Review Buku Sejarah Kajang Karya Abdul Haris Sambu

Buku Sejarah Kajang
Buku Tentang Sejarah Kajang

Buku Sejarah Kajang, secara lengkap mengupas mengenai perjalanan histori dengan narasi lengkap kisah kecamatan dengan seragam serba hitam tersebut.

Bumipanritalopi.com, Asal-Usul – Keberadaan Kerajaan Kajang tentu berbeda dengan kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, Kutai, Demak maupun Tarumanegara.

Bacaan Lainnya

Atau ketika kita mencoba menyandingkan dengan Kerajaan Gowa, kerajaan Bone, maupun Luwu yang besar di Sulawesi Selatan.

Meskipun tidak sebesar dari pada kerajaan-kerajaan tersebut. Tetapi hal yang menarik daripada bentuk kepemimpinan monarki ini. Secara sosial masih mampu untuk mengadaptasikan diri dan lahir hingga masih hidup sampai sekarang.

Dengan perkembangan zaman, terdapat beberapa tatanan dan nilai yang telah hilang. Karena realitas sosial yang terjadi di masyarakat Kajang yang dulu sangat berpegang teguh kepada pesan (pasang) ammatoa.

Kini telah bergeser dan harus kita akui bahwa banyak dari mereka (kita) yang telah membuka diri dengan masyarakat luar secara sosial.

Dengan mengembangkan diri dalam upaya untuk menguasai keilmuan dalam perspektif pendidikan.

Sehingga tidak bisa kita pungkiri beberapa budaya mulai mengalami kekaburan. Karena hampir beberapa kebiasaan dan adat istiadat tersebut tidak pernah tersentuh. Bahkan cenderung Terlupakan.

Jika kita mengadopsi pendapat dari Bruno (1987). Menyebutkan pengertian memori atau ingatan adalah sebuah proses mental. Yang meliputi pengkodean penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi dan pengetahuan yang semuanya terpusat dalam otak.

Pada pengertian Bruno ini maka harus ada elemen informasi yang tersimpan dalam otak. Termasuk diantaranya informasi mengenai budaya dan kebiasaan.

Pertanyaannya apakah semua kebiasaan dan budaya yang ada di kecamatan Kajang, telah terpahami oleh seluruh masyarakat Kajang?

Tentu jawabannya tidak semua.

Bahkan bisa jadi orang Kajang sendiri tidak mampu menjabarkan tentang bagaimana format budaya mereka sendiri.

Melihat fenomena tersebut ada sebuah kekhawatiran tentang hilangnya jejak budaya. Ataupun efek asimilasi budaya yang menyebabkan beberapa patahan budaya hilang.

Maka Kejadian ini menginspirasi lahirnya sebuah tulisan dan karya buku monumental dengan judul Sejarah Kajang.

Review Buku Sejarah Kajang

Buku yang ditulis oleh Doktor Abdul Haris Sambu MSI setebal 376 halaman membahas tentang sejarah Kajang.

Buku dengan editor Dr Siti Suadah Rimang M.Hum oleh Yayasan pemerhati sejarah Sulawesi Selatan Indonesia dengan penerbit Lentera Kreasindo. Isbn 9 7 6 6 0 2 1 0 9 0 9 8 5.

ISBN Buku Abdul Haris Sambu
Tulisan Tentang Buku Sejarah Kajang

Membahas secara lengkap tentang bagaimana sejarah Kacang. Dalam sinopsis menyebutkan kerajaan Kajang yang terletak pada ujung kaki Pulau Sulawesi tepatnya di Kabupaten Bulukumba. Mengalami 4 kali perubahan struktur pemerintahan yaitu:

  1. Masa Tumanurung yang hampir bersamaan pada tiga kerajaan tellu bocce di Sulawesi Selatan
  2. Masa Gallarrang, yaitu suatu masa dimana gallarang sebagai pucuk pimpinan dalam suatu komunitas sebagai contoh adat limayya bagi Kerajaan Kajang yang memiliki 5 gallarang. Gallarang Lembang bagi kerajaan Lembang, gelaran laikang bagi kerajaan laikang.
  3. Masa Karaeng, dahulu Kerajaan Kajang terdapat tiga kerajaan yang masing-masing diri secara berdaulat yaitu Kerajaan Kajang yang menganut sistem adat limayya karaeng tallua. Kerajaan Lembang dan kerajaan laikang.
  4. Masa camat yaitu masa suatu sebutan yang berlaku secara nasional bagi pucuk pimpinan kecamatan.

Buku Sejarah Yang Membahas Pengertian Kajang

Pengertian Kajang dalam berbagai versi pada tulisan buku ini menguraikan 3 pengertian Kajang yaitu

  1. Kajang berasal dari nama burung yaitu Burung Koajang. Yang dianut oleh komunitas Kajang hitam atau komunitas ammatoa. Koajang itu terbang dengan kecepatan tinggi (agressif) keatas.
  2. Kajang berasal dari kata sikajariang, atau akkajarian yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan secara sederhana yakni tempat tercipta.
    Dan secara fakta terdapat sebuah kampung di Desa Malleleng yang bernama Tupare yang dapat diartikan sebagai tempat tercipta.
  3. Kajang berasal dari bahasa Melayu yang artinya Sebagai tempat bernaung atau berlindung.
    Hal ini sesuai isi pesan-pesan leluhur yang secara turun-temurun bahwa raja Tellu Boccoe di Sulawesi Selatan:
    Payunga (Payunge, Pajunge) di Luwuk
    Sombayya ri Gowa dan
    Mangkau e ri bone.
    Ketiganya menjadikan ammatoa di Kajang sebagai tempat meminta petuah atau pencerahan dalam menjalankan pemerintahan dan sebagai Pa’La’langan ada tempat berlindung.

Penyebutan Payunge, Sombayya dan Mangkau, hanyalah perbedaan istilah yang sebenarnya bermakna sama. Yakni “Raja”. Sebagaimana laiknya penyebutan Prabu pada kerajaan yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera.

Buku cetakan pertama pada bulan Mei tahun 2016 dengan penggunaan bahasa yang apik dan menarik dengan narasi yang yang lengkap.

Dalam buku yang ditulis dengan apresiasi yang didapatkan dari pemerintah Kecamatan Kajang dan juga dewan aliansi masyarakat adat Nusantara wilayah Sulawesi Selatan.

Panrita Lain Membaca Ini: Pinisi dalam Angka Sakral.

Isi Buku Sejarah Kajang

Membaca narasinya maka kita seperti melakukan sebuah kunjungan wisata dengan dikelilingi oleh seragam sarung hitam. Sebagai sebuah ciri khas dari daerah ini. Baca juga, Tope Le’leng, Dari Nila Untuk Nilai.

Ada beberapa hal yang tertulis di dalamnya, seakan buku ini mengantar kita masuk kedalam hutan yang asri. Luas namun tak tersesat. Karena selalu ada jalan setapak untuk menghubungkan kejadian satu dengan kejadian lainnya.

PENDAHULUAN

Pada bagian awal ini kita akan disuguhkan tentang bayangan bagaimana suku Kajang dengan passapu Ammatoa, yang pada kepemimpinannya adalah memiliki nilai-nilai bijak. Yang identik dengan fatwa pasanga (pesan, aturan) di Kajang.

Bagian pertama membahas tentang latar belakang sejarah.
Dengan 4 masa mulai dari Tau Manurung, Gallarrang, Masa karaeng hingga masa camat.

Bagian kedua dalam pembahasan Bab ini mengupas mengenai asal muasal dan pengertian Kajang, yaitu: Burung koajang, tempat tercipta dan tempat bernaung.

Kemudian bagian ketiga mengupas hubungan Kajang dengan, Tellu boccoe. Sebuah pertalian dari 3 kerajaan, yakni kerajaan Gowa, Bone dan Luwuk.

Apakah orang Kajang bukan beragama Islam?

Keliru.

Sebab pada Bagian keempat dari tulisan tersebut mengupas tentang sejarah masuknya Islam di daerah Kajang, Janggo toayya, Janggo Tojarra dan Tu Asara Daeng Mallipa.

Bersambung dengan masuknya Islam, sehingga pada Bagian 5 menarasikan tentang Interaksi masyarakat Kajang, kepada Allah SWT, Kepada manusia dan kepada lingkungan.

Selanjutnya bagian 6 perkawinan hegemoni: Karaeng Tappau, Datu’ Manila, Pu’ponga.

KONSEPSI MITOS KAJANG

Pada konsepsi mitos Kajang ini membahas tentang struktur pemerintahan di kecamatan Kajang dengan beberapa bagian yang dibahas didalamnya

Bagian pertama keberadaan Ammatoa, mencakup: pecobaan Ammalolo, Pengukuhan Ammatoa dan Pengucapan Ikrar.

Kita mengetahui bersama tentang kepemimpinan daripada suku berkarakter pakaian serba gelap hitam ini adalah amatoa. Namun harus anda ketahui bahwa ammatoa itu tidak serta merta. Melainkan ada Ammalolo.

Amma itu ayah: toa artinya tua, lolo artinya muda. Ammatoa adalah ayah (pimpinan) tua. Ammalolo adalah calon ammatoa.

Ammatoa Dengan Ciri Khas Pakaian Hitam

Konsepsi tomanurung, dengan membahas beberapa bagian, dan tentu ini ada kaitannya dengan kerajaan-kerajaan yang ada di sekeliling ammatoa. Tau Manurung, di Kajang, Luwu, Gowa dan Bone.

Bagian selanjutnya adalah Sawerigading Kemudian membahas Matturaga.

ASAL MULA KERAJAAN KEMBAR

Pada bagian ketiga dari buku tersebut membahas beberapa apa bagian yang mencakup pucuk pimpinan dan pembagian teritorial, serta personil personil yang bertugas dalam pengambilan kebijakan dan keputusan.

Bagian pertama adalah Karaeng Tallua.

Adat limayya selanjutnya menjadi bagian kedua dengan bahasan struktur adat limayya: Gallarrang: Pantama, Kajang, Puto’, Lombok dan Malleleng.

Selanjutnya adat Limayya Di Tanahloheya, Gallarrang Anjuru, Ganta, Sangkala, Sapayya dan Bantalang.

Bagian keempat adat Buttayya.

Sejarah berdirinya Kajang, bagian kelima yang membahas tentang wilayah kerajaan, batas teritorial, dan pusat kerajaan, juga mengupas mengenai struktur pemerintahan.

Pada halaman 103 menuliskan tentang urutan dan nama-nama kerajaan Kajang.

Sejarah berdiri kerajaan lembang, yang membahas pada halaman 126 tentang wilayah kerajaan Lembang. Batas kekuasaan Kerajaan Lembang pusat pemerintahan struktur hingga urutan nama dari karaeng Lembang.

Kerajaan laikang yang merupakan bagian dari penulisan buku ini juga membahas secara lengkap dan terperinci pada halaman 166.

Lalu pada pembahasan berikutnya adalah mengenai hubungan dan interaksi si si daerah Kajang dengan daerah lain, termasuk Bulo-bulo Sinjai, Palangisang Ujung loe, Tamalate Gowa.

Bagian keempat dari buku ini adalah mengupas tentang sejarah penggabungan tiga kerajaan.

SEJARAH PENGGABUNGAN

Yang pada pembahasan lanjut yakni menuliskan tentang bagaimana wilayah Kerajaan Kajang, letak geografis. Tidak hanya sampai di situ tapi juga membahas tentang potensi sumber daya alam.

Adapun potensi sumber daya alam tersebut yaitu terdapat beberapa lahan, yakni: Tegalan, perkebunan rakyat, persawahan, pertambakan negara, pekarangan,

Batas-batas kerajaan Kajang dan pusat Kerajaan Kajang dengan struktur pusat pemerintahan yang menganut sistem demokrasi mereka yang mengacu pada adat salapanga, tidak ketinggalan juga menulis secara terperinci tentang nama-nama Karaeng kajang.

TEMPAT BERSEJARAH

Bagian akhir buku juga tidak luput untuk membahas tempat bersejarah. Memulai Dengan situs bersejarah yang ada di kecamatan Kajang, makam bersejarah, bagan urutan raja-raja dan silsilah karaeng Kajang, lembang, laikang. Dan memasuki masa kemerdekaan maka ada strukturisasi kepemerintahan berupa karaeng atau Camat Kajang.

Terdapat bagan istilah yang terangkum dari silsilah atau Manurunga di Kajang dan Gowa.

Buku tersebut, memberikan sebuah pemahaman tambahan mengenai ke Bulukumbaan, khususnya Kajang dalam sejarah. Dengan peradaban yang lengkap. Membuktikan bahwa daerah ini kaya, sebab penuh dengan karya kultur yang tidak ada habisnya. Seperti Perahu Pinisi sebagai karya monumentalis.

Selain itu kita bisa merasakan bagaimana remasan air laut pada pantai bira dengan pasirnya yang lembut. Untuk anda yang sedang mencari informasi mengenai Kajang, tidak ada salahnya mengolek buku karya Abdul Haris Sambu tersebut.

Sumber Rujukan:

  1. Sejarah Kajang, Sambu, Abdul Haris (2016), Penerbit Lentera Kreasindo dan Yayasan Pemerhati Sejarah sulawesi Selatan.
  2. Ammatoa Yang Bijak, Beritaku.id
  3. Jejak Gemilang di Ammatoa, Liputan6.com

Pos terkait