalah bahasa yang hidup.

Dan pesan bijak akan disampaikan oleh Ammatoa pada seluruh pengunjung. Tidak mengadili. Tidak menghakimi.

Bahkan apapun rencana para tamu, Ammatoa memposisikan diri sebagai orangtua (ayah) yang terbuka kepada tamu yang dianggap anaknya. Dia senantiasa mendoakan kesuksesan setiap orang.

Sehingga tidak bisa ammatoa diberikan labelisasi tidak memiliki sikap pilihan politik yang jelas. Karena menerima semua orang (politisi/kandidat).

Yang keliru adalah klaim tertentu yang menyatakan bahwa Ammatoa hanya milik golongan tertentu.

Dalam sebuah kontestasi pemilihan Gubernur, Bupati, Legislatif maupun Kepala Desa. Kandidat berlomba untuk mendapatkan simpai, ini wajar. Hak kandidat.

Ammatoa membuka diri seluas-luasnya. Dia punya pilihan, namun tidak menutup diri pada kandidat yang ia tidak pilih. Sejatinya, seperti itu kearifan lokal mereka.

Filosofi Pakaian Hitam Bagi suku Kajang

Kenapa orang kajang meakai pakaian serba hitam?

Atau pertanyaan terbuka lainnya, kenapa tidak memakai pakaian yang berwarna putih, merah dan sebagainya.

Pemilihan warna hitam, bagi orang suku kajang adalah sikap dan karakter. Memposisikan diri sama, dihadapan Sang Kuasa.

Semua tamu harus memakai pakaian hitam, untuk mempersamakan diri antara pimpinan dengan yang dipimpin. Antara orangtua dengan anak.

Tidak ada perbedaan didalamnya. Dan semua memiliki derajat yang sama dimata sang kuasa.

Bagi orang Kajang, rata-rata mereka memiliki sarung hitam dirumah mereka, sebagai simbolitas mempertahankan budaya. Dan dipakai dalam keseharian.

Tidak heran, diluar kawasan Adat Ammatoa, dijumpai orang memakai pakaian (sarung) hitam. Dipasar tradisional dan sebagainya.

Mengenal Beberapa Ritual Dari Suku Kajang

#1. Attunu Panroli

Attunu Panroli berasal dari 2 kata, Attunu (membakar), Panroli (linggis)

#2. Doti

Tulisan Panrita: Tana Panrita Lopi, Butta Subur Yang Menyanyikan Lagu Rindu

3 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *