Perahu Pinisi Dari Panrita Lopi, Khas Daerah Bulukumba
Perahu Pinisi Dari Bumi Panrita Lopi

Asal Usul Nama Bumi Panrita Lopi, Ulung Di Laut, Tangguh Di Darat

Diposting pada

Bumipanritalopi.com, Menyebut bumi panrita lopi maka yang terlintas adalah Kabupaten yang memiliki beberapa keunggulan, diantaraya Pinisi sebagai warisan dunia. Suku Kajang sebagai suku yang masih eksis hingga kini.

Bumi Panrita lopi Menjadi tempat bersejarah bangsa yang menghasilkan perahu melegenda. Pinisi.

Letak Bumi Panrita Lopi

Meski yang tedata secara Nasional adalah Nama Bulukumba. Namun pada kenyataannya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Menyebut Nama Bumi Panrita Lopi atau Butta Panrita Lopi ataupun Tana Panrita Lopi. Maka maknanya mengarah bahwa yang dimaksud tersebut adalah Kabupaten Bulukumba.

Letak Geografis Kabupaten Bulukumba

Bulukumba merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dengan letak geografis: 520’00” sampai 540’00” LS dan 11958’00” sampai 12028’00” (Greenwich). Daerah ini berada di sebelah tenggara Kota Makassar. Terdiri dari 10 Kecamatan.

Batas Wilayah

Adapun Batas-batas wilayah daerah dari Kabupaten Bulukumba, sebagai kawasan teritorial Kabupaten tersebut adalah, di bagian:

  • Utara berbatasan dengan Kabupaten Sinjai
  • Timur berbatasan dengan Teluk Bone
  • Selatan berbatasan dengan Laut Flores
  • Barat berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng

Dengan luas wilayah 1.284,63 km² dan jumlah penduduk sebesar 432.141 jiwa dengan sebaran penduduk 336 jiwa/km² (Data tahun 2017).

Wisata Dan Budaya Butta Panrita Lopi

Bulukumba memiliki beragam Wisata dan budaya sebagai produk sosial masyarakatnya yang beragam, diantaranya:

Suku Kajang

Suku Kajang dengan identitas pakaian hitam, dan hidup masih dalam kondisi tradisional.

Kajang merupakan satu diantara 10 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bulukumba. Di dalam kecamatan tersebut terdapat satu perkampungan bernama Amma Toa. Adapun Amma Toa merupakan pemimpin yang memiliki teritorial dikawasan tersebut.

Tari Passapu Dari Kajang
Warisan Budaya Dari Suku Kajang, Tari Passapu (Foto: Istimewa)

Amma Toa lazimnya adalah seorang raja atau pimpinan. Dimana Amma berarti bapak, sementara Toa berarti tua. Berarti Amma Toa adalah bapak atau orang tua yang didengarkan petuahnya.

Didalamnya terdapat beberapa peraturan, yang berlaku bagi setiap yang memasuki kawasan tersebut, diantaranya:

  1. Tidak diperkenankan memakai sandal atau sepatu, dan
  2. Memakai pakaian berwarna hitam,

Karena melepas alas kaki maka siap-siap meringis karena bebatuan yang ada dijalan yang berukuran lebar kurang lebih 1 meter. Banyak yang menikmati perjalanan tersebut, sebagai upaya refleksi pada telapak kaki.

Namun aturan mengenai pemakaian alas kaki tersebut, tidak sekaku yang dibayangkan. Sebab sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. Maka Amma Toa tidak segan untuk menghapus peraturan tersebut. Pada tamu terhormatnya dengan mengizinkan mereka mengenakan sandal.

Dalam kawasan ini, tidak di aspal dan tidak memakai penerangan listrik. Serba tradisional. Dan bisa dibayangkan, sandal dan sepatu saja dilarang masuk, maka kendaraan baik roda 2 maupun roda 4 tidak diperkenankan memasuki area ini.

Kawasan ini terbuka untuk umum, siapapun boleh berwisata ketempat ini. Pagi hingga sore. Masyarakatnya ramah dan penuh nuansa alami ketika memasuki tempat ini.

Lokasi Pembuatan Perahu Pinisi

Perahu Pinisi adalah produk budaya yang melegenda, dan telah menjadi warisan dunia setelah ditetapkan Oleh Unesco.

Lokasi pembuatan perahu tersebut di Kecamatan Bontobahari, tepatnya di lemo-lemo. Ketika dari arah Makassar (Pusat Kota Sulsel). Posisi pembuatan perahu tersebut berada di samping kanan di Tanah Beru. Berjejer lokasi pembuatan perahu.

Pinisi menjadi hasil karya cipta masyarakat dari daerah ini. Dari sejarah pembuatan perahu ini, dimana terdiri dari 3 orang: Tanah Beru, Bira dan Ara.

Kapal layar yang masih eksis hingga saat ini. Merupakan alat transportasi yang membelah samudera dan menjadi kebanggaan nasional.

Bira, Bira Dan Titik Nol

Bumi Panrita Lopi memliki alam yang menawan, dan yang paling terkenal hingga kemanca negara seperti Pinisi adalah Pantai Pasir Putih bira.

Dengan warna pasir yang putih lembut. Membentang dari Bira hingga ke Bara. Dengan panjang pantai sebagai tempat berwisata sekira 2 KM. Menjadikan daerah ini masih menjadi tempat wisata favorit.

Sementara dilokasi yang sama terdapat “titik nol” Sulawesi. Yang terpancang dengan tugu. Sebagai lokasi wisata baru di Desa Bira tersebut. Ini merupakan lokasidestinasi wisata baru.

Appalarang

Terletak di Kecamatan Bontobahari, Desa Ara. Disini juga wisata pantai dengan bebatuan terjal di sampingnya. Airnya jernih seperti jernihnya di Pantai Bira.

Appalarang menjadi tujuan utama wisata saat ini.

Ulung Di Laut Tangguh Di Darat

Ulung di Laut, Orang dari Kabupaten Bulukumba, tanahnya para Panrita Lopi. Menyebut mereka ulung dilaut bukanlah bahasa hiperbolik. Sebab kenyataannya mereka melewati adaptasinya dengan laut yang berombak di tengah samudera. Hanya mengandalkan rekayasa angin dengan menggunakan layar sebagai pengarah kapal.

Mereka hidup dilaut dan banyak menjadikal laut sebagai mata pencaharian utama mereka.

Tangguh di Darat, sebab Bulukumba memiliki daratan yang luas dan subur terutama di daera Rilau Ale dan Bulukumpa, Gantarang, Kindang, Ujungbulu dan Ujungloe.

Hasil buminya melimpah seperti Padi, jagung, kelapa, kopi, cengkeh dan lain sebagainya.

Panrita: Tana Panrita Lopi, Butta Subur Yang Menyanyikan Lagu Rindu

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *