Kapal Pinisi Dalam Angka Sakral
Jangkar sebagai simbol kerja bagi pelaut ulung yang berlayar ditengah lautan

Kapal Pinisi Dalam Angka Sakral, Rahasia Pelaut Ulung

Diposting pada

Kapal Pinisi merupakan karya yang tercatat dalam sejarah peradaban, Berikut angka sakral dan Rahasia Pelaut Ulung Asal Butta Panrita Lopi

Bumipanrotalopi.com, Pinisi – Perahu asal Bulukumba yang di buat di Kecamatan Bontobahari tersebut. Merupakan salah satu warisan budaya yang diakui oleh Unesco.

Kapal Pinisi dengan bahan dasar kayu tersebut, terkenal di dalam negaranya. Serta membuat mata dunia bangga dengan karya tersebut.

Namun tahukah anda, bahwa dalam proses pembuatannya, Kapal Pinisi memiliki angka sakral yang menjadi sebuah ritual. Oleh Panrita Lopi dalam proses produksi kapal tradisional tersebut.

Angka Sakral Dalam Pembuatan Kapal Pinisi

Adapun dalam pembuatan kapal Pinisi tersebut, terdapat beberapa angka yang diksaralkan. Yakni angka 2, 5 dan 7.

Sejak tahun 1500 M, kapal Pinisi di buat di Tanaberu Kabupaten Bulukumba dengan Panrita yang berasal dari Desa Ara Kecamatan Bontobahari.

Rahasia Angka 5 dan 7 Saat Annakbang Lunas

Angka 5 dan 7 pada tanggal di bulan Hijriah, menentukan hari untuk menebang (Anna’bang) pohon kayu lunas.

Dimana angka tersebut sebagai angka yang dimaknai oleh mereka: 5 (Konjo, lima) bermakna tangan. 7 (Konjo: tuju), bermakna tujuan atau sesuai tujuan (mendapatkan rezeky).

Makna Angka 2 Pada Kapal Pinisi

Angka 2 pada Perahu Pinisi adalah jumlah dari palajareng (tiang layar). Dimana 2 itu sebagai makna 2 kalimat Syahadat. Pengakuan kepada Allah SWT, bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Angka 7 Pada Perahu Asal Tana Panrita Lopi

Angka 7 terdapat pada jumlah layar dari perahu tersebut. Dimana terdiri dari 7 buah layar: 3 dibagian depan layar kecil. 2 layar besar di Tiang depan, dan 2 layar di tiang belakang.

Angka 5 dan 7 Saat Kapal Pinisi Menyentuh Air Laut

Ada ritual Annyorong lopi atau mendorong perahu pinisi tersebut kelaut. Namun dalam prosesnya tidak sembarang hari untuk menurunkan perahu kelaut. Ada tanggal-tanggal tertentu yang dipilih.

Yakni tanggal 5 atau 7 di bulan hijriah. Lengkap dengan penentuan hari, Sebab tidak semua hari dipakai untuk melautkan pertama kali perahu tersebut.

Mereka mengenal kata nakasa (hari yang dihindari). Sebab ada hari yang tidak cocok untuk pencaharian rezeky.

Maka dipilih tanggal 5 dan 7 untuk melengkapi ritual pada hari yang telah di tentukan. Adapun jamnya juga tidak sembarang, sebab mereka mengenal waktu berisi (rezeky) dan waktu rara (berdarah).

Mereka berpantang menggunakan waktu berdarah di zaman lampau. Sebab waktu tersebut adalah waktu yang sangat tidak cocok untuk pencarian rezeky.

Ritual Khusus Pada Pembuatan Perahu Pinisi

Terdapat beberapa Ritual yang khusus dalam proses pembuatan Kapal Pinisi, antara lain:

  1. Anna’bang Kali Biseang
  2. Ammaca
  3. Annattara
  4. Ammossi
  5. Annyorong Lopi

Tidak boleh ada ritual yang terlupakan atau terlewatkan. Semua proses ritual harus dijalankan dengan baik.

Anna’bang Kalebiseang (Menebang Kayu Body Kapal)

Ini merupakan langkah paling awal dari proses pembuatan kapal tersebut. Dimana sebelumnya, tukang kayu menentukan titik dimana kayu yang terpilih.

Proses anna’bang kalebiseang tidak sembarang waktu, tidak sembarang orang dan tidak sembarang kayu yang digunakan.

Harus yang terpilih, baik kayu, orang dan waktu. Sebab jika ada yang melanggar maka Panrita Lopi akan komplain dan marah.

Ammaca Atau Abbaca (Berdoa)

Ini ritual di zaman dulu dengan maksud untuk:

  1. Mengusir roh jahat saat menebang kayu
  2. Mendoakan dan memohon rezeky bagi pelaut yang akan menantang badai, dan
  3. Mengusir kesialan

Adapun ammaca tersebut menggunakan berbagai bahan-bahan kelengkapan, diantaranya:

  1. Songkolo, nasi dari beras ketan, jenis hitam atau putih,
  2. Nasi Kukus atau pahallung,
  3. Sayur dari kacang panjang merah,
  4. Ayam yang dimasak kari,
  5. Kue berupa: lebo-lebo, onde-onde dan cucuru. Semua jenis kue tersebut berasal dari bahan dasar berasa pulu’ atau beras ketan/punut,
  6. Pabbarang Api, bara api dalam wadahnya. Lengkap dengan dupa atau kemenyan.

Annattara (Ritual memasang lunas)

Annatara adalah menyambungkan, kayu untuk pembuatan lambung kapal, tapi dimulai dengan pamasangan lunas.

Ammossi (Membuat Pusar atau Pusat)

Ammossi’ dilakukan sebagai awal dari pembuatan kapal pinisi dengan segala ritualnya. Menentukan hari tentang kapan akan dilakukan proses membuat perahu tersebut.

Annyorong Lopi (Mendorong Perahu)

Ini merupakan ritual akhir dari proses pembuatan perahu tersebut hingga kelaut. Yakni Annyorong Lopi atau mendorong perahu hingga kelaut.

Prosesi ini yang biasanya dihadiri oleh petinggi adat ataupun pemerintah saat akan diturunkan kelaut tersebut.

Sebagai langkah awal perahu mengarungi lautan. Disini ada prosesi pemotongan berupa ayam. Yang disebut di rarai atau bahasa Makassar nisarei cera’ (diberikan darah ayam).

Konon dimasa lampau, hal itu untuk memberikan persembahan kepada mereka jin halus agar tidak mengganggu.

Rahasia Pelaut Ulung

Pelaut ulung, menjadi label bagi pelaut-pelaut Indonesia. Sementara penghasil pelaut ulung di Negeri ini adalah berasal dari Tana Panrita Lopi, yakni orang Bira atau Ara.

Mereka ulung dilaut, dan mereka tangguh didaratan. Pada umumnya, masayarakat pesisir Bulukumba, seperti di Bontobahari, Bontotiro, Herlang dan Kajang sebagai Kecamatan dengan bentangan pantai yang panjang.

Dari Kecamatan tersebut mayoritas pelaut ulung dihasilkan, sebab mereka memiliki alam yang dekat dengan laut.

Istri pelaut di daerah tersebut, sangat setia dengan suami. Menunggu mereka pulang dan membawa hasil dari perburuannya dilautan.

Namun selama suami melaut, maka istri memiliki beberapa pantangan:

Istri Tidak Boleh Ikut Melaut

Muncul pertanyaan, kenapa istri tidak boleh ikut melaut, padahal di kapal tersebut ada kamar-kamar?

Ternyata mereka memiliki pandangan khusus mengenai ini. Mereka mendeklarasikan bahwa tugas melaut adalah suami. Untuk mencari nafkah. Sementara istri adalah dirumah menjaga barang suami.

Istri Tidak Boleh Membuang Piring Dan Alat Makan

Sama seperti yang dilakukan oleh pelaut, istri juga tidak boleh membuang atau menjatuhkan piring dan alat makan lainnya.

Mereka meyakini bahwa membuang sendok, gelas dan piring akan mendatangkan sial. Sebab prilaku tersebut bermakna membuang penampungan rezeky. Dan bisa mendatangkan bahaya selama proses pelayaran.

Istri Tidak Boleh Tidur Tengkurap

Ketika suami melaut, maka pantangan dan rahasia bagi Pelaut ulung adalah Istri jangan tidur tengkurap. Sebab hal itu bermakna “tattompang” atau jatuh tengkurap. Dan menjauhkan segala bentuk rezeky.

Jangan Membersihkan Beras Pada Malam Hari

Biasa juga disebut tampi beras atau bahasa Konjo Attapi berasa. Ini merupakan pantangan dimasa lampau. Sebab mereka beranggapan, jika istri melakukannya pada malam hari sama saja dengan menghalu rezeky.

Istri Menjaga Barang Suami

Bagi Pelaut Ulung, barang suami yang ada pada istri adalah tubuhnya itu sendiri. Dan berpantang untuk tidak disentuh oleh lelaki lain (selingkuh). Sebab jika mereka melakukan maksiat berselingkuh (zina). Maka celaka buat suami yang sedang melaut.

Sehingga para istri pelaut senantiasa menjaga kehormatan dan harga dirinya, selama ditinggal oleh suami mereka melaut.

Demikian artikel tentang Kapal Pinisi Dalam Angka yang Sakral, serta Rahasia sukses bagi Pelaut Ulung dari Tana Panrita Lopi Bulukumba,.

Panrita Lopi yang lain: Ulung Di Laut, Tangguh Di Darat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *