Alat Tradisional Pemetik Cengkeh, Hadir Di Bumi Panrita Lopi

  • Whatsapp
Alat Tradisional Pemetik Cengkeh
Alat Tradisional Untuk Merontokkan Bunga Cengkeh

Bumi Panrita Lopi Bulukumba, tidak hanya menghasilkan Perahu Pinisi Tradisional, tapi juga Alat Tradisional Pemetik Cengkeh, di Desa Anrihua, Kindang.

Bumipanritalopi.com, Budaya – Selalu ada perubahan menuju kebaikan untuk mencapai taraf hidup lebih baik.

Bacaan Lainnya

Rekonstruksi modernisasi dalam aspek kehidupan berbangsa tidak hanya terjadi dalam dunia birokrasi saja. Pekerja di sawah, gemersik air dari kaki sapi maupun kerbau ketika membajak.

Bahkan, kehadiran revolusi industri 4.0, juga berdampak positif pada pergeseran nilai keilmuan yang bermuara dalam kreatifitas dari kalangan petani. Meski serunai seruling tak berevolusi.

Pada setiap musim-musim tertentu, pada zaman sebelum hadirnya handtraktor. Para petani sawah memanfaatkan tenaga ternak sapi, kuda untuk menyulap sawah menjadi lembab untuk kemudian menanam padi.

Tidak sedikit bahkan, sebagian petani menunggangi kerbau untuk melakukan hal serupa. Jika ini hanya sekedar rekreasi sore hari, maka kenangan itu adalah persembahan alam, harusnya dilestarikan.

Tidak sampai di situ saja, pada saat panen telah tiba, para petani telah sibuk mempersiapkan potongan kayu, macam-macam jenis kayu.

Untuk apa? Adalah untuk menghacurkan potongan-potongan padi hingga biji dan batang padi terpisah.

Pekerjaan ini tentu menguras tenaga dan waktu yang cukup lama. Semua untuk menghasilkan sesuap nasi. Untuk istri, anak dan keluarga.

Namun, semua aktifitas yang terlihat “menzalimi diri” itu berubah begitu cepat. Sejak hadirnya handtraktor dan mesin padi. Sapi dan kerbau diistirahatkan. Kini mesin menjadi pengganti tenaga sapi dan kerbau.

Estimasi waktu menjadi berkurang, tenaga menjadi cukup enteng.

Musim Cengkeh Di Tana Panrita Lopi

Dimusim penghujan tahun ini, setelah selesai padi di panen. Maka selanjutnya, tibalah musim cengkeh.

Khususnya di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang dikenal pusat peradaban cengkeh.

Berpindah dari persawahan ke perkebunan cengkeh, yang sejuk karena daun-daunnya hampir menutupi cahaya matahari.

Sejuk dibawah cengkeh, menikmati udara sore, dengan kopi hitam dan pisang goreng. Atau katabang.

Tanreng Adalah Tangga Petani Sejak Masa Lampau

Untuk menghadapi musim panen cengkeh, pohonnya menjulang, mulai meninggi pertanda semakin dewasa.

Tentu para petani mempersiapkan alat pertanian. Salah satunya adalah Tanreng (bugis: tangga) atau tanreng/Jeka’ (dalam bahasa konjo, tangga).

Ini merupakan bahan atau alat yang tradisional untuk dipergunakan di musim cengkeh, oleh pemetik.

Dibuat dari satu bilah bambu. Dibuat tidak menggunakan sembarang bambu.

Dibutuhkan seleksi bahan dan proses pembuatan yang telaten. Oleh sebab itu, tidak sembarang orang bisa membuat tangga yang proporsional tersebut. Sebab salah dalam melubangi bambu bisa berakibat fatal.

Ada satu komponen dalam proses pembuatan tangga ini, dan itu diperlukan sentuhan khusus yakni palit (pijakan kaki untuk meniti bambu). Satu bilah bambu, terdapat beberapa pijakan kaki dengan jarak yang sudah ditentukan.

Melubangi bambu di posisi lasa atau pertemuan bambu, pemisah bagian satu dengan yang lainnya.

Setelah semua dipastikan aman, maka dimulailah memetik cengkeh. Menggunakan tangga yang dibuat dari satu bilah bambu dengan beberapa pijakan kaki tadi.

Untuk menjadikannya dapat seimbang, maka dibutuhkan tiga unsur tali, dua tali dengan posisi kiri dan kanan pada bagian ujung atas tangga, satu unsur tali terdapat pada bagian 1/4 dari bawah.

Mikpik Cengkeh Dan Nostalgia

Setelah proses pemetikan dilakukan. Maka selanjutnya, mikpik, poca’ (Bahasa Konjo) yang berarti merontokkan bunga dari tangkainya.

Pada fase ini, estimasi waktunya cukup lama, bisa sampai larut malam, bahkan ada yang sampai dini hari baru kemudian proses mikpik nya selesai.

Bisa dibayangkan kelelehannya, setelah seharian memetik cengkeh menggunakan tangga sebilah bambu dilanjutkan pada malam hari dengan mikpik sampai berlarut-larut.

Harusnya beristirahat saat tiba dirumah, namun pemetik cengkeh, siklusnya tidak demikian. Melainkan ada fase penting lainnya yang hukumnya tidak “makruh”. Mikpik atau poca’

Alat Tradisional Pemetik Bunga Cengkeh

Namun, seiring dengan perkembangan modernisasi sebagaimana yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Bahwa konsepsi rekontruksi itu tidak hanya merubah kehidupan sosial dan budaya menjadi semakin tren.

Dipertengahan tahun 2020, ide cemerlang itu muncul dari seorang petani cengkeh di Desa Anrihua, Dusun Pabbambaeng, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jamaluddin.

Dengan pengalaman sebagai tukang kayu, Jamaluddin memanfaatkan keahliannya itu membuat mesin tradisional pemetik bunga cengkeh.

Mesin yang terbuat dari 100 persen kayu ini berguna untuk merontokkan bunga cengkeh dari tangkainya. Mikpik atau Poca’ tidak lagi menjadi pekerjaan yang melelahkan.

Hasil karya Jamaluddin tentu layak mendapat apresiasi dari banyak orang khususnya dikalangan petani cengkeh.

Mesin cengkeh ini dapat mengurangi waktu dan tenaga untuk menrontakan bunga cengkeh dari tangkainya.

“Sebelumnya, kita begadang, dari jam 7 malam sampai jam 2 dini hari untuk ma’poca’ (menrontakan bunga cengkeh dari tangkainya). Tapi Alhamdulillah, setelah Adami ini alat mappocak, jam 8 selesai mi“. Jelasnya

Setelah melalui perbincangan panjang, tim Bumipanritalopi.com kembali menelusuri (melalui Google, YouTube dasn sebagainya) mengenai mesin tradisional seperti yang telah dibuat oleh Jamaluddin.

Fakta yang ditemukan adalah memang mesin tersebut baru muncul diawal desember pada akhir tahun 2019 di luar kabupaten Bulukumba.

Budaya Memetik Cengkeh, di Butta Panrita Lopi kini telah mengalami perubahan, kearah yang lebih baik.

Budaya di Panrita Lopi: Mengenal Suku Kajang, Dipimpin Oleh Ammatoa Yang Bijak

Penulis: IAF Panrita Lopi

Catatan: Tim Bumipanritalopi.com menerima tulisan dan ulasan budaya dan pariwisata. Kirimkan ke Email Redaksi; Bumipanritalopi.com@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *